RUZKA INDONESIA — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Adventhius Immanuel Karo Karo (Fakultas Hukum, 2023) dan Dania Zahra Ayusti (Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 2025) yang mewakili DKI Jakarta berhasil meraih penghargaan Terbaik I dalam ajang Duta Bahasa Nasional 2026.
Adapun Bahasa Nasional 2026 diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI), pada Jumat (18/09/2026).
Kompetisi Duta Bahasa Nasional merupakan wadah prestisius bagi generasi muda tanah air untuk menjadi representasi pilar trigatra bangun bahasa: mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
Para duta bahasa diproyeksikan sebagai mitra pemerintah dalam mengembangkan dan mengimplementasikan program kebahasaan kepada masyarakat luas.
Immanuel menjelaskan tahapan seleksi yang dilalui sejak tingkat provinsi hingga nasional.
โAda beberapa tahapan seleksi yang kurang lebih sama antara tingkat daerah dan nasional, mulai dari krida atau program kerja, tuturloka (pidato Bahasa Indonesia), penampilan talenta, tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), tes psikologi, membuat video konten, hingga artikel,โ ungkapnya.
Latar Belakang Motivasi
Dania dan Immanuel juga berbagi mengenai latar belakang motivasi mereka. Immanuel menuturkan bahwa isu pendidikan berkualitas bagi anak-anak yang berkonflik dengan hukum menjadi perhatian utamanya.
โBeberapa bulan lalu saya melihat kondisi anak-anak yang berkonflik dengan hukum. Banyak dari mereka belum bisa membaca dan rendah kemampuan literasinya. Karena itu, saya terdorong untuk menjadi duta bahasa, agar dapat memperjuangkan penggunaan Bahasa Indonesia dalam dunia pendidikan secara luas, sekaligus mengenalkannya ke kancah internasional,โ jelasnya.
Sementara itu, Dania menekankan kecintaannya pada dunia sastra sejak SMA.
โSewaktu duduk di bangku SMA saya memelopori berdirinya ekstrakurikuler Bahasa Indonesia pertama di sekolah karena jatuh cinta dengan bahasa ini,โ ujarnya. Sebagai mahasiswa FEB UI, Dania juga melihat tantangan literasi finansial di kalangan anak muda. โDi era teknologi finansial, banyak anak muda belum melek literasi finansial karena kesulitan mengonversi angka menjadi narasi. Karena itu, saya ingin menjadi perpanjangan tangan masyarakat dalam isu kebahasaan dan literasi, terutama literasi finansial,โ tuturnya.
Di tingkat nasional, keduanya menggagas ide krida bertajuk RASA (Ruang Bahasa dan Budaya Nusantara), sebuah program penginternasionalan Bahasa Indonesia secara kontekstual. Gagasan ini berangkat dari temuan mereka bahwa banyak orang asing yang belajar Bahasa Indonesia tidak memiliki ruang interaktif untuk mempraktikkannya.
“Di Krida RASA, kami mengajak teman-teman dari lintas negara, seperti Pakistan, Palestina, dan Tailan, untuk belajar Bahasa Indonesia melalui kuliner khas Jakarta,โ jelas Immanuel.
Gunakan Sistem Pos
Oleh keduanya, program ini diimplementasikan menggunakan sistem pos, yaitu metode pembelajaran yang dibagi ke dalam beberapa tahapan atau โposโ yang harus dilalui peserta secara berurutan.
Setiap pos menghadirkan aktivitas berbeda, sehingga peserta dapat belajar Bahasa Indonesia secara kontekstual sambil berinteraksi langsung dengan budaya kuliner khas Jakarta.
Pada pos pertama, peserta diperkenalkan dengan kosakata Bahasa Indonesia melalui bumbu dapur pembuatan soto Betawi dan bir pletok.
Pos kedua mengajak mereka menyimak penjelasan juru masak, lalu di pos ketiga peserta diajak memasak soto Betawi dan membuat bir pletok dengan panduan buku saku. Pos keempat menjadi titik evaluasi bagi seluruh rangkaian kegiatan.
Buku saku yang disiapkan juga memuat sejarah soto Betawi, cara pembuatan, serta penjelasan kuliner ini dalam konteks internasional.
“Kami bahkan menambahkan rekomendasi restoran soto Betawi di Jakarta agar peserta bisa mempraktikkan Bahasa Indonesia di sana,โ terang Immanuel.
Keterbatasan Waktu Jadi Tantangan
Perjalanan meniti tangga juara tidak lepas dari tantangan. Immanuel menuturkan bahwa komunikasi menjadi kendala karena harus meminta masukan dari banyak pihak untuk memaksimalkan krida yang diusung.
“Kami belajar menurunkan ego dan mengingat tujuan utama: membawa nama baik DKI Jakarta dan UI ke kancah nasional. Syukurnya kerja sama itu berbuah manis,โ ujarnya.
Keterbatasan waktu turut menjadi tantangan besar. โKami hanya punya tiga minggu untuk menyiapkan semuanya. Latihan pun terbatas. Tapi itu mengajarkan kami berkorban dan belajar lebih giat,โ jelasnya.
Sebagai penutup pesan mereka, Dania dan Immanuel menegaskan bahwa masa depan bahasa bergantung pada generasi muda.
โApakah Bahasa Indonesia akan berkembang atau mundur, itu ditentukan oleh penuturnya. Sebagai generasi muda, kita yang menentukan arah bahasa ini,โ pungkas Immanuel.
Keberhasilan Dania dan Immanuel menegaskan krusialnya peran mahasiswa UI sebagai ujung tombak literasi dan kebahasaan nasional.
Perkuat Posisi Sebagai Universitas Riset
Melalui prestasi ini, UI memperkuat posisinya sebagai universitas riset berkelas dunia yang menghasilkan pemimpin muda yang mampu mengadvokasikan isu kebahasaan di tingkat nasional dan internasional.
Capaian ini menjadi bukti kontribusi nyata UI dalam menjaga keberlanjutan bahasa sebagai identitas bangsa sekaligus memperluas dampak sosial bagi masyarakat. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdh Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar