RUZKA INDONESIA – INDONESIA dilaporkan masuk kategori negara dengan anggaran sektor pendidikan terendah di kisaran 1,3 persen dari PDB. Data ini merupakan kompilasi dari UNESCO Institute for Statistics, World Bank, Geo Factbook, serta infografik Seasia Stats. Sementara itu anggaran Perpustakaan Nasional justru diturunkan separuhnya, dari Rp 721 miliar pada 2025 menjadi Rp 377,9 miliar pada 2026. Pemangkasan anggaran buku berdampak pada pengurangan distribusi buku untuk warga, terutama ke kawasan 3T.
Kecilnya anggaran menjadi tamparan rencana Astacita mewujudkan Indonesia Emas 2045. Padahal pendidikan adalah investasi masa depan suatu bangsa untuk berkemajuan.
Ironi Pendidikan dan Nasib Guru
Dalam APBN Tahun Anggaran 2026, anggaran pendidikan mencapai sekitar Rp 757,8 triliun. Akan tetapi, sebagian di antaranya dialokasikan untuk berbagai program lintas sektor, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Padahal investasi di bidang pendidikan yang memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas pembelajaran umumnya mencakup peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, rehabilitasi sarana-prasarana pendidikan, penyediaan bahan ajar, penguatan literasi, serta peningkatan kualitas proses belajar-mengajar.
Sejumlah persoalan mendasar pendidikan Indonesia masih memerlukan perhatian serius. Berbagai survei menunjukkan bahwa sebagian besar guru honorer masih menerima penghasilan yang jauh di bawah standar kebutuhan hidup layak. Hal ini berpotensi memengaruhi kesejahteraan dan motivasi profesional mereka.
Pemerintah juga masih menghadapi tantangan besar. Di antaranya memperbaiki 980 ribu sekolah yang mengalami kerusakan sedang maupun berat. Tantangan lainnya adalah bagaimana meningkatkan akses infrastruktur menuju sekolah; terutama di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). Masih banyak peserta didik dan guru yang harus menempuh perjalanan dengan menyeberangi jembatan rusak, jalan yang sulit dilalui, bahkan medan yang membahayakan untuk mencapai sekolah.
Pendidikan Berkualitas dalam Sistem Islam
Islam memandang pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan manusia dan peradaban. Bahkan wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ terkait perintah untuk membaca (Lihat: QS al-‘Alaq [96]: 1-5).
Karena itu Islam sangat menghargai ilmu dan orang-orang yang berilmu. Allah SWT berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan?” (TQS az-Zumar [39]: 9).
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٌ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan di antara kalian beberapa derajat. Allah Mahatahu atas apa saja yang kalian lakukan (TQS al-Mujadilah [58]: 11).
Islam bahkan mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu. Allah SWT berfirman:
فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ…
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama (Islam)… (TQS at-Taubah [9]: 122).
Rasulullah saw. juga bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim (HR Ibnu Majah).
Dalam sejarah peradaban Islam, nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam kebijakan negara yang memberikan perhatian besar terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Sepanjang era Kekhilafahan Islam, para khalifah membangun masjid, madrasah/lembaga pendidikan, perpustakaan, rumah sakit pendidikan, serta pusat-pusat penerjemahan dan penelitian yang menjadi rujukan dunia.
Sejarawan seperti George Makdisi (1981) dan Jonathan Lyons (2009) menjelaskan bahwa Dunia Islam pada abad pertengahan (era Kekhilafahan Islam, red.) memainkan peran penting dalam pelestarian, pengembangan dan transmisi ilmu pengetahuan yang kemudian turut mempengaruhi kebangkitan intelektual Eropa.
Peradaban Islam: Peradaban Emas
Jika buku dianggap sebagai salah satu warisan sebuah peradaban yang gilang-gemilang maka peradaban Islam menjadi peradaban garda depan yang ditopang oleh buku. Para khalifah Islam pada masa lalu memahami benar hal ini. Pada abad ke-10, misalnya, di Andalusia saja terdapat 20 perpustakaan umum. Yang terkenal di antaranya adalah Perpustakaan Umum Cordova, yang saat itu memiliki tidak kurang dari 400 ribu judul buku. Ini termasuk jumlah yang luar biasa untuk ukuran zaman itu.
Padahal empat abad setelahnya, dalam catatan Chatolique Encyclopedia, Perpustakaan Gereja Canterbury saja, yang terbilang paling lengkap pada abad ke-14, hanya miliki 1800 (1,8 ribu) judul buku. Jumlah itu belum seberapa. Apalagi jika dibandingkan dengan Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo yang terkenal itu, yang mengoleksi tidak kurang 2.000.000 judul buku.
Perpustakaan Umum Tripoli di Syam—yang pernah dibakar oleh Pasukan Salib Eropa—bahkan mengoleksi lebih dari 3.000.000 judul buku. Di Andalusia, pernah pula terdapat Perpustakaan al-Hakim yang menyimpan buku-bukunya di dalam 40 ruangan. Setiap ruangan berisi tidak kurang dari 18 ribu judul buku. Artinya, perpustakaan tersebut menyimpan sekitar 720 ribu judul buku.
Pada masa Kekhilafahan Islam yang cukup panjang, khususnya masa Khilafah ‘Abbasiyah, perpustakaan-perpustakaan semacam itu tersebar luas di berbagai wilayah, antara lain: Baghdad, Ram Hurmuz, Rayy (Raghes), Merv (daerah Khurasan), Bulkh, Bukhara (kota kelahiran Imam al-Bukhari), Ghazni, dsb. Lebih dari itu, hal yang lazim saat itu, di setiap masjid pasti terdapat perpustakaan yang terbuka untuk umum.
Menggambarkan hal ini, Bloom dan Blair menyatakan, “Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf membaca dan menulis Dunia Islam pada abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini.” (Jonathan Bloom & Sheila Blair, Islam – A Thousand Years of Faith and Power, Yale University Press, London, 2002, p-105).
Dari perpustakaan-perpustakaan itulah penerjemahan buku-buku dimulai, yang dilanjutkan dengan pengkajian dan pengembangan atas isi buku-buku tersebut. Dari sini pula kelahiran para ilmuwan Muslim dimulai. Mereka kemudian melahirkan karya-karya yang amat mengagumkan, yang mereka sumbangkan demi kemajuan peradaban Islam saat itu. Ada Ibn Sina, seorang pakar kedokteran. Ada az-Zarkalli dan ath-Thusi, ahli astronomi. Ada al-Khawarizmi, ahli matematika sekaligus penemu satu cabang ilmu matematika, Algoritma. Ada al-Idrisi, pakar geografi. Ada Jabir Ibn Hayyan, masternya ilmu kimia. Ada Ibnu al-Haitsam, jagoannya ilmu alam. Ada al-Kindi, Ibnu Khaldun, dan masih banyak lagi.
Tanpa kehadiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang telah mewariskan peradaban yang sangat agung, kemajuan peradaban Barat saat ini tidak mungkin terjadi. Secara jujur, hal ini diakui oleh salah seorang cendekiawan Barat, Montgomery Watt, ketika ia menyatakan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.”
Ingat, semua capaian kemajuan di atas terjadi di era Kekhilafahan Islam. Ingat pula, dukungan negara (Khilafah) saat itu terhadap lembaga pendidikan, perpustakaan, guru dan ilmuwan merupakan faktor utama yang mendorong kelahiran peradaban Islam yang maju. Ini karena pendidikan dipandang sebagai salah satu tanggung jawab utama negara dalam mewujudkan kemaslahatan umum (maslahah ‘aammah).
Tujuan Pendidikan dalam Islam
Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk kepribadian Islam pada setiap diri peserta didik. Karena itu pendidikan Islam akan melahirkan manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, kematangan karakter, serta kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab. Sebabnya, seorang Muslim bukan hanya dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan. Ia juga berkewajiban memberikan peringatan dan menyampaikan pengajaran. Allah SWT berfirman:
فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٌ
Karena itu berilah peringatan karena sesungguhnya kamu hanyalah pemberi peringatan (TQS al-Ghashiyat [88]: 21).
Rasulullah saw. juga bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkan al-Quran (HR al-Bukhari).
Beliau pun bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
Sampaikan dari aku walau satu ayat (HR al-Bukhari).
Dengan pendidikan yang berkualitas, lahirlah generasi polymath. Mereka mampu mengembangkan sains dan teknologi sekaligus berdakwah dan melakukan amar makruf nahi mungkar.
Ilmu pengetahuan dalam sistem pendidikan Islam benar-benar menjadi sarana untuk mewujudkan kemaslahatan umat, membangun peradaban emas yang menginspirasi dunia serta menebarkan rahmat bagi alam semesta. Ini sesuai dengan tujuan pengutusan Rasulullah saw. sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah SWT:
وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةً لِّلۡعَٰلَمِينَ
Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta (TQS al-Anbiya’ [29]: 107).
Menurut Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, siapa pun yang menerima dan mengikuti risalah Nabi Muhammad ﷺ akan memperoleh rahmat di dunia dan akhirat. Sebaliknya, penolakannya menyebabkan manusia kehilangan petunjuk yang menjadi sebab keselamatan.
Allah SWT pun menegaskan bahwa suatu bangsa yang mengabaikan petunjuk-Nya akan mengalami kesempitan hidup. Demikian sebagaimana firman-Nya:
وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ
Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sesungguhnya bagi dia penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (TQS Thaha [22]: 124).
Khatimah
Islam mengarahkan pendidikan agar kaum Muslim menjadi kekuatan adidaya yang memimpin dunia, dengan lahirnya para ulama ahli di bidang tsaqaafah dan para ilmuwan ahli bidang sains dan teknologi. Untuk mewujudkan cita-cita ini maka tidak ada jalan lain, kecuali kaum Muslim harus menerapkan Islam secara kaaffah dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah), sebagaimana dulu. Khilafahlah yang akan melanjutkan kehidupan Islam sekaligus membangkitkan kembali peradaban Islam yang akan memberikan kemaslahatan bagi dunia.
WalLaahu a’lam bi ash-shawaab. []
—*—
Hikmah:
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٍ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal. (TQS Ali Imran [3]: 190). (***)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com


Komentar