RUZKA INDONESIA — Pemerintah Kota (Pemkot) Depok bersama Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES) Jawa Barat (Jabar) mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung percepatan eliminasi AIDS, tuberkulosis, dan malaria (ATM) pada 2030.
Adapun upaya tersebut dibahas dalam Pertemuan Penguatan Forum Kemitraan OPD Non-Dinkes dan Corporate Social Responsibility (CSR) yang digelar di Aula Sapa Saba di Balai Kota, Kota Depok, Kamis (15/10/2026).
Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut permohonan fasilitasi ADINKES Jabar dalam mendukung percepatan eliminasi AIDS, TBC, dan malaria.
Forum ini melibatkan unsur organisasi perangkat daerah (OPD) di luar Dinas Kesehatan serta pihak swasta melalui program CSR.
Kepala Bapperida Kota Depok, Dadang Wihana, mengatakan penanganan ATM perlu diarahkan pada langkah konkret yang dapat diterapkan di lapangan.
TBC Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Salah satu yang menjadi perhatian adalah Tuberkulosis (TBC) yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah dalam penanganan kesehatan di Depok.
โTadi saya usulkan untuk TBC perlu ada intervensi dengan pola-pola pendekatan seperti pada waktu penanganan COVID-19, dengan sistem prevent, detect, dan respond,โ ujar Dadang.
Ia mengusulkan agar pola tersebut diuji melalui satu proyek percontohan (pilot project) di kelurahan dengan tingkat prevalensi TBC yang tinggi.
“Penanganan secara komprehensif di satu wilayah dapat menjadi langkah konkret agar hasil upaya pengendalian TBC lebih terukur,” jelas Dadang.
Selain TBC, Dadang menyebut HIV/AIDS juga menjadi bagian yang perlu mendapatkan perhatian dalam penanganan kesehatan di Kota Depok.
Sementara untuk malaria, lanjutnya, Depok bukan merupakan daerah endemi, meski kasus tetap ditemukan pada titik-titik tertentu.
โMalaria ada, tapi kita bukan daerah endemi. Penderitanya ada di titik-titik tertentu karena mungkin berpindah dari Papua atau dari wilayah lain,โ ungkap Dadang.
Kendalikan Sektor Kesehatan
Dari sisi ADINKES Jawa Barat, Rusli menekankan bahwa pengentasan ATM tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan.
Namun, diperlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari perangkat daerah, Bappeda, Dinas Sosial, kecamatan, kelurahan, organisasi masyarakat, hingga pihak swasta melalui program CSR.
Ia menambahkan, perencanaan penanganan kesehatan di Kota Depok dinilai sudah relatif tertata.
Sejumlah program dan anggaran kesehatan telah masuk dalam perencanaan daerah, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan ATM.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya mengatasi AIDS, TBC, dan malaria hingga mencapai target eliminasi pada 2030.
โAdanya kontribusi multipihak sesuai dengan perannya masing-masing, sehingga kita bisa menyelesaikan ini sesuai dengan kapasitasnya,โ pungkas Rusli. (***)
Jurnalis: Risjaddin Muhammad
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar