Para pemimpin bisnis menetapkan lima prioritas untuk mendorong pertumbuhan bilateral dalam satu dekade ke depan, seiring Singapura tetap menjadi investor asing terbesar di Indonesia.
RUZKA INDONESIA — Singapore Chamber of Commerce Indonesia (SingCham) memperingati hari jadinya yang ke-20 dengan menghadirkan lebih dari 100 pemimpin bisnis senior, pembuat kebijakan, dan akademisi dalam sebuah forum yang bertajuk Riding the Rebound: New Growth Paradigms.
Forum ini menjadi ruang diskusi untuk mendorong kolaborasi yang semakin erat antara Singapura dan Indonesia dalam menghadapi dinamika dan ketidakpastian ekonomi global.
H.E. Kwok Fook Seng, Duta Besar Singapura untuk Republik Indonesia, hadir sebagai Tamu Kehormatan dan menyampaikan sambutan dalam acara yang berlangsung di The KPMG Clubhouse, Menara Astra, Jakarta.
Forum ini juga menjadi momentum penting bagi ekspansi SingCham, dengan diresmikannya SingCham Perwakilan Bali.
Kehadiran perwakilan baru ini kian memperluas jangkauan SingCham di luar Jakarta, sekaligus memperkuat dukungan bagi komunitas bisnis Singapura dan aktivitas investasi yang terus berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
Acara ini berlangsung di tengah hubungan ekonomi Singapura dan Indonesia yang semakin erat.
Singapura masih menjadi investor asing terbesar di Indonesia, dengan realisasi investasi sekitar US$20 miliar pada 2025, sementara nilai perdagangan bilateral antara kedua negara tercatat melampaui US$60 miliar.
Konstribusi dalam Perkuat Hubungan
Hal ini semakin menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara dunia usaha, pemerintah, dan institusi pendidikan.
Dalam rangka perayaan dua dekade kontribusinya dalam memperkuat hubungan bisnis dan antar individu kedua negara, forum yang diselenggarakan oleh SingCham Indonesia ini bekerja sama dengan KPMG dan NUS Business School.
Lima Prioritas Fase Baru Kemitraan SingapuraโIndonesia
Panelis yang hadir dalam diskusi tersebut, mengidentifikasi lima prioritas utama yang dinilai akan membentuk arah kolaborasi bisnis antara Singapura dan Indonesia ke depan.
Pemanfaatan AI perlu diimbangi dengan investasi pada sumber daya manusia di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di berbagai industri, para pemimpin bisnis sepakat bahwa keunggulan kompetitif pada akhirnya akan bergantung pada kemampuan organisasi dalam mengembangkan pemimpin dan tenaga kerja yang mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi.
Babak Baru pertumbuhan Indonesia akan didorong oleh produktivitas dan inovasi.
Pertumbuhan kelas menengah, ekonomi digital, dan ekosistem kewirausahaan Indonesia terus membuka peluang bagi perusahaan Singapura yang ingin memperkuat kehadirannya di Indonesia, yang merupakan salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di Asia.
Sektor-sektor yang tengah berkembang, seperti layanan kesehatan, pendidikan, dan pariwisata berkelanjutan, juga membuka peluang pertumbuhan yang besar bagi perusahaan Singapura di Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Kolaborasi SingapuraโIndonesia yang lebih erat akan membuka peluang baru di kawasan.
Di tengah ketidakpastian geopolitik yang mengubah arah investasi dan rantai pasok global, kerja sama yang lebih erat antara dunia usaha, pemerintah, dan institusi pendidikan akan menjadi hal penting untuk menjaga daya saing perekonomian antar kedua negara tersebut.
Resiliensi bisnis telah menjadi sebuah kebutuhan strategis.
Para pemimpin bisnis menekankan pentingnya membangun organisasi yang tangguh dan mampu merespons berbagai tantangan geopolitik, teknologi, dan ekonomi yang terus berkembang melalui diversifikasi, inovasi, dan perencanaan jangka panjang.
Pertumbuhan masa depan akan dibangun melalui talenta dan kepemimpinan.
Mempersiapkan generasi pemimpin bisnis berikutnya melalui pendidikan eksekutif, kolaborasi lintas negara, dan pengembangan keterampilan secara berkelanjutan akan menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Asia Tenggara.
Shoeb Kagda, Chairman SingCham Indonesia, turut mengemukakan pandangannya, selama dua dekade terakhir, SingCham telah tumbuh bersama komunitas bisnis Singapura di Indonesia.
“Berawal sebagai sebuah kamar dagang yang mendukung perusahaan dalam memasuki pasar Indonesia, SingCham kini telah berkembang menjadi platform yang menghubungkan dunia usaha, pemerintah, dan akademisi untuk memperkuat salah satu hubungan ekonomi bilateral terpenting di Asia Tenggara,” ungkap. Shoeb dalam siaran pers yang diterima, Kamis (20/08/2026).
Merayakan 20 tahun kiprahnya, fokus kami kini juga bersiap menyambut peluang masa depan.
Peluncuran Perwakilan SingCham Bali mencerminkan semakin besarnya peluang ekonomi di luar Jakarta sekaligus komitmen kami untuk mendukung perusahaan di mana pun mereka memilih untuk berinvestasi dan berkembang di Indonesia.
“Kami percaya bahwa dalam satu dekade ke depan akan ditandai dengan kolaborasi yang semakin erat, pengembangan talenta, dan inovasi antara Singapura dan Indonesia,” jelas Shoeb.
Sementara itu, mewakili Mitra Program PT KPMG Sidhartha Advisory, Vincent Malayapillay, Head of Integration & Separation โ Strategy, mengatakan, dunia usaha saat ini tengah menghadapi salah satu periode paling dinamis dalam beberapa tahun terakhir, yang dipengaruhi oleh disrupsi teknologi, ketidakpastian geopolitik, serta ekspektasi para pemangku kepentingan yang terus berkembang.
“Keberhasilan ke depan akan semakin bergantung pada organisasi yang gesit, tangguh, dan siap menerima perubahan. Kami senang dapat bermitra dengan SingCham dalam mendorong dialog yang bermakna dan memberikan wawasan praktis bagi para pemimpin bisnis untuk menghadapi lanskap bisnis yang terus berkembang ini,” jelasnya.
Dr Tan Hong Ming, Assistant Dean (Digital Operations), NUS Business School yang juga merupakan mitra program sekaligus moderator pada sesi Future of Work dalam forum tersebut, mengatakan, masa depan dunia kerja pada akhirnya tetap bertumpu pada manusia.
Meskipun AI akan terus mengubah berbagai industri, organisasi juga harus memberikan investasi yang setara terhadap upaya menciptakan sosok pemimpin (dalam bisnis), kemampuan berpikir kritis, dan pembelajaran berkelanjutan agar potensi teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kemitraan antara dunia usaha, akademisi, dan pemerintah akan menjadi hal penting dalam mengembangkan talenta yang dibutuhkan untuk mendukung babak pertumbuhan Asia Tenggara berikutnya,” terangnya.
Acara ditutup dengan jamuan makan siang dan sesi networking, yang semakin memperkuat peran SingCham sebagai katalisator dalam mendorong kolaborasi bisnis yang lebih erat antara Singapura dan Indonesia, sekaligus membuka jalan bagi fase pertumbuhan SingCham selanjutnya.
Tentang Singapore Chamber of Commerce Indonesia
Singapore Chamber of Commerce (SingCham) Indonesia resmi didirikan pada 18 Mei 2006 di Jakarta oleh Menteri Perdagangan Indonesia saat itu, Mari Pangestu, dan Duta Besar Singapura untuk Indonesia saat itu, Edward Lee.
SingCham menjembatani komunitas bisnis Singapura di Indonesia dengan komunitas bisnis Indonesia secara lebih luas, serta menyediakan peluang berjejaring, sumber daya, dan wawasan untuk mendukung pertumbuhan bisnis para anggotanya.
Sebagai satu-satunya kamar dagang yang mewakili komunitas bisnis Singapura di seluruh Indonesia, serta bersama dengan Duta Besar Singapura untuk Indonesia sebagai pelindungnya, SingCham berada pada posisi unik untuk berperan sebagai penghubung antara komunitas bisnis Singapura dengan Pemerintah Singapura, serta antara komunitas bisnis Singapura dengan Pemerintah Indonesia.(***)
Jurnalis: Koesbiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com












