Cerita Anak Nusantara membuka jalan bagi sineas baru untuk mengembangkan ide cerita hingga treatment skenario, dengan bimbingan langsung dari para filmmaker berpengalaman
RUZKA INDONESIA — Netflix, bekerja sama dengan, Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) dan Badan Perfilman Indonesia (BPI), meluncurkan Cerita Anak Nusantara.
Hal itu merupakan sebuah program kompetisi dan pengembangan ide cerita film panjang yang berfokus pada tema anak, remaja, dan keluarga Indonesia.
Pendaftaran telah dibuka dan akan ditutup
pada 1 Juli 2026.
Didukung oleh Netflix Fund for Creative Equity, inisiatif ini lahir dari sebuah pengamatan industri film Indonesia saat ini di mana penonton keluarga Indonesia semakin tumbuh, semakin kritis, dan semakin aktif mencari konten yang mencerminkan realitas dan nilai-nilai
kehidupan sehari-hari.
Kesuksesan film ramah keluarga terbukti di film animasi Jumbo (2025) karya Ryan Adriandhy berhasil mencatatkan rekor luar biasa dengan meraih lebih dari 10 juta penonton di bioskop nasional.
Cerita Anak Nusantara hadir sebagai medium mencari ide cerita autentik melalui kompetisi ide cerita.
Sepuluh finalis terpilih akan menjalani proses pengembangan proyek, mulai dari ide cerita hingga menjadi treatment skenario yang matang, didampingi melalui serangkaian lokakarya dan sesi mentorship bersama sineas Indonesia yang telah memiliki rekam jejak di film bertemakan anak, remaja, dan keluarga.
Program ini dirancang untuk menemukan ide terbaik dan memastikan ide cerita berkembang serta mendorong regenerasi sineas di Indonesia.
โKeluarga kini semakin banyak meluangkan waktu untuk menonton bersama, termasuk judul-judul seperti KPop Demon Hunters, Stranger Things dan Jumbo yang relevan untuk berbagai kalangan usia.
Ekosistem Tontonan
Ada peluang besar untuk mengembangkan cerita yang ramah keluarga dan menghadirkan ekosistem tontonan yang aman dan terpercaya.
“Bersama-sama, kami ingin menciptakan ruang yang dapat memberikan rasa nyaman bagi orang tua, dengan cerita berkualitas yang menghibur, memperkaya pengalaman anak dan memicu percakapan bermakna,โ ujar Ruben Hattari, Director of Global Affairs, Southeast Asia, Netflix dalam keterangan yang diterima, Kamis (25/06/2026).
Film anak dan keluarga Indonesia bukan genre kecil, ini adalah cermin dari cara kita memandang generasi berikutnya.
Lewat Cerita Anak Nusantara, kami ingin membuktikan bahwa sineas Indonesia punya kapasitas untuk mengisi layar dengan cerita yang relevan, autentik, dan layak ditonton bersama keluarga.
“APROFI percaya bahwa investasi terbaik
dalam industri ini dimulai dari cerita yang kuat yang dibuat oleh pembuat sineas muda,” ungkap Edwin Nazir, Ketua Umum APROFI.
BPI melihat Cerita Anak Nusantara sebagai bagian dari upaya bersama membangun fondasi industri film anak dan keluarga yang lebih kuat.
Cerita yang lahir dari sineas muda Indonesia, yang tumbuh dari pengalaman nyata dan pemahaman mendalam tentang keluarga Indonesia, adalah investasi jangka panjang bagi industri ini.
“Kolaborasi APROFI, BPI, dan Netflix dalam program ini membuktikan bahwa ekosistem perfilman kita bisa bergerak bersama, saling menguatkan,” ungkap Fauzan Zidni, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia.
Program ini terbuka bagi sineas Indonesia yang ingin mengembangkan cerita fiksi orisinal untuk film panjang dengan rating Semua Umur (SU), 7+, atau 13+.
Cerita tidak harus berbasis cerita rakyat, melainkan cerita dengan tema anak, keluarga, persahabatan, petualangan, drama remaja, komedi, hingga fiksi ilmiah semuanya disambut, selama karakter utamanya adalah anak-anak dan/atau keluarga Indonesia, dan seluruh latar cerita berlokasi di Indonesia.
Cerita Anak Nusantara diprioritaskan bagi sutradara yang baru memulai, mereka yang
pernah terlibat dalam produksi film pendek dan maksimal telah menyutradarai satu film panjang. Sutradara yang telah terlibat dalam lebih dari satu film panjang tidak memenuhi syarat untuk berpartisipasi.
Informasi lengkap mengenai mekanisme submisi, regulasi, dan timeline dapat diakses melalui www.ceritaanaknusantara.id. (***)
Jurnalis: Koesbiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com






Komentar