Di tengah semakin dinamisnya ekosistem halal digital, Indonesia Digital Halal Brand Awards (IDHBA) 2026 menggunakan rangkaian observasi dan riset untuk memetakan performa brand halal. Prosesnya dimulai dari identifikasi, observasi, evaluasi berdasarkan data publik, hingga pengukuran sebagai dasar penghargaan.
RUZKA INDONESIA โ Ketika sebuah brand halal hadir di ruang digital, bagaimana sebenarnya performanya dipetakan?
Pertanyaan tersebut menjadi penting seiring perubahan perilaku masyarakat dalam mengenali dan berinteraksi dengan sebuah brand. Perkembangan ekosistem halal digital membuat keberadaan sebuah brand tidak hanya berlangsung melalui produk, tetapi juga melalui berbagai aktivitas dan kehadirannya di ruang digital.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari penyelenggaraan Indonesia Digital Halal Brand Awards (IDHBA) 2026 yang digelar Halaltoday.id bersama Yayasan Khazanah GNH dengan mengusung tema โEmpowering Halal Brands in The Digital Eraโ, berlangsung di Blue Sky Hotel, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Industri halal Indonesia sendiri mencakup sejumlah sektor, mulai dari kuliner halal, fashion muslim, skincare halal, travel muslim, pendidikan, keuangan syariah, hingga berbagai brand lokal dan UMKM halal.
Dalam penyelenggaraan IDHBA 2026, pendekatan yang digunakan bukan sekadar melihat keberadaan sebuah brand. Program ini menggunakan Halal Digital Brand Observation and Research untuk memetakan brand halal yang menunjukkan kinerja digital.
Lantas, bagaimana proses tersebut dilakukan?
Dimulai dari Identify
Lisa Noviani, Direktur DINAMIC Marketing Research Service, menjelaskan bahwa proses riset IDHBA 2026 dilakukan melalui sejumlah tahapan.
Tahap pertama adalah Identify, yakni mengamati brand dengan performa positif. Setelah proses identifikasi, dilakukan observasi terhadap eksistensi dan aktivitas digital brand.
Tahapan berikutnya adalah evaluasi berdasarkan data publik. Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan Recognize, yaitu pengukuran yang menjadi dasar penghargaan.
Dengan demikian, proses riset IDHBA 2026 berlangsung secara bertahap, mulai dari menemukan brand yang menjadi objek pengamatan, melihat eksistensi serta aktivitas digitalnya, melakukan evaluasi berdasarkan data publik, hingga melakukan pengukuran sebagai dasar penghargaan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari Halal Digital Brand Observation and Research yang digunakan dalam pemetaan brand halal yang menunjukkan kinerja digital.
Empat Dimensi dengan Bobot Sama
Setelah proses riset dilakukan, IDHBA 2026 menggunakan empat dimensi sebagai bagian dari pengukuran. Keempatnya adalah Digital Presence, Public Engagement, Media & PR Activity, serta Marketplace Performance.

Masing-masing dimensi memiliki bobot yang sama, yakni 25 persen.
Data Publik Menjadi Bagian dari Evaluasi
Evaluasi berdasarkan data publik menjadi bagian dari rangkaian Halal Digital Brand Observation and Research yang digunakan dalam pemetaan brand halal yang menunjukkan kinerja digital.
Program ini kemudian ditempatkan bukan hanya sebagai bentuk apresiasi, tetapi juga sebagai referensi dan barometer bagi pelaku industri, investor, komunitas, konsumen, serta masyarakat dalam melihat perkembangan brand halal.
Bukan Sekadar Ajang Penghargaan
IDHBA 2026 berlangsung di tengah ekosistem halal digital yang semakin dinamis. Persaingan antarbrand semakin terbuka, sementara konsumen semakin berorientasi pada kanal digital.
Dalam kondisi tersebut, ekspektasi terhadap transparansi, komunikasi, serta interaksi digital menjadi bagian dari perhatian dalam perkembangan brand halal.

Karena itu, riset IDHBA 2026 tidak berhenti pada pengumuman brand penerima penghargaan. Program tersebut menggunakan rangkaian observasi dan penelitian untuk melakukan pemetaan terhadap brand halal yang menunjukkan kinerja digital.
Pada akhirnya, IDHBA 2026 memperlihatkan satu pendekatan dalam membaca perkembangan brand halal di ruang digital: prosesnya tidak hanya dimulai dari siapa yang mendapatkan penghargaan, tetapi dari bagaimana sebuah brand diidentifikasi, diamati, dievaluasi, dan kemudian diukur melalui sejumlah dimensi yang telah ditetapkan. (***)
Journalist/Editor: Djoni Satria



Komentar