RUZKA INDONESIA — Universitas Indonesia (UI) melalui Direktorat Humas, Media, Pemerintah dan Internasional (DHMPI) menggelar Rapat Koordinasi Humas se-Universitas Indonesia (UI) di Ruang Apung Perpustakaan UI, pada Senin (28/09/2026).
Agenda yang diikuti jajaran pranata humas dari seluruh fakultas, sekolah, dan unit kerja khusus (UKK) di lingkungan UI ini bertujuan memperkuat fungsi strategis humas dalam membangun reputasi institusi, mengelola komunikasi publik, memperkuat keterbukaan informasi, serta meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi isu dan krisis, sejalan dengan tema โSatu Suara, Satu UI: Sinergi Narasi Wujudkan UI Unggul dan Impactfulโ.
Membuka kegiatan tersebut, Kepala Badan Kewirausahaan dan Hubungan Antar Lembaga sekaligus Sekretaris Universitas, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG., Subsp. F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, menegaskan bahwa humas memiliki peran yang jauh melampaui fungsi publikasi.
Menurutnya, humas harus mampu melihat institusi secara menyeluruh (helicopter view), menjadi pengelola narasi strategis, sekaligus penguat identitas universitas di ruang publik.
โHumas bukan hanya penyampai informasi, tetapi publisher, amplifier, sekaligus brand ambassador yang berkontribusi dalam mewujudkan UI sebagai zona ekonomi berbasis pengetahuan,โ ujarnya.
Hadir Sejumlah Narasumber
Rakor Humas se-UI 2026 turut menghadirkan sejumlah narasumber dengan kepakaran di bidang komunikasi, kehumasan, dan keterbukaan informasi publik. Hadir dalam agenda ini Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia; Sasti Hapsari Nurdiana, Founder & CEO EshaComms sekaligus ICF-Certified Communication Coach dan konsultan komunikasi; serta Joemarthine Chandra, S.H., M.H., C.Med., anggota Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia.
Kehadiran para narasumber tersebut memberikan perspektif yang komprehensif mengenai tantangan, peluang, serta arah pengembangan kehumasan perguruan tinggi di tengah lanskap komunikasi yang semakin dinamis.
Dalam pemaparannya, Arif Mujahidin menyoroti perubahan lanskap komunikasi yang semakin kompleks, ketika setiap individu dapat menjadi penerbit informasi dan turut membentuk persepsi publik.
Ia menekankan pentingnya kemampuan humas dalam memilah antara voice dan noise, menerjemahkan pengetahuan institusi menjadi relevansi publik, serta mengelola reputasi melalui pendekatan Shield, Shine, dan Sense.
โIf we donโt communicate, other people will communicate on behalf of us. Karena itu, humas tidak cukup hanya mengomunikasikan sebuah peristiwa, tetapi harus mampu mengomunikasikan makna dan dampaknya bagi publik,โ tegas Arif, yang merupakan alumni HI FISIP UI angkatan 1985 tersebut.
Pentingnya Pendekatan Komunikasi
Sementara itu, Sasti Hapsari Nurdiana menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang berpusat pada manusia (human-centered communication). Menurutnya, setiap anggota organisasi merupakan wajah institusi yang turut membangun kepercayaan publik.
Dia menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif bertumpu pada tiga komponen utama, yakni stakeholder management, storytelling, dan delivery, yang saling melengkapi dalam membantu komunikator memahami audiens, membangun narasi yang relevan, serta menyampaikan pesan secara tepat kepada pemangku kepentingan.
Sasti juga memperkenalkan CTA Framework yang terdiri atas empat unsur, yaitu Realita, Ide, Bukti, dan Call to Action (RIBC), sebagai panduan guna menyusun komunikasi yang sistematis dan efektif.
โKomunikasi yang baik bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga memahami siapa audiens yang kita hadapi dan bagaimana pesan dapat diterima dengan baik,โ ujarnya.
Perspektif mengenai pentingnya keterbukaan informasi disampaikan oleh Joemarthine Chandra.
Ia menjelaskan bahwa keterbukaan informasi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi kepercayaan publik dan bagian integral dari tata kelola perguruan tinggi yang baik (good university governance).
Ia juga mengingatkan bahwa transparansi tidak selalu berarti membuka seluruh informasi, melainkan memastikan publik memperoleh informasi yang tepat, akurat, dan relevan sesuai kebutuhan.
Satu Pintu, Satu Suara
Pada sesi penutup, Direktur DHMPI UI, Dr. Erwin Panigoro, memaparkan arah strategis pengembangan kehumasan UI ke depan.
Fokus tersebut meliputi penguatan kapasitas SDM humas melalui sertifikasi profesi, pembaruan basis data pakar UI, optimalisasi kolaborasi konten lintas unit, pengembangan program Makara Bicara, hingga penerapan prinsip โsatu pintu, satu suaraโ dalam pengelolaan isu-isu strategis.
Selain itu, DHMPI juga mendorong pengembangan kemampuan data analytics, open-source intelligence (OSINT), serta pembentukan early warning system untuk mendukung mitigasi risiko reputasi.
โKita ingin seluruh jejaring humas UI memiliki ritme kerja yang sama, berbasis data, terkoordinasi, dan mampu merespons isu secara cepat dan tepat,โ katanya.
Sinergi yang terbangun melalui semangat Satu Suara, Satu UI diharapkan semakin memperkuat posisi UI sebagai universitas unggul dan impactful, sekaligus menghadirkan informasi yang kredibel, transparan, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, humas tidak hanya menjadi pengelola komunikasi institusi, tetapi juga penghubung antara pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi dengan kebutuhan publik serta pembangunan bangsa. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah



Komentar