RUZKA INDONESIA โ Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta yang juga pemerhati pendidikan Fahira Idris mengapresiasi pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 yang saat ini masih berlangsung di berbagai satuan pendidikan. Menurut Fahira Idris, MPLS Ramah menjadi langkah penting untuk mengubah wajah masa pengenalan sekolah menjadi lebih aman, menyenangkan, inklusif, dan memuliakan setiap murid.
Fahira Idris menilai, MPLS Ramah 2026 sudah berada pada arah yang tepat karena menempatkan anak sebagai pusat pendidikan. Sekolah tidak hanya mengenalkan ruang kelas, guru, teman, tata tertib, dan lingkungan sekolah, tetapi juga mulai mengenali potensi, kebutuhan, karakter, kondisi sosial-emosional, serta kesiapan belajar murid baru.
โSaya mengapresiasi MPLS Ramah 2026. Ini bukan sekadar agenda awal tahun ajaran, tetapi pintu pertama anak mengenal sekolah sebagai rumah kedua. Anak harus merasa aman, diterima, dihargai, dan gembira sejak hari pertama,โ ujar Fahira Idris di Jakarta, Jumat (17/07/2026).
Menurut Senator Jakarta ini, semangat MPLS Ramah juga penting karena menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi perpeloncoan, kekerasan fisik maupun psikologis, pungutan yang memberatkan, atribut yang tidak edukatif, kegiatan yang tidak relevan, maupun pelibatan pihak yang tidak semestinya.
Meski demikian, Fahira Idris menilai pelaksanaan MPLS Ramah 2026 perlu menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan pada 2027 semakin kuat, merata, dan berdampak. Menurutnya, keberhasilan MPLS tidak cukup diukur dari selesainya kegiatan lima hari, tetapi dari apakah budaya ramah anak benar-benar berlanjut sepanjang tahun ajaran.
Untuk itu, Fahira Idris menyampaikan tujuh rekomendasi penguatan untuk MPLS Ramah 2027.
Pertama, memperkuat evaluasi berbasis pengalaman murid. Sekolah perlu memastikan evaluasi tidak hanya administratif, tetapi juga menggali apakah murid merasa aman, diterima, berani bertanya, mengenal teman, memahami tata tertib, serta mengetahui kanal pengaduan.
โSuara anak harus menjadi bagian dari evaluasi. Kita perlu tahu apakah anak benar-benar merasa senang, aman, dan siap belajar,โ ujarnya.
Kedua, memperkuat pengawasan dan kanal pengaduan. Pemerintah daerah, dinas pendidikan, sekolah, dan komite sekolah perlu memastikan setiap laporan dugaan perundungan, kekerasan, pungutan, atau kegiatan tidak relevan ditindaklanjuti cepat, transparan, dan berpihak pada perlindungan anak.
Ketiga, memperkuat kesiapan guru dan panitia MPLS. Guru, tenaga kependidikan, dan murid pendamping harus memahami prinsip ramah anak, komunikasi positif, pencegahan perundungan, pendampingan anak baru, serta pendekatan inklusif bagi murid dengan kebutuhan berbeda.
โPanitia MPLS, selain berperan sebagai pengatur kegiatan, juga fasilitator transisi anak memasuki lingkungan baru,โ kata Fahira Idris.
Keempat, memperkuat keterlibatan orang tua sejak pra-MPLS hingga pasca-MPLS. Orang tua harus menjadi mitra aktif sekolah, mulai dari memahami tujuan, jadwal, larangan, kanal pengaduan, hingga membantu sekolah mengenali minat, bakat, kesehatan, dan kebutuhan dukungan anak.
Kelima, memperkuat pemerataan kualitas MPLS di semua daerah dan jenjang. MPLS Ramah harus dirasakan semua anak, baik di TK, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, sekolah negeri, sekolah swasta, maupun sekolah dengan keterbatasan sarana.
โSemua anak, di mana pun sekolahnya, berhak mendapatkan pengalaman awal sekolah yang aman, menggembirakan, dan bermakna,โ ujarnya.
Keenam, memperkuat materi karakter yang relevan dengan tantangan anak hari ini. Materi seperti rukun dengan teman, literasi digital, pencegahan perundungan, bahaya NAPZA, judi online, kecanduan gim, kesehatan mental, keselamatan diri, kebersihan lingkungan, dan kebiasaan hidup sehat perlu terus diperkuat dengan metode yang menyenangkan dan sesuai usia.
Ketujuh, memastikan nilai MPLS Ramah menjadi budaya sekolah sepanjang tahun. Fahira Idris menegaskan, semangat ramah anak tidak boleh berhenti setelah MPLS selesai.
Nilai aman, nyaman, inklusif, bebas kekerasan, rukun dengan teman, hidup bersih, sopan bermedia sosial, dan menghargai perbedaan harus menjadi budaya harian sekolah.
โTerima kasih kepada guru, kepala sekolah, orang tua, dinas pendidikan, dan seluruh pihak yang telah mendampingi anak-anak dalam MPLS Ramah 2026. Semoga MPLS 2027 dan di tahun mendatang semakin kuat, inklusif, dan berdampak bagi tumbuh kembang anak Indonesia,โ pungkas Fahira Idris. (***/Jie)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com






Komentar