Mengapa Allah menyebut 70 kali istighfar dalam QS At-Taubah 80? Apakah angka itu sekadar bilangan, atau ada pesan yang lebih dalam?
RUZKA INDONESIA — Saya memelihara satu kebiasaan kecil saat shalat malam. Selesai tahajud, saya membaca Al-Qur’an satu juz. Juz yang dibaca mengikuti tanggal. Tanggal 9 saya membaca Juz 9. Hari ini tanggal 14 Juz 14. Dan begitu seterusnya. Dengan cara sederhana itu, setiap bulan saya mengitari seluruh Al-Qur’an, juz demi juz.
Tapi saya tak sekadar mengejar target halaman. Kadang mata tertahan pada satu kalimat, satu kata, atau bahkan satu angka. Jika ada yang mengetuk perhatian, saya tak buru-buru menutup mushaf. Saya duduk lebih lama, mencoba memahami, mengapa angka itu disebut? Apa kata para mufasir dan apa penjelasan Nabi?
Beberapa hari lalu, mata saya tertahan pada sebuah angka: 70. Angka itu terdapat dalam Surah At-Taubah ayat 80:
اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ
“Mohonkanlah ampunan bagi mereka atau jangan engkau mohonkan ampunan bagi mereka. Jika engkau memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka.”
Angka itu terasa dekat karena seusai tahajud saya juga selalu membaca istighfar sekurang-kurangnya 70 kali: Astaghfirullah wa atubu ilaih. Hanya beberapa menit. Tapi saya berusaha merawatnya sebagai kebiasaan yang saya ikuti dari teladan Nabi.
Maka ketika membaca ayat itu, saya seperti menemukan cermin kecil di halaman Al-Qur’an. Allah menyebut angka yang sama dengan jumlah istighfar yang biasa saya baca, sementara ayat itu berbicara tentang Nabi yang memohonkan ampunan bagi orang-orang tertentu.
Tentu saya tidak sedang menyamakan diri dengan Nabi. Jauh sekali. Saya hanya bertanya: mengapa angka 70? Pertanyaan ini membawa saya kepada hadis. Abu Hurairah meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari di hadits no. 6307 bahwa Nabi ﷺ bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari 70 kali dalam sehari.”
Dalam Shahih Muslim hadits no. 2702, jumlah itu bahkan disebut 100 kali sehari. Jadi, kesimpulan saya, istighfar bukan pekerjaan sambilan Nabi. Ia bagian dari kehidupan spiritual beliau.
Lalu saya kembali kepada ayat tadi. Ayat ini bukan perintah kepada kita untuk membaca istighfar 70 kali. Allah sedang berbicara kepada Nabi tentang kaum munafik. Mereka orang-orang yang secara lahiriah berada di tengah masyarakat Muslim, tapi menyembunyikan kekafiran dan permusuhan.
Di sinilah muncul dugaan yang menarik. “Mungkin saja” angka 70 dalam ayat itu terasa begitu dekat dengan kebiasaan istighfar Nabi. Tapi saya tidak menemukan riwayat sahih yang secara tegas mengatakan bahwa kebiasaan Nabi beristighfar lebih dari 70 kali itu sudah berlangsung sebelum ayat ini turun. Karena itu, saya tidak ingin menjadikannya sebagai kepastian tafsir.
Namun, kemungkinan itu tetap menarik untuk direnungkan. Nabi Muhammad ﷺ adalah rahmat bagi semesta alam. Beliau tidak mudah menutup pintu harapan bagi manusia. Bahkan terhadap orang-orang yang menyakiti beliau, pintu maaf tidak segera ditutup. Kepada kaum munafik pun beliau tetap memperlakukan mereka berdasarkan apa yang tampak, bukan membongkar isi hati mereka sesuka hati.
Maka ketika Allah berfirman, “Jika engkau memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka,” seakan memuat penegasan. Yaitu bahwa “sebanyak apa pun istighfarmu, Muhammad, ada keadaan ketika istighfar tidak lagi dapat mengubah keputusan Allah.”
Menariknya, dalam riwayat yang dikutip At-Thabari dan Ibnu Katsir, Nabi justru mengatakan akan menambah istighfar lebih dari 70 kali. Seolah-olah beliau menangkap masih ada celah harapan dalam angka itu. Di sini terlihat sesuatu yang sangat indah dari pribadi Nabi. Beliau memilih jalan yang paling dekat dengan rahmat sebelum pintu itu benar-benar ditutup.
Kemudian turun Surah Al-Munafiqun ayat 6:
سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ
“Sama saja bagi mereka, engkau memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Allah tidak akan mengampuni mereka.”
Ayat ini tak menyebut angka. Sesudah ayat ini, persoalannya menjadi terang. Bukan lagi soal 70, 71, 700, atau 7.000. Masalahnya bukan jumlah istighfar, melainkan kekufuran yang mereka pertahankan.
Para mufasir memang berbeda dalam menjelaskan angka 70. Ibnu Katsir menyebut pendapat yang memahaminya sebagai bentuk penegasan tentang banyaknya istighfar. Dalam bahasa Arab, angka tertentu dapat digunakan sebagai mubalaghah, untuk menunjukkan jumlah yang sangat banyak, bukan batas matematis yang membuat 70 berbeda secara ajaib dari 71.
Ibnu ‘Asyur juga memberi perhatian pada fungsi bahasa semacam itu. Dengan demikian, kita tidak perlu membayangkan seolah-olah ampunan Allah bekerja seperti kalkulator. Misalnya, 70 kali tidak berhasil, lalu pada angka 71 mungkin berhasil. Tidak.
Saya melihat kisah ini mempunyai lapisan lain. Dalam riwayat tentang Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh utama kaum munafik Madinah, Nabi bahkan tetap menunjukkan perhatian ketika ia meninggal. Putranya datang meminta agar Nabi mengurus dan menyalatkan jenazah ayahnya. Nabi memenuhi permintaan itu. Dalam riwayat yang dikutip Ibnu Katsir, beliau bahkan memberikan bajunya untuk kafan.
Sikap Nabi itu menunjukkan betapa luasnya rahmat beliau. Tapi ketika Allah kemudian menetapkan batasnya, Nabi pun tunduk. Rahmat tidak berarti melawan ketetapan Allah.
Dari sini saya kembali kepada kebiasaan saya sendiri. Saya membaca Astaghfirullah wa atubu ilaih 70 kali seusai tahajud. Nabi ﷺ beristighfar lebih dari 70 kali sehari, bahkan dalam riwayat lain 100 kali. Tapi juga bertanya, untuk apa sebenarnya saya mengulang bacaan itu?
Kalau hanya untuk menyelesaikan hitungan, istighfar bisa berubah menjadi olahraga jari. Begitu angka 70 selesai, pekerjaan spiritual dianggap lunas. Padahal lafaz Nabi sangat sederhana:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.”
Ada dua gerakan di sana. Yaitu, memohon ampun dan kembali. Istighfar bukan sekadar meminta dosa dihapus. Taubat berarti kembali. Karena itu seseorang bisa mengucapkan istighfar seratus kali, tapi hatinya tidak bergerak sedikit pun. Bibirnya memohon ampun, perilakunya tetap berjalan menuju kesalahan yang sama.
Sebaliknya, satu istighfar yang membuat seseorang malu kepada Allah, meninggalkan keburukan, dan sungguh-sungguh memperbaiki diri, mungkin jauh lebih bermakna dari seribu ucapan yang hanya berhenti di bibir.
Tapi ini bukan berarti angka tak penting. Angka justru bisa menjadi disiplin. Ia membuat niat yang abstrak menjadi kebiasaan yang konkret. Saya membaca 70 kali bukan karena 71 dilarang, dan bukan pula karena Allah baru mendengar setelah hitungan tertentu. Saya membacanya agar setiap malam ada saat ketika saya berhenti dari kesibukan dunia dan mengingat kekurangan diri.
Ada paradoks yang lebih besar. Bayangan, Nabi ﷺ—yang telah mendapat jaminan ampunan Allah sebagaimana disebut dalam Surah Al-Fath ayat 2— justru banyak beristighfar. Kita yang belum tahu bagaimana akhir perjalanan kita sering merasa tidak terlalu membutuhkannya.
Nabi yang paling dekat kepada Allah rajin memohon ampun. Kita yang batinnya penuh lubang justru kadang merasa cukup dengan beberapa ucapan yang bahkan tidak kita resapi.
Mungkin karena itu istighfar bukan tanda bahwa seseorang adalah manusia buruk. Istighfar justru tanda bahwa seseorang sadar dirinya manusia.
QS At-Taubah ayat 80 juga mengajarkan bahwa istighfar bukan tombol untuk membatalkan keputusan Allah. Surah At-Taubah ayat 113 mempertegas bahwa setelah jelas seseorang mati dalam kemusyrikan, Nabi dan orang-orang beriman tidak boleh memohonkan ampun bagi mereka.
Jadi agama bukan mesin transaksi. Doa sekian kali, hasil sekian. Sedekah sekian rupiah, pahala sekian. Istighfar sekian kali, dosa otomatis hilang. Istighfar adalah ibadah, bukan alat untuk mengendalikan Allah.
Semakin sering seseorang mengucap Astaghfirullah, semestinya semakin sulit baginya merasa paling benar. Semakin sering ia mengatakan wa atubu ilaih, semestinya semakin kuat keinginannya untuk benar-benar kembali kepada-Nya.
Kalau setelah 70 kali istighfar saya masih gampang menyalahkan orang lain dan merasa paling benar, mungkin yang bertambah baru hitungannya, belum istighfarnya.
Karena itu saya tidak ingin berhenti pada angka 70. Bukan karena 70 kurang, melainkan karena yang perlu bertambah bukan hanya jumlah istighfar, tapi kesadaran di dalamnya.
Kini, setiap kali hitungan zikir saya menyentuh angka 70, saya teringat ayat itu. Dalam At-Taubah, ia menjadi penegasan bahwa sebanyak apa pun istighfar Nabi tak dapat menyelamatkan orang yang memilih kekufuran. Dalam hadis, angka yang sama menjadi gambaran betapa sering Nabi ﷺ memohon ampun kepada Allah.
Yang satu menjadi batas bagi orang yang menolak kebenaran. Yang lain menjadi jalan pulang bagi orang yang sadar akan kekurangan dirinya. Di antara keduanya, barangkali kita berada.
Bukan manusia yang merasa sudah bersih sehingga tidak perlu beristighfar. Bukan pula manusia yang mengira hitungan istighfar dapat membeli ampunan Allah. Kita hanya manusia yang setiap hari perlu pulang.
Dan mungkin, itulah makna paling sederhana dari tujuh puluh kali. Ia bukan titik akhir sebuah hitungan, melainkan pengingat untuk terus kembali. (***)
Penulis: Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 14/8/2026










