Kolom
Beranda ยป Berita ยป Pengaruh Sastra dan Budaya pada Perfilman Nasional

Pengaruh Sastra dan Budaya pada Perfilman Nasional

Flayer Diskusi Film Horor dan Launching Film Rarangken. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)
Fenomena yang terjadi dengan menurunnya minat penonton uang menyaksikan pemutaran film layar lebar, ditengarai dengan adanya beberapa situasi yang berkaitan erat dengan perkembangan teknologi digital melalui media-media sosial yang sekarang marak berkembang di Indonesia dan juga dunia serta teknologi AI (Artificial Intelengece).

RUZKA INDONESIA — Era tahun 1980 hingga 90-an dan 2000-an, kondisi perfilman Indonesia masih mengalami masa kejayaan yang signifikan.

Memasuki tahun 2020 hingga 2026 saat ini, dunia perfilman Indonesia, khususnya film layar lebar, mulai mengalami penurunan peminat untuk datang dan menyaksikan pemutaran film di Gedung-gedung bioskop.

Hal ini bisa dilihat dari penuhnya Gedung-gedung bioskop yang diminati penonton.

Fenomena yang terjadi dengan menurunnya minat penonton uang menyaksikan pemutaran film layar lebar, ditengarai dengan adanya beberapa situasi yang berkaitan erat dengan perkembangan teknologi digital melalui media-media sosial yang sekarang marak berkembang di Indonesia dan juga dunia serta teknologi AI (Artificial Intelengece).

Meski film-film layar lebar itu sendiri juga ikut merambah masuk ke dunia digital, namun persaingan dengan perfilman yang dibuat melalui AI sangat tidak presisi dan tidak seimbang.

Catatan Cak AT: Suara Palestina di Pemilu Israel

Tidak Patah Semangat

Perkembangan perfilman di Indonesia tampaknya harus mengikuti perkembangan digitalisasi yang menuntut pemikiran serta eksplorasi tentang dunia hiburan secara universal.

Negara-negara seperti Korea Selatan, China dan Amerika, sudah melirik pasar perfilman internasional secara massif.

Sudah barang tentu peran teknologi seperti AI menjadi kemasan yang memiliki pengaruh kuat untuk memikat penontonnya karena film-film tersebut dapat diakses melalui telepon genggam atau Handphone yang hampir dimiliki seluruh penduduk di dunia ini.

Meski demikian, secara idealis, para pelaku perfilman Indonesia tidak patah semangat.

Pada kesempatan diskusi ini telah dibuat sebuah film dengan tema yang memadukan unsur budaya dan mistis yang berjudul Rarangken.

Catatan Cak AT: Seni Membongkar Kedok Kebohongan

Sebuah kisah tentang seorang perempuan dari tanah Sunda bernama Rarang.

Dikisahkan, Rarang seorang perempuan misterius yang sudah menghilang puluhan tahun, ia pergi tanpa meninggalkan jejak setelah dituduh menjadi penyebab dari sebuah tragedy di desa tersebut.

Dan, tokoh bernama Ratri (24 th) yang berasal dari desa yang sama bersama teman-temannya diajak ke desa tersebut untuk membuat penelitian tentang benda-benda keramat yang ada di rumah orangtua Ratri.

Tema Budaya

Lalu apa yang terjadi? Kisahnya bisa kalian tonton di film ini.

Tema budaya berbaur mistik menjadi topik menarik dari masa ke masa untuk menarik minat penonton untuk melihatnya.

Apakah ada sisi psikologis untuk menarik perhatian penoton Indonesia untuk sejenak mengalihkan perhatian mereka dari film-film dengan teknologi AI yang ditulis berdasarkan skenario dengan mendata dan mensurvei minat penonton di seluruh dunia, semuanya terletak pada pelaku perfilman Indonesia untuk melihat perkembangan perfilman yang terjadi di dunia khususnya Indonesia saat ini.

Sedangkan pengaruh dunia sastra dan budaya pada perfilman Nasional, tentu saja sangat erat kaitannya, sebab banyak dari film-film Indonesia yang diadaptasi dari karya-karya sastra yang ditulis oleh para sastrawan masa lalu dan kini.

Catatan Cak AT: Ngokop Kabinet

Contohnya seperti film Badai Pasti Berlalu berdasarkan novel Marga T, film Sang Penari diangkat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya karya Ahmad Tohari, Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk dirilis pada 2013, Jalan Tak Ada Ujung novel karya Mochtar lubis pada 2025, dan film-film lainnya.

Dunia sastra khususnya novel dan cerita pendek telah diadaptasi sedemikian dalam untuk dijadikan sebuah film, meski terkesan idealis, namun masih memiliki nilai jual yang signifikan seperti film Badai Pasti Berlalu dan Di Bawah Lindungan Kaโ€™bah karya Hamka.

Cerminan budaya Indonesia sangat kental terlihat di film-film tersebut, contohnya seperti film yang berjudul Sang Penari digarap pada tahun 2011.

Terus Berkarya

Meski memasuki tahun 2020 hingga 2026 saat ini, dunia perfilman Indonesia, khususnya film layar lebar, mulai mengalami penurunan peminat untuk datang dan menyaksikan pemutaran film di Gedung-gedung bioskop.

Fenomena yang terjadi tidak menurunkan minat para pelaku perfilman Indonesia untuk terus berkarya.

Mereka tidak patah semangat. Seperti contoh pada film yang berjudul Raranken ini, film berdasarkan budaya Sunda yang berbau mistik ini menjadi topik menarik dari masa ke masa untuk disaksikan.

Dengan ditayangkannya film ini, semoga perfilman Indoesia semakin maju dan tetap diminati para penontonnya. (***)

Penulis: Fanny J. Poyk
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom