RUZKA INDONESIA — Peringati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kegiatan seni, budaya dan edukasi yang melibatkan 500 anak dari SD, SMP, SMA, dan anak penyandang disabilitas.
Peringatan HAN ke 42 dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan aktivitas edukatif, antara lain penampilan grup kulintang anak, dolanan anak nusantara, live rappelling anak, tari anak, Kila (Kita Cinta Lagu anak Indonesia), dan Pagelaran Wayang Kulit Anak.
Antusiasme peserta sangat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung.
Dalam sambutannya. Direktur Kebudayaan UI, Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, menyampaikan bahwa Peringatan Hari anak Nasional bukan hanya seremonial.
โPeringatan Hari Anak bukan hanya seremonial. Tetapi menjadi momentum refleksi untuk memberikan ruang untuk anak-anak bereskpresi, berkreasi dan tumbuh secara optimal,” ujarnya, Kamis (23/07/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, Wali Kota Depok Supian Suri, Perwakilan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Kementrian Kelautan dan perikanan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kementerian Pendidikan dasar menengah, Kementerian Kebudayaan, Pinkan Indonesia, serta grup-grup Kolintang dari dari jenjang SD, SMP, SMA, dan grup kulintang orang tua.
Dalam sambutannya, Veronica Tan menekankan bijak memakai teknologi, pentingnya ruang aman dan suasana positif dalam lingkungan anak.
“Anak-anak harus berani mengatakan tidak terhadap segala bentuk tindakan maupun percakapan yang melanggar batas privasi mereka. Dukungan pemerintah daerah sangat penting dalam menghadirkan ruang aman, karena lingkungan yang positif sangat menentukan proses tumbuh kembang mental serta kebahagiaan anak,” jelasnya.
Dr. Ngatawi Al-Zastrouw juga menambahkan bahwa Pendidikan adalah proses pembudayaan, dan cara paling efektif dalam belajar.
โPendidikan sejatinya adalah proses pembudayaan. Seni dan budaya menjadi cara paling efektif untuk membentuk karakter manusia. Anak-anak harus berkebudayaan dan mereka mempunyai hak untuk bermain, karena melalui bermain mereka belajar, mengembangkan kreativitas, memahami cara hidup yang sehat dan mempertajam kepekaan rasa,” paparnya.
Selain pertunjukan seni, peringatan Hari Anak Nasional juga diadakan sarasehan budaya bertema peran seni budaya sebagai sarana pembentukan karakter kebangsaaan untuk anak Indonesia.
Diskusi menghadirkan para budayawan dan Akademisi, Jose Rizal Manua, Adolf Malantang, Dr. Eko Handayani S.Psi., M.Psi., Psikologi, dan Dra. Eko Novi Ariyanti Rahayu Damayanti, M.Si.
Rangkaian acara ditutup dengan pagelaran wayang kulit anak berlakon: Sang Gatotkaca sebagai simbol keberanian, keteladanan, dan semangat generasi muda Indonesia.
Melalui peringatan Hari Anak Nasional 2026, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan bekerja sama dengan Direktorat Kebudayaan UI berharap sni budaya menjadi bagian proses tumbuh kembang anak Indonesia. (***)
Sumber: Humas Direktorat Kebudayaan UI
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar