RUZKA INDONESIA — Universitas Indonesia (UI) kembali meluluskan doktor baru dengan penelitian yang berdampak signifikan pada perkembangan keilmuan.
Kali ini, dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K), akademisi Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran pada Fakultas Kedokteran (FKUI) berhasil meraih gelar Doktor dengan predikat Summa Cum Laude setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul โKajian Laktilasi Histon dan Polarisasi Makrofag pada Model Endotoksemia BALB/c: Dampak Intervensi Modulasi Epigenetik Bidirectional dengan Methylsulfonylmethane dan 2-Deoxy-D-Glucoseโ.
Penelitian ini berangkat dari tantangan besar penanganan sepsis, yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia.
Sepsis merupakan kondisi kompleks di mana sebagian pasien yang berhasil melewati fase inflamasi akut justru memasuki fase kelumpuhan imun.
Pada fase ini, sel imun bernama makrofag, yang berfungsi sebagai โpasukan pembersihโ tubuh dengan menelan dan menghancurkan mikroorganisme penyebab infeksi, mengalami perubahan fungsi dari proinflamasi (menyerang patogen) menjadi antiinflamasi (memulihkan jaringan).
Mekanisme Epigenetik
Perubahan tersebut diduga dipengaruhi oleh mekanisme epigenetik berupa laktilasi histon. Histon adalah protein yang membungkus DNA di dalam inti sel, sementara laktilasi merupakan proses penambahan gugus kimia laktat pada histon.
Modifikasi ini dapat mengubah cara gen diekspresikan dan memengaruhi respons imun tubuh. Dalam penelitian ini, fokus diberikan pada laktilasi histon di situs H3K18, yang diyakini berperan penting dalam mengatur ekspresi gen dan respons imun.
Dalam penelitiannya, dr. Yogi menggunakan 190 ekor mencit BALB/c jantan untuk mengkaji hubungan antara laktat, laktilasi histon H3K18, dan polarisasi makrofag pada model endotoksemia.
Studi ini dilakukan di Laboratorium Hewan Coba dan Laboratorium Riset Terpadu FK-KMK Universitas Gadjah Mada pada JanuariโApril 2026, melalui tiga tahap: optimasi dosis endotoksin, pemetaan dinamika klinis dan biomarker hingga 24 jam, serta pengujian dua agen metabolik dengan mekanisme berbeda, yaitu methylsulfonylmethane (MSM) dan 2-deoxy-D-glucose (2-DG).
Hasil penelitian menunjukkan kadar laktat meningkat cepat pada seluruh kelompok hewan uji, termasuk dosis terendah, sehingga tidak dapat dijadikan penanda keparahan penyakit.
Terbukti Lebih Akurat
Sebaliknya, skor klinis Murine Sepsis Score terbukti lebih akurat dalam mencerminkan progresivitas penyakit.
Penelitian juga menemukan bahwa laktilasi histon H3K18 menunjukkan pola ambang, dengan peningkatan signifikan baru terjadi pada dosis tertentu.
Selain itu, kadar Arg1 plasma sebagai penanda peralihan makrofag menuju fungsi reparatif mencapai puncak bersamaan dengan tingginya densitas laktilasi histon pada jam keenam pengamatan.
Pada tahap intervensi, pemberian MSM maupun 2-DG belum menunjukkan perbedaan bermakna secara statistik terhadap skor klinis maupun biomarker.
Meski demikian, keduanya memperlihatkan tren penurunan angka kematian absolut dan peningkatan median kesintasan, membuka peluang penelitian lanjutan mengenai modulasi jalur epigenetik dalam sepsis.
Penelitian ini Bersifat Eksploratif
Menurut dr. Yogi, penelitian ini bersifat eksploratif namun memberikan kontribusi penting dalam memahami mekanisme molekuler sepsis.
โPenelitian ini membantu menjelaskan kapan biomarker muncul, bagaimana jalur epigenetik berperan dalam respons imun, serta sejauh mana jalur tersebut dapat dimodulasi melalui intervensi farmakologis. Kebaruan penelitian ini adalah pembandingan langsung dua agen dengan mekanisme berlawanan terhadap aksis laktatโH3K18laโArg1 dalam satu model endotoksemia yang sama,โ jelas dr. Yogi dalam siaran pers yang diterima, Kamis (10/09/2026).
Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed., Sp.P(K), menyampaikan apresiasi atas capaian akademik ini.
Disertasi yang dihasilkan memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu biomedik dan kedokteran intensif, khususnya dalam memahami mekanisme molekuler respons imun pada sepsis.
“Penelitian ini membuka peluang bagi pengembangan strategi modulasi metabolik dan epigenetik sebagai pendekatan baru dalam penelitian sepsis,โ ungkapnya.
Sidang promosi doktor ini dipimpin oleh Prof. Anna Rozaliyani dengan promotor Prof. Dr. dr. Antonius H. Pudjiadi, Sp.A, Subsp. ETIA(K), ko-promotor drh. Safarina G. Malik, M.S., Ph.D. dan Prof. Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A, Subsp. AI(K). Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. dr. Suhendro, Sp.PD-KPTI (Ketua Penguji), Prof. dr. Indah Suci Widyahening, M.S., M.Sc., CM-FM, Ph.D., Sp.KKLP, Prof. Dr. dr. Rismala Dewi, Sp.A, Subsp. ETIA(K), serta Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. PTI(K) dari Universitas Padjadjaran sebagai penguji luar.
Predikat Summa Cum Laude
Keberhasilan dr. Yogi meraih gelar Doktor dengan predikat Summa Cum Laude menambah deretan akademisi dan klinisi FKUI yang berkontribusi dalam pengembangan ilmu kedokteran berbasis riset.
Capaian ini mempertegas eksistensi UI sebagai kampus riset unggul yang mewadahi penelitian multidisiplin, sekaligus memberikan dampak luas bagi masyarakat dan bangsa melalui pengembangan strategi diagnostik dan terapi sepsis yang lebih tepat sasaran. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar