Nasional
Beranda ยป Berita ยป Pertama Kali Ikut Pameran 2025, Jalan Ekspor Terbuka, Kini Ruma Papua Membidik Pasar Global di TEI 2026

Pertama Kali Ikut Pameran 2025, Jalan Ekspor Terbuka, Kini Ruma Papua Membidik Pasar Global di TEI 2026

Dian Lestari, pemilik UMKM Ruma Papua, memperkenalkan kombucha berbahan lokal Papua di ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten. (Foto: Djoni Satria/ Ruzka Indonesia)

RUZKA INDONESIA, Tangerang โ€“ Tak tampak kesan lelah di wajah Dian Lestari saat memasuki hari ketiga penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Ketika jurnalis Ruzka Indonesia menemuinya di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, Jumat (16/10/2026), perempuan di balik Ruma Papua itu masih bersemangat menceritakan perjalanan kombucha, produk minuman fermentasi berbahan lokal Bumi Cenderawasih, Papua, yang kini mulai menjangkau pasar luar negeri.

Menurutnya, pameran bukan sekadar tempat memperkenalkan produk, melainkan ruang untuk menemukan calon pembeli dan membuka jalan menuju pasar yang lebih luas. Keyakinan itu bukan semata harapan.

Pada keikutsertaan pertama kalinya dalam TEI ke-40 pada 2025, Ruma Papua mulai membuka jalan menuju pasar Papua Nugini. Pengalaman itu menjadi salah satu pijakan bagi Dian untuk kembali mengikuti pameran TEI tahun ini, sekaligus mencari peluang agar kombucha berbahan lokal Papua dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.

Perjalanan bermula dari sebuah gagasan yang diperkenalkan kepada konsumen pada awal 2023. Ketika masyarakat mulai memberi perhatian lebih besar pada gaya hidup sehat setelah pandemi Covid-19, Dian melihat peluang untuk menghadirkan minuman praktis dengan cita rasa berbeda, sekaligus mengangkat bahan-bahan alami dari Papua.

Ruma Papua kemudian mengembangkan kombucha, minuman hasil fermentasi yang bahan dan rasanya dapat disesuaikan dengan kekhasan suatu daerah. Pada produk Ruma Papua, kekhasan itu terletak pada pemanfaatan bahan-bahan lokal, mulai dari buah-buahan hingga tanaman yang tumbuh di Papua. Salah satunya sarang semut, tanaman yang disebut Dian berasal dari Merauke.

Kapolri Silaturahmi ke Ponpes Tebuireng dan Ziarah Makam Gus Dur

Ada pula nanas dari Kabupaten Tolikara, stroberi, lemon lokal dari Jayapura, serta bahan berupa rimpang. Bahan-bahan tersebut menjadi bagian dari upaya Ruma Papua memperkenalkan kekayaan alam Papua melalui produk olahan, bukan hanya sebagai bahan mentah.

Deretan roduk kombucha Ruma Papua berbahan lokal dipamerkan dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD, Tangerang, dengan mengangkat kekayaan alam Papua melalui produk olahan bernilai tambah. (Foto: Ruma Papua)

Kata Dian, mengembangkan produk seperti ini tidak cukup dengan mengandalkan keunikan bahan baku. Produk harus memiliki kualitas yang dapat diterima konsumen di luar daerah asalnya. Ia menyadari, perjalanan dari Papua menuju pasar nasional dan global membutuhkan kerja keras, terutama untuk menjaga kualitas agar mampu bersaing dengan produk lain.

Kesempatan mengikuti ajang TEI ke-41 menjadi salah satu pintu untuk menguji peluang tersebut. Pameran ini mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari berbagai negara.

Bagi Ruma Papua, TEI 2026 ini bukan hanya kesempatan memajang produk, tetapi juga ruang untuk mengetahui tanggapan pasar terhadap kombucha dengan bahan lokal Indonesia.

Dian mengakui sekitar 80 persen pasarnya masih berada di Papua, sedangkan sekitar 20 persen mulai menjangkau kota-kota lain di Indonesia. Kepada Ruzka Indonesia, ia tidak merinci nilai transaksi maupun volume ekspor yang telah terealisasi dengan negara Papua Nugini itu.

Mudzakarah Ajengan PUI 2026 Resmi Dibuka, Ulama PUI Bahas Tiga Persoalan Aktual Umat

Capaian tersebut belum membuat Dian berhenti mencari peluang. Ia ingin produk Ruma Papua dikenal lebih luas di Indonesia, tidak hanya di kota-kota yang selama ini menjadi pusat pemasaran produk, tetapi juga di berbagai daerah dan negara lain. Malaysia dan Singapura turut disebut sebagai pasar yang ingin dijajaki, meski peluang di negara-negara tersebut masih memerlukan tindak lanjut.

Australia menjadi salah satu tujuan penjajakan berikutnya. Saat perbincangan, Dian menjelaskan bahwa ia berencana memetakan pasar di negara tersebut untuk melihat peluang yang mungkin dapat dikembangkan. Artinya, Australia masih berada pada tahap eksplorasi, belum menjadi pasar ekspor yang telah dipastikan bagi Ruma Papua.

TEI 2026 merupakan pameran dagang internasional yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli dari berbagai negara.

Pelaku usaha perlu mengenali kebutuhan calon konsumen, menjaga konsistensi mutu, dan memastikan produknya mampu memenuhi persyaratan pasar tujuan. Bagi usaha yang sedang tumbuh, setiap pertemuan dengan calon pembeli dapat menjadi awal, walau belum tentu langsung berujung pada pesanan.

Mengolah kekayaan lokal menjadi nilai tambah

Pembangunan Masjid Al – Lukman Pantai Karang Papak Cikelet Garut Resmi Dimulai

Di balik upaya memperluas pasar, Dian berkomitmen menempatkan penggunaan bahan dan masyarakat lokal sebagai bagian penting dari perjalanan Ruma Papua. Dalam perbincangan, ia menyebut usaha tersebut mendukung lima petani lokal di Papua yang memasok bahan baku. Beberapa bahan yang digunakan berasal dari wilayah berbeda, sesuai dengan jenis tanaman dan kebutuhan produksi.

Hubungan dengan petani itu menjadi salah satu sisi yang ingin ia pertahankan ketika bisnis berkembang. Bahan alam Papua, menurut Dian, tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kekayaan yang tersedia, tetapi juga sebagai sumber penghidupan yang dapat diolah oleh masyarakat setempat.

Ia juga menaruh perhatian pada keberlanjutan lingkungan. Dian mengingatkan bahwa penebangan pohon tidak hanya menghilangkan satu jenis tanaman, tetapi dapat memengaruhi tumbuhan lain dan satwa yang hidup di sekitarnya.

Karena itu, ia ingin pengembangan usaha berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap alam dan kemampuan masyarakat mengelola sumber daya di wilayahnya sendiri.

Meski demikian, besarnya dampak ekonomi bagi petani masih perlu diukur lebih jauh. Jumlah pemasok yang terlibat belum dengan sendirinya menjelaskan perubahan pendapatan, volume pembelian bahan baku, atau kesinambungan kerja sama.

Hal-hal tersebut menjadi penting untuk melihat seberapa jauh pertumbuhan usaha memberi manfaat yang nyata bagi masyarakat lokal.

Tim penjualan Ruma Papua menjelaskan produk kombucha berbahan lokal Papua kepada pengunjung dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. (Foto: Djoni Satria/ Ruzka Indonesia)

Ruma Papua juga membawa pesan tentang gaya hidup sehat melalui produk yang dikembangkannya. Dian mengatakan bahwa pihaknya aktif memperkenalkan produk dan budaya Papua melalui media sosial. Ia ingin konsumen, terutama generasi muda, semakin mengenal bahan lokal sekaligus memiliki perhatian lebih besar terhadap kesehatan dan lingkungan.

Upaya mengembangkan usaha itu berlangsung di tengah ambisi pemerintah memperluas perdagangan Indonesia. Saat membuka TEI ke-41 pada Rabu (14/10/2026), Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia, yang hadir mewakili Presiden Prabowo Subianto, menekankan pentingnya hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.

โ€œPemerintah menggalakkan ekspor bernilai tambah tinggi melalui hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam. Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,โ€ ujar Bahlil saat membuka perhelatan akbar itu.

Dalam konteks itu, produk seperti kombucha dari Ruma Papua menunjukkan salah satu bentuk pengolahan bahan lokal menjadi produk bernilai tambah. Akan tetapi, keunikan bahan baku dan cerita asal-usul saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan di pasar internasional. Produk tetap harus mampu memenuhi kebutuhan pembeli, menjaga kualitas, dan membangun jalur distribusi yang dapat diandalkan.

Dari peluang menuju pasar yang berkelanjutan

TEI ke-41 digelar pada 14โ€“18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, dengan tema โ€œThe Ultimate Hub for Global Sourcingโ€. Saat pembukaan, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa hingga hari pembukaan tercatat 1.873 peserta pameran dan pembeli dari 134 negara. Pemerintah menargetkan 30.000 pengunjung serta potensi transaksi senilai 17,5 miliar dollar AS.

Pada hari pertama, Kemendag juga merencanakan penandatanganan 168 nota kesepahaman antara eksportir Indonesia dan pembeli dari 22 negara. Angka-angka tersebut menggambarkan skala peluang yang ingin dibuka melalui pameran. Namun, target potensi transaksi dan rencana penandatanganan nota kesepahaman tidak sama dengan nilai ekspor yang sudah terealisasi.

Kemendag turut menyampaikan bahwa Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang, sementara 13 lainnya masih dalam proses perundingan. Untuk mendukung penjajakan bisnis, kementerian memiliki jaringan 46 kantor perwakilan perdagangan di 33 negara. Jaringan tersebut menjadi salah satu saluran yang dapat membantu pelaku usaha mencari informasi pasar dan membangun hubungan dengan calon pembeli.

Bagi Ruma Papua, tantangan selanjutnya adalah mengubah peluang menjadi hubungan bisnis yang berkelanjutan. Pengalaman bertemu pembeli dari Papua Nugini pada TEI 2025 memberi Dian pijakan untuk kembali mengikuti pameran tahun ini. Kini, ia ingin memperluas pasar tanpa meninggalkan bahan lokal yang menjadi ciri produknya.

Perjalanan itu masih memerlukan kerja panjang, mulai dari menjaga kualitas, memastikan kesiapan produksi, hingga menindaklanjuti minat calon pembeli. Penjajakan ke Australia pun masih menjadi pekerjaan yang harus dilalui sebelum dapat disebut sebagai pasar yang berhasil ditembus.

Dian membawa harapan agar cita rasa dari Papua dapat dikenal lebih luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Baginya, produk yang dikembangkan dari bahan lokal dapat menjadi cara untuk memperkenalkan kekhasan daerah kepada konsumen yang lebih luas.

Dari pertemuan di TEI 2025, jalan menuju Papua Nugini mulai terbuka. Di TEI 2026, Dian kembali mencari kemungkinan berikutnya. Seberapa jauh peluang itu akan berkembang pada akhirnya ditentukan bukan oleh ramainya pameran atau besarnya target transaksi, melainkan oleh kemampuan Ruma Papua menjaga mutu, memenuhi kebutuhan pasar, dan mengubah pertemuan bisnis menjadi perdagangan yang nyata. (***)

Journalist/ Editor: Djoni Satria

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom