Kolom
Beranda ยป Berita ยป Catatan Cak AT: Bukan Sekadar Turun

Catatan Cak AT: Bukan Sekadar Turun

Foto ilustrasi Catatan Cak AT: Bukan Sekedar Turun. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

Jumlah santri menurun tajam. Regulasi bertambah. Ada yang tak beres antara kebijakan dan kenyataan.

RUZKA INDONESIA — Angka itu jatuh seperti daun di musim kemarau yang tak kenal belas kasihan. Dari lebih 4,8 juta, jumlah total santri se-Indonesia perlahan menyusut hingga tinggal sekitar 1,3 juta dalam rentang empat tahun.

Bukan sekadar turun. Ini seperti lift yang kabelnya putus, meluncur bebas tanpa sempat menekan tombol darurat.

Dunia pesantren, yang selama ini kita anggap sebagai benteng terakhir moral bangsa, tiba-tiba tampak seperti benteng tanpa penjaga.

Padahal, kalau bicara โ€œniat baik negaraโ€, rasanya sudah seperti hidangan prasmanan di acara pernikahan: melimpah. Ada Undang-Undang Pesantren Nomor 18 Tahun 2019 yang menjanjikan pengakuan, afirmasi, dan fasilitasi.

Catatan Cak AT: Negeri di Ujung Nafas

Bahkan, di era pemerintahan Prabowo Subianto, disiapkan direktorat jenderal khusus pesantren di Kementerian Agama. Lengkap.

Formal. Megah di atas kertas. Tapi anehnya, semakin banyak regulasi, semakin sedikit santri. Ini seperti orang yang beli alat fitness mahal, tapi makin jarang olahraga.

Lalu kita mulai bertanya, dengan nada setengah curiga: jangan-jangan justru di sinilah masalahnya?

Ketika pesantren terlalu โ€œdiurusโ€, jangan-jangan ia pelan-pelan kehilangan daya hidup organiknya.

Panggilan Iman

Dulu orang tua mengirim anak ke pesantren karena panggilan iman. Sekarang mereka mulai berhitung seperti investasi: berapa biaya, apa output, dan apakah bisa bersaing dengan sekolah umum?

Surat Terbuka buat Presiden Prabowo: Benar, Kami Tidak Pakai Dolar. Tapi Mengapa Biaya Hidup Kami Makin Mahal?

Nah, di titik ini kondisi ekonomi masuk seperti tamu tak diundang. Pasca pandemi Covid-19, banyak keluarga belum benar-benar pulih.

Menyekolahkan anak ke pesantren bukan sekadar bayar SPP, tapi paket lengkap: asrama, makan, kitab, dan uang saku.

Sementara di sekolah, apalagi yang negeri? Gratis atau nyaris gratis. Bahkan anak masih bisa bantu orang tua, jadi ojek online, bantu kelola warung, atau minimal menjaga adik di rumah. Rasionalitas ekonomi bekerja tanpa perlu fatwa.

Pertanyaan berikutnya lebih menggelitik: apakah siswa sekolah umum juga turun? Data nasional justru menunjukkan tren yang relatif stabil, bahkan di beberapa jenjang meningkat.

Artinya, ini bukan sekadar krisis demografi atau penurunan jumlah anak usia sekolah. Penurunan jumlah siswa ini spesifik: pesantren jangan-jangan sedang kehilangan daya tariknya di mata sebagian masyarakat.

Catatan Cak AT: Dolar Desa

Di sinilah kita perlu jujur, meski sedikit pahit di lidah. Pesantren menghadapi tantangan internal yang tidak kecil. Kurikulum yang kadang terasa jauh dari kebutuhan zaman, fasilitas yang belum merata.

Stigma lama masih bercokol, bahwa lulusan pesantren โ€œkurang kompetitifโ€ di dunia kerja modern.

Di era ketika anak SMP sudah bicara coding dan AI, sebagian pesantren masih sibuk memperdebatkan kitab kuning tanpa jembatan ke realitas kontemporer.

Jangan Salahkan Pesantren

Namun, jangan buru-buru menyalahkan pesantren sepenuhnya. Ini juga soal perubahan selera sosial. Masyarakat kita kini hidup di zaman โ€œkecepatanโ€. Semua harus instan, terukur, dan terlihat hasilnya.

Pesantren, dengan ritmenya yang lambat dan kontemplatif, sering kalah pamor dari sekolah yang menjanjikan sertifikat, keterampilan praktis, dan peluang kerja cepat. Spiritualitas kalah oleh spreadsheet.

Ironisnya, justru di saat krisis moral global semakin terasa โ€” korupsi merajalela, etika publik runtuh, kejujuran jadi barang langka โ€” lembaga yang sejak awal didesain untuk membentuk akhlak malah ditinggalkan.

Ini seperti orang yang membuang payung saat langit mulai gelap, karena merasa belum hujan.

Maka, mungkin masalahnya bukan sekadar โ€œkurang apa lagi?โ€ tapi โ€œapa yang salah arah?โ€

Negara boleh membuat undang-undang, membentuk direktorat, bahkan mengucurkan anggaran. Tapi jika ruh pesantren โ€” keikhlasan, kedekatan dengan masyarakat, dan relevansi dengan zaman โ€” tidak dijaga, semua itu hanya akan menjadi dekorasi birokrasi.

Peristiwa ini mengajarkan kita satu hal yang sering kita lupa: tidak semua yang bisa diatur akan hidup, dan tidak semua yang hidup bisa diatur.

Pesantren sejak awal tumbuh bukan dari regulasi, tapi dari kebutuhan ruhani masyarakat.

Ketika kebutuhan itu berubah, atau tidak lagi terpenuhi, maka yang terjadi bukan sekadar penurunan angka โ€” melainkan pergeseran peradaban.

Dan angka-angka penurunan jumlah santri itu, pada akhirnya, bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin. Kadang retak, kadang buram, tapi selalu jujur. Tinggal kita berani atau tidak menatapnya. (***)

Penulis: Cak AT – Ahmadie Thaha/Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 20/5/2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

07

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

Sorotan






Kolom