Bisnis
Beranda ยป Berita ยป Putra Gorontalo Itu Mengabdi untuk Indonesia: Obor yang Menolak Padam

Putra Gorontalo Itu Mengabdi untuk Indonesia: Obor yang Menolak Padam

Thayeb Mohammad Gobel menggunakan pakaian kebesaran Kerajaan Hubulo. (Foto: Buku GOBEL Pelopor Industri Elektronika Indonesia (Pengusaha Indonesia dengan Filosofi Usaha Pohon Pisang), karya Ramadhan KH, 2018)

RUZKA INDONESIA โ€” Jauh sebelum puluhan ribu pekerja menggantungkan hidup pada perusahaan-perusahaan yang lahir dari gagasannya, jauh sebelum nama Gobel menjadi bagian dari sejarah industri Indonesia, dan jauh sebelum sebuah kelompok usaha lintas generasi tumbuh melampaui umur pendirinya, Thayeb Mohammad Gobel hanyalah seorang anak laki-laki kelahiran Gorontalo, 12 September 1930, yang belajar memahami kehidupan dari hal-hal yang tampak sederhana.

Buku GOBEL: Pelopor Industri Elektronika Indonesia (Pengusaha Indonesia dengan Filosofi Usaha Pohon Pisang), karya Ramadhan KH menyimpan satu kenangan dari masa kecilnya: suatu hari, Gobel kecil membeli dua tandan pisang dari seorang lelaki tua dekat rumahnya, lalu menjualnya kembali di pasar dengan harapan memperoleh keuntungan.

Nilainya tidak besar. Tidak ada yang istimewa dari transaksi itu. Di kampung-kampung Gorontalo pada masa itu, anak-anak yang membantu orang tua berdagang atau mencari tambahan penghasilan bukanlah pemandangan luar biasa. Namun kadang pelajaran terpenting justru tersimpan di dalam hal yang tampak tak perlu dicatat.

Di lingkungan tempat Thayeb tinggal, pohon pisang bukanlah sesuatu yang istimewa. Ia tumbuh di kebun-kebun, di halaman rumah, dan di pinggir-pinggir jalan. Namun semakin lama Thayeb mengamatinya, semakin ia melihat sesuatu yang tidak pernah benar-benar diajarkan siapa pun.

Pohon pisang menghabiskan seluruh hidupnya untuk memberi manfaat. Buahnya dimakan, daunnya digunakan, batangnya dimanfaatkan, dan ketika masa hidupnya berakhir, ia tidak meninggalkan kekosongan. Sebelum batangnya rebah, tunas-tunas baru telah lebih dahulu tumbuh di sekelilingnya, meneruskan kehidupan yang sama tanpa meminta pengakuan.

PT Repower Asia Indonesia Tbk Perkuat Posisi Internal, Direktur Sjafardamsah Lakukan Investasi Saham Perseroan

Sebagaimana pohon pisang yang menyiapkan tunas-tunas baru sebelum batang induknya rebah, Thayeb Mohammad Gobel meyakini bahwa ukuran sebuah kehidupan bukanlah seberapa lama ia bertahan, melainkan seberapa banyak nilai yang tetap tumbuh setelah ia pergi. (Ilustrasi: RUZKA INDONESIA)

Bertahun-tahun kemudian, ketika perjalanan hidup membawanya jauh dari Gorontalo, pelajaran sederhana itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia tumbuh menjadi cara pandang tentang usaha, tentang manusia, tentang kepemimpinan, dan yang terpenting, tentang pengabdian.

Dari sanalah lahir keyakinan yang kelak membentuk hampir seluruh keputusan penting dalam hidupnya: bahwa ukuran sebuah kehidupan bukan pada apa yang berhasil dimiliki, tetapi pada apa yang masih tumbuh setelah kepergiannya.

Tujuh puluh tahun kemudian, jejaknya masih dapat ditemukan pada kelompok usaha yang terus berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya, juga pada nilai-nilai yang terus berpindah tangan, sebagaimana tunas yang tumbuh di sekitar pohon pisang, menjaga kehidupan tetap berlangsung bahkan ketika batang utamanya telah menyelesaikan tugasnya.

G: Gerakan

Bagi banyak orang, nama keluarga adalah warisan, sebuah penanda asal-usul yang dibawa sejak lahir dan melekat hingga akhir hayat. Demikian pernah ditulis majalah TEMPO pada edisi 14 Desember 1985. Namun Thayeb Mohammad Gobel memandang namanya dengan cara yang berbeda.

AASI Gelar ‘Manasik’ Fit and Proper Test, Siapkan Industri Asuransi Syariah Hadapi Spin-Off OJK

Di hadapan para kolega dan sahabatnya, ia mengurai nama GOBEL dengan cara yang tidak banyak orang duga: singkatan dari Gerakan Organisasi Bina Ekonomi Lemah.

Pemaknaan itu bukan permainan kata semata. Dalam sebuah ceramah di Universitas Trisakti, Jakarta, pada 19 Juli 1978, Thayeb Gobel secara eksplisit menyebut kepanjangan tersebut ketika menjelaskan pengalaman membangun organisasinya.

โ€œIsi makalah saya ini pun lebih banyak bersumber dari pengalaman-pengalaman yang sudah dipraktikkan dalam organisasi perusahaan yang saya pimpin. Dengan kata lain, segi-segi praktis pembinaan sikap mental manusia-manusia yang bernaung di dalam perusahaan-perusahaan Gerakan Organisasi Bina Ekonomi Lemah (GOBEL) yang lebih banyak dikemukakan dalam makalah ini,โ€ papar Gobel.

Kalimat itu memperlihatkan bahwa GOBEL, dalam pandangan Thayeb, mengemban dua makna sekaligus: nama keluarga dan gagasan tentang keberpihakan, keyakinan bahwa usaha harus membuka kesempatan bagi mereka yang memulai dari posisi paling lemah.

Pilihan kata itu bukan kebetulan. Sebab jauh sebelum dikenal sebagai pelopor industri elektronik nasional, Thayeb Gobel telah melihat bagaimana keterbatasan hidup membentuk nasib banyak orang. Ia tumbuh di lingkungan yang mengajarkannya bahwa kesempatan tidak selalu datang dengan adil kepada setiap orang.

Kolaborasi Malaysia Airlines-Singapore Airlines: Enrich dan KrisFlyer Bisa Tukar Poin, Tarif KL-Singapura Makin Fleksibel

Pengalaman itu perlahan membentuk cara pandangnya terhadap usaha. Baginya, usaha bukan semata-mata soal keuntungan. Ia adalah cara menciptakan kesempatan, wujud nyata dari pengabdian kepada negara. Keberhasilan tidak diukur dari besarnya kekayaan yang terkumpul, tetapi dari seberapa banyak kehidupan yang ikut bertumbuh bersamanya.

Dalam ceramah yang sama, ia juga menguraikan filosofi yang menjadi jiwa dari singkatan GOBEL itu.

โ€œTujuan hidup manusia wiraswasta bukanlah sekadar mencari keuntungan. Lebih luas dari itu tujuan hidupnya harus sejalan dengan tujuan pembangunan, cita-cita perjuangannya harus paralel dengan cita-cita perjuangan bangsa dan negara,โ€ katanya.

โ€œPola pikir manusia wiraswasta hendaknya didasarkan pada prinsip: ‘Berpikir untuk kepentingan negara dan masyarakat, dengan sendirinya telah memikirkan kepentingan sendiri’.โ€

Dari keyakinan itulah ia membangun pandangannya tentang pengusaha kecil: bahwa mereka yang ingin meningkatkan produktivitasnya harus memiliki sikap mental wiraswasta yang memandang keberhasilan usaha sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pengabdian kepada negara.

O: Optimisme

Sudut pandang semacam itu tidak tumbuh dalam sehari. Ia berkembang perlahan, diperkuat oleh pengamatan-pengamatan yang terus berulang sejak masa kecil. Yang paling membekas bukan keuntungan dari pisang yang terjual. Yang lebih dalam dari itu adalah cara pohon itu mempersiapkan kehidupannya sendiri: sebelum batang utamanya menyelesaikan tugas, tunas-tunas baru telah lebih dahulu tumbuh di sekelilingnya, meneruskan hidup tanpa keramaian, tanpa perayaan.

Semakin dewasa, Thayeb Gobel semakin melihat bahwa pelajaran yang sama berlaku dalam kehidupan manusia. Sebuah usaha tidak boleh berhenti pada pendirinya. Sebuah kepemimpinan tidak boleh berakhir ketika pemimpinnya pergi. Di tengah perubahan zaman dan berbagai pencapaian yang diraihnya, falsafah pohon pisang tetap menjadi kompas.

Gobel saat berusia 18 tahun dan kawan-kawannya di Gorontalo: Djok Weng, Gasang, dan Pensen, 1948. (Foto: Buku GOBEL Pelopor Industri Elektronika Indonesia (Pengusaha Indonesia dengan Filosofi Usaha Pohon Pisang), karya Ramadhan KH, 2018)

Keyakinan itu bukan optimisme yang berdiri di atas angin. Dalam ceramahnya di Universitas Trisakti, Gobel mengingatkan bahwa manusia wiraswasta tidak boleh luntur cita-citanya hanya karena hasil yang belum sesuai harapan, dan tidak boleh patah semangat hanya karena hambatan yang menghadang.

Bagi Gobel, masa depan yang lebih baik tidak datang dengan sendirinya. Ia harus diperjuangkan lewat kerja, ketekunan, dan kesediaan untuk terus tumbuh mengikuti kemajuan zaman.

Dari sanalah tumbuh optimisme yang tidak bertumpu pada kekayaan atau kekuasaan. Gobel percaya bahwa setiap manfaat yang ditanam dengan sungguh-sungguh, sekecil apa pun rintisan awalnya, akan menemukan jalan untuk hidup melampaui umur manusia yang menanamnya.

R: Rintisan

Setiap perjalanan besar bermula dari titik yang nyaris tak terlihat. Bukan dari gedung yang megah, bukan dari peristiwa yang mengundang perhatian banyak orang. Kadang cukup dari satu langkah kecil yang pada masanya tampak biasa saja. Bagi Thayeb Mohammad Gobel, langkah itu mungkin dimulai ketika ia memikul dua tandan pisang menuju pasar.

Keuntungan yang diperolehnya tentu tidak besar. Uang yang dibawa pulang pun tak seberapa. Tapi di dalam pengalaman kecil itu, seorang anak sedang belajar sesuatu yang kelak menjadi bekal penting dalam hidupnya: keberanian mengambil inisiatif, kesediaan menanggung risiko, dan keyakinan bahwa masa depan tidak dibangun oleh harapan semata, tetapi oleh sebuah tindakan.

Pelajaran itu terus menemaninya hingga dewasa. Ketika banyak orang masih melihat keterbatasan sebagai alasan untuk menunda langkah, Thayeb Gobel justru memilih memulai dari apa yang tersedia. Ia memahami bahwa menunggu keadaan sempurna kerap berarti tidak pernah memulai sama sekali. Sebagaimana tunas pertama yang muncul di sekitar pohon pisang, setiap ikhtiar harus diawali dengan keberanian untuk tumbuh.

Gobel kerap menunjukkan keberpihakannya kepada mereka yang berjuang membangun kehidupan dari bawah. Barangkali karena ia tahu bahwa setiap usaha besar sesungguhnya berakar pada keberanian yang sama: keberanian mengambil langkah pertama ketika hasilnya belum terlihat dan masa depan masih berupa kemungkinan.

O: Orientasi

Setiap rintisan, cepat atau lambat, akan berhadapan dengan pertanyaan yang sama: untuk apa semua ini dibangun? Banyak usaha lahir dari keinginan mencari keuntungan. Banyak perusahaan tumbuh dari ambisi memperbesar skala. Bagi Thayeb Gobel, pertanyaan itu selalu mengarah ke tempat yang berbeda.

Industri baginya soal manusia yang memperoleh kesempatan bekerja, belajar, dan berkembang. Teknologi soal kemungkinan meningkatkan kemampuan bangsa sendiri. Masa depan yang diimpikannya bukan angka pertumbuhan perusahaan, tetapi seberapa besar ia mampu menyumbang kepada bangsanya.

Dari sana, arah pengabdiannya menjadi tegas. Usaha adalah sarana, bukan tujuan. Teknologi adalah alat, bukan mahkota pencapaian. Bahkan keberhasilan itu sendiri ia pandang sebagai jalan, bukan titik pemberhentian.

Ia tidak sedang menanam untuk satu generasi. Yang sedang dilakukannya adalah menyiapkan nilai yang dapat memberi arti bagi kehidupan yang lebih luas, sebagaimana pohon pisang yang tidak memilih kepada siapa manfaatnya diberikan.

N: Nilai

Nilai semacam itu sering kali tidak terlihat ketika segala sesuatu berjalan baik. Ia justru tampak dalam hal-hal kecil: percakapan yang sepintas terlihat biasa, atau cara seseorang memperlakukan orang lain yang tidak punya kuasa apa pun atas dirinya.

Suatu hari, Thayeb Gobel memanggil seorang penjual kue putu yang lewat di depan rumahnya. Bukan untuk membeli lebih dari biasanya. Ada pelajaran yang ingin ia tunjukkan kepada anak-anaknya. Ia mengajak mereka memperhatikan kehidupan penjual kue itu, bertanya tentang pekerjaannya, keluarganya, dan bagaimana ia mencari nafkah setiap hari.

Percakapan yang sederhana itu membawa pesan yang tidak terucapkan: bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang layak dihormati.

Ia tidak mendidik keluarganya untuk melihat manusia dari jabatan, kekayaan, atau kedudukan sosial. Ia mengajarkan mereka untuk melihat manusia sebagai manusia. Semakin jauh perjalanan hidup membawanya, semakin kuat keyakinannya bahwa kemajuan hanya akan memiliki arti apabila mampu mengangkat kehidupan orang lain.

Thayeb Mohammad Gobel berpose bersama Rachmat Gobel, putra laki-laki pertama Gobel.
(Foto: Buku Rachmat Gobel yang saya kenal, 2012)

Visi yang sama terlihat dalam sikapnya terhadap keluarganya sendiri. Di saat banyak perusahaan keluarga menjadikan hubungan darah sebagai jalan pintas menuju jabatan, Thayeb Gobel justru mengambil arah yang berbeda. Ia menolak nepotisme.

Anak-anaknya tidak memperoleh hak istimewa hanya karena menyandang nama Gobel. Mereka harus membuktikan kemampuan melalui proses yang sama sebagaimana orang lain. Bahkan anggota keluarga yang bekerja di lingkungan usaha Gobel dituntut memenuhi standar yang tidak berbeda dengan siapa pun.

Dalam wawancara panjang dengan majalah Selecta pada November 1980, Gobel berbicara tanpa basa-basi.

โ€œTidak ada rahasia,โ€ jawabnya tangkas. โ€œResepnya sederhana sekali. Pertama, kita harus tahu apa cita-cita kita untuk membangun perusahaan. Kedua, kerja keras dan jujur. Cuma itu.โ€

โ€œIndonesia terdiri dari pulau-pulau, yang memerlukan alat pemersatu yang cepat. Target saya yang pertama-tama di Indonesia adalah harus adanya industri. Kita menjalankan cita-cita pemerintah yaitu menyediakan lapangan kerja, mengadakan pemerataan pendapatan,โ€ tutur Gobel.

โ€œJadi, tujuan saya adalah tetap dalam dunia industri yang diikuti dengan dedikasi dan kebanggaan. Singkatnya misi kami mendirikan perusahaan elektronika ini adalah memberikan lapangan kerja serta pendapatan yang layak kepada masyarakat,โ€ lanjutnya.

โ€œPerusahaan ini dibesarkan masyarakat. Untuk itulah saya ingin menyumbang kepada generasi yang akan datang. Dengan cara yang baik, bukan ugal-ugalan. Apa sumbangsih saya kepada masyarakat? Tidak lain memberi perhatian kepada anak-anak masyarakat. Tanpa pilih bulu,โ€ ucap Gobel.

Gobel menegaskan bahwa jika kita jujur kepada negara, maka negara juga akan jujur kepada kita.

Bagi Thayeb Gobel, nama keluarga bukan alasan untuk memperoleh kemudahan. Nama keluarga adalah tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan. Pandangan itu berakar pada keyakinan yang sederhana: nilai tidak dapat diwariskan melalui kata-kata semata. Nilai hanya dapat hidup apabila dipraktikkan.

Karena itu, ia tidak sekadar berbicara tentang kejujuran, kerja keras, atau keadilan. Ia berusaha menunjukkan semuanya melalui tindakan sehari-hari, baik dalam kehidupan keluarga maupun dalam dunia usaha yang dipimpinnya.

Seorang pengusaha seharusnya hanya merasa berbahagia apabila masyarakat merasakan manfaat dari kegiatan usaha yang dikerjakannya.

Sebagaimana pohon pisang memberi manfaat tanpa memilih siapa yang akan menikmatinya, Thayeb Gobel percaya bahwa keberhasilan memperoleh makna ketika mampu menghadirkan manfaat yang adil bagi orang lain. Dan sebagaimana tunas-tunas baru tumbuh bukan karena diperintah, tetapi karena memperoleh ruang untuk berkembang, ia memahami bahwa generasi penerus tidak dapat dibentuk melalui hak istimewa, melainkan melalui keteladanan.

Warisan yang paling berharga dalam hidupnya bukan jabatan atau kekayaan. Ia adalah nilai yang hidup dalam tindakan dan tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya.

T: Teknologi

Bagi banyak orang, teknologi adalah persoalan mesin, peralatan, dan kemajuan industri. Bagi Thayeb Gobel, teknologi memiliki makna yang berbeda. Ia adalah jalan untuk memperbesar manfaat, memperluas kesempatan, dan mempercepat kemajuan manusia.

Ia memahami bahwa bangsa yang ingin maju tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Bangsa itu harus belajar, menguasai, dan mengembangkannya. Sebab teknologi yang hanya dibeli akan berhenti sebagai barang, sementara teknologi yang dipahami akan berubah menjadi kemampuan. Dan kemampuan yang terus diwariskan akan menjadi kekuatan yang mampu bertahan melampaui satu generasi.

Thayeb Mohammad Gobel menemani tamu Jepang untuk memeriksa ruang produksi PT Transistor Radio Manufacturing Co. di Cawang, Jakarta. (Foto: Buku GOBEL Pelopor Industri Elektronika Indonesia (Pengusaha Indonesia dengan Filosofi Usaha Pohon Pisang), karya Ramadhan KH, 2018)

Baginya, teknologi bukan sekadar lambang kemajuan. Ia adalah sarana membangun manusia. Setiap pengetahuan yang dipelajari, setiap keterampilan yang ditransfer, setiap kesempatan yang terbuka bagi tenaga kerja Indonesia tertuju pada satu tujuan yang sama: memastikan bangsa ini tidak selamanya bergantung pada pengetahuan orang lain.

Cara berpikir itulah yang membuat perjalanan industrinya tidak berhenti pada penciptaan produk. Yang dibangunnya adalah kemampuan manusia yang mengoperasikan, memahami, dan mengembangkan teknologi itu sendiri. Mesin dapat menua, produk dapat berubah mengikuti zaman, namun kemampuan manusia yang lahir dari proses belajar akan terus hidup dan melahirkan kemampuan-kemampuan baru.

Paradigma itu semakin menemukan bentuk ketika Gobel menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Konosuke Matsushita. Dalam berbagai pertemuan di Osaka, Jepang, keduanya berbicara tentang sesuatu yang melampaui produk atau pasar: mereka berbicara tentang manusia. Salah satu pemikiran Matsushita yang membekas dalam ingatan Gobel adalah keyakinannya bahwa orang harus dipekerjakan dengan tujuan membantu menaikkan taraf hidup masyarakat. Dari percakapan-percakapan semacam itulah keyakinannya semakin menguat: teknologi dan industri, pada titik paling dalam, harus kembali kepada manusia.

Bagi Gobel, itulah titik temu antara teknologi dan industri: keduanya harus kembali kepada manusia. Mesin dapat dibeli, tetapi kemampuan, tanggung jawab, dan karakter harus dibangun melalui proses panjang. Karena itu yang ingin diwujudkannya adalah lingkungan usaha yang memungkinkan manusia bertumbuh bersama kemajuan yang diciptakannya, bukan semata-mata perusahaan yang menghasilkan produk.

Sebagaimana tunas yang tumbuh di sekitar pohon pisang, pengetahuan yang diwariskan akan terus melahirkan kehidupan berikutnya. Bagi banyak orang, teknologi mungkin hanya menghasilkan produk. Di tangan Thayeb Gobel, teknologi diharapkan menghasilkan sesuatu yang lebih penting: manusia yang mampu melanjutkan pembangunan, memperluas manfaat, dan meneruskan pengabdian kepada bangsanya.

A: Adaptasi

Namun setiap nilai, meski sekuat apa pun ia diwariskan, suatu saat akan berhadapan dengan ujian yang sama: perubahan zaman. Apa yang lahir pada satu generasi belum tentu dapat bertahan pada generasi berikutnya. Dunia bergulir. Teknologi berganti. Cara manusia bekerja dan memandang kehidupan pun ikut berubah.

Karena itu, pertanyaan sesungguhnya bukan apakah sebuah gagasan dapat berhasil pada masanya. Pertanyaan yang lebih berat adalah: apakah gagasan itu mampu tetap hidup ketika zaman yang melahirkannya telah berlalu?

Pertanyaan itulah yang perlahan hadir dalam perjalanan panjang yang dibangun Thayeb Gobel. Nilai-nilai yang selama puluhan tahun menjadi fondasi kehidupannya harus berhadapan dengan ujian yang tidak dapat dihindari: pergantian generasi.

Falsafah pohon pisang kembali berbicara. Pohon pisang tidak mempertahankan kehidupan dengan cara membuat batang utamanya hidup selamanya. Ia mempertahankan kehidupan dengan menyiapkan tunas-tunas baru yang mampu tumbuh menghadapi musim yang berbeda. Kehidupan berlanjut karena perubahan diterima tanpa kehilangan akar.

Thayeb Mohammad Gobel menanam pohon pisang pada upacara peletakan batu pertama gedung TK Ade Tia (putri Gobel, yang meninggal pada usia dini) bertepatan dengan peringatan HUT XII perusahaan. (Foto: Buku GOBEL Pelopor Industri Elektronika Indonesia (Pengusaha Indonesia dengan Filosofi Usaha Pohon Pisang), karya Ramadhan KH, 2018)

Sudut pandang itulah yang mewarnai proses regenerasi di lingkungan Gobel Group. Generasi berikutnya tidak dididik untuk menjadi salinan generasi sebelumnya. Mereka dipersiapkan untuk menghadapi dunia yang berbeda dengan tetap membawa nilai yang sama.

Dalam proses itulah Rachmat Gobel, anak kelima sekaligus putra laki-laki pertama dari pasangan Thayeb Mohammad Gobel dan Annie Nento Gobel, tumbuh. Ia mewarisi sebuah nama, sekaligus cara pandang yang dibangun melalui pengalaman panjang, keteladanan, dan disiplin kehidupan.

Sejak kecil Rachmat melihat bagaimana ayahnya memandang manusia, memandang pekerjaan, dan memandang tanggung jawab. Pelajaran itu tidak selalu hadir dalam nasihat panjang, sebagian justru lahir dari percakapan sederhana dan contoh yang diperlihatkan secara langsung.

Karena itu, yang diwariskan sesungguhnya bukan daftar jawaban siap pakai. Yang diwariskan adalah nilai yang memungkinkan setiap generasi menemukan jawabannya sendiri. Dunia yang dihadapi Thayeb Gobel berbeda dengan dunia yang dihadapi Rachmat. Namun selama nilai-nilai dasarnya tetap hidup, perubahan tidak perlu ditakuti.

Di situlah adaptasi menemukan maknanya yang paling dalam: bukan meninggalkan prinsip demi mengikuti zaman, tetapi menemukan cara baru untuk mewujudkannya. Sebagaimana tunas pohon pisang yang tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dari induknya, setiap generasi memiliki tantangan sendiri, tetapi tetap membawa kehidupan yang sama di dalam dirinya.

Mungkin karena itulah perjalanan lintas generasi tidak pernah dipahami sebagai pergantian semata. Ia adalah proses meneruskan nyala. Sebuah nyala yang tidak harus memiliki bentuk yang sama dari waktu ke waktu, tetapi tetap berasal dari api yang sama. Dan ketika nyala itu mampu bertahan melewati perubahan zaman, di situlah sebuah warisan nilai membuktikan kekuatannya.

L: Legasi

Banyak orang mewariskan sesuatu kepada generasi berikutnya. Ada yang mewariskan harta, ada yang mewariskan jabatan, ada pula yang mewariskan nama besar yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Namun bagi Thayeb Gobel, warisan memiliki makna yang berbeda. Ia tidak dimulai dari ruang rapat, tidak pula disusun melalui dokumen-dokumen perusahaan. Warisan itu lahir dalam kehidupan sehari-hari, di rumah, di meja makan, dalam percakapan-percakapan sederhana yang perlahan membentuk cara pandang anak-anaknya terhadap kehidupan.

Karena itu, pendidikan yang diberikan kepada keluarga tidak pernah semata-mata bertujuan mempersiapkan penerus usaha. Yang sedang dipersiapkan sesungguhnya adalah manusia. Thayeb Gobel memahami bahwa perusahaan dapat diwariskan melalui dokumen, tetapi nilai hanya dapat diwariskan melalui keteladanan.

Keteladanan yang ia terapkan itu kadang terasa keras. Namun justru di situlah letak pelajaran terdalam yang ingin diwariskannya.

Sebab generasi penerus yang hanya menerima kenyamanan akan mewarisi fasilitas, tetapi belum tentu mewarisi kemampuan. Sebaliknya, generasi penerus yang dibentuk melalui disiplin, tanggung jawab, dan keteladanan punya peluang lebih besar untuk menjaga nilai yang telah dibangun sebelumnya.

Saat itulah falsafah pohon pisang menemukan bentuknya yang paling nyata. Pohon pisang tidak mewariskan batangnya kepada tunas-tunas baru. Ia mewariskan kehidupan. Yang berpindah bukan bentuk luarnya. Yang berpindah adalah daya hidup yang membuat kehidupan itu terus berlanjut.

Demikian pula yang dilakukan Thayeb Gobel. Ia tidak sekadar menyiapkan siapa yang akan melanjutkan perjalanan usahanya. Gobel berusaha memastikan bahwa nilai-nilai yang menjadi dasar perjalanan itu tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itulah legasi yang sesungguhnya tidak dapat dihitung dari jumlah perusahaan yang bertahan atau besarnya aset yang diwariskan. Legasi yang sesungguhnya hidup di dalam cara berpikir, cara bekerja, dan cara memandang manusia.

Ia hidup dalam keputusan-keputusan yang diambil generasi berikutnya ketika tidak lagi berada di bawah bayang-bayang pendirinya. Dan selama nilai itu tetap hidup, selama itulah pengabdian yang pernah ditanamkan akan terus menemukan bentuk-bentuk baru untuk bertumbuh.

O: Obor

Menjelang akhir hayatnya, ketika tubuhnya mulai melemah dan penyakit perlahan menggerus kekuatan yang selama puluhan tahun menemaninya bekerja, Thayeb Gobel memahami sesuatu yang jarang diterima manusia dengan tenang: bahwa setiap kehidupan memiliki batas. Namun sebagaimana falsafah yang diyakininya sejak lama, batas itu tidak pernah dipahaminya sebagai akhir dari segalanya.

Presiden Soeharto memberikan penghormatan terakhir pada almarhum Thayeb Mohammad Gobel yang wafat pada 21 Juli 1984. (Foto: Buku GOBEL Pelopor Industri Elektronika Indonesia (Pengusaha Indonesia dengan Filosofi Usaha Pohon Pisang), karya Ramadhan KH, 2018)

Bahkan pada masa-masa terakhir kehidupannya, perhatian Thayeb Gobel tidak semata tertuju pada dirinya sendiri. Di tengah berbagai upaya pengobatan yang dijalani dan kesadaran bahwa waktu tidak lagi sepanjang dahulu, pikirannya tetap dipenuhi oleh hal-hal yang selama ini menjadi bagian dari pengabdiannya: kesejahteraan karyawan, keberlangsungan usaha, pendidikan generasi penerus, dan nilai-nilai yang harus tetap hidup setelah dirinya tidak lagi hadir.

Sikap itu seolah menjadi cerminan paling utuh dari falsafah pohon pisang. Sebab pohon pisang tidak menunggu tumbang untuk memikirkan masa depan. Jauh sebelum batangnya rebah, ia telah menyiapkan tunas-tunas yang akan melanjutkan kehidupan. Yang dijaganya bukan dirinya sendiri. Yang dijaganya adalah keberlangsungan setelah tugasnya selesai.

Dari sinilah makna kepemimpinan Thayeb Gobel menemukan wujudnya yang paling sederhana sekaligus paling dalam. Kepemimpinan baginya bukan soal mempertahankan diri selama mungkin di pusat segala sesuatu. Kepemimpinan adalah kesediaan mempersiapkan orang lain agar mampu melanjutkan perjalanan ketika saatnya tiba untuk melepaskan tongkat estafet.

Sebagaimana tunas yang tumbuh dari akar yang sama, setiap generasi menghadapi zamannya sendiri, tantangannya sendiri, dan cara-caranya sendiri. Namun api yang mereka bawa berasal dari nyala yang sama.

Mungkin di situlah makna terdalam dari obor yang menjadi penanda kisah ini. Obor tidak pernah diciptakan untuk menerangi satu orang. Ketika berpindah tangan, ia harus dapat menerangi perjalanan orang lain. Dan selama ada yang bersedia menjaganya tetap menyala, cahaya itu tidak pernah benar-benar padam.

Tujuh dekade Gobel Group setelah benih pertama ditanam oleh seorang anak yang pernah memikul dua tandan pisang di Gorontalo, nyala itu hingga kini masih bersinar melintasi waktu. Obor itu hidup dalam nilai yang diwariskan, dalam manusia-manusia yang dibentuk, dan dalam keyakinan bahwa keberhasilan memperoleh maknanya ketika mampu menghadirkan manfaat bagi kehidupan lain.

Sebagaimana pohon pisang yang pernah diamatinya sejak kecil, Thayeb Gobel memahami bahwa ukuran sebuah kehidupan bukan seberapa lama ia bertahan. Ukurannya adalah seberapa banyak tunas yang tetap tumbuh setelah ia pergi.

Dan karena tunas-tunas itu terus tumbuh, pengabdian yang pernah ia nyalakan pun terus menemukan bentuk-bentuk baru untuk hidup. Menjadi obor yang tidak meminta untuk dikenang, tetapi terus menyala karena selalu ada yang menjaga nyalanya. (***)

Referensi dan sumber liputan:

  • Ceramah Thayeb Mohammad Gobel di Universitas Trisakti, Jakarta, 19 Juli 1978.
  • Majalah Selecta, November 1980.
  • Majalah TEMPO, “Rumpun Pisang dan Pajak Rp8 Miliar”, Edisi 22/10, 26 Juli 1980.
  • Majalah TEMPO, “Perginya Sang Induk”, Edisi 22/14, 28 Juli 1984.
  • Majalah TEMPO, “Pengabdian Tiada Henti”, Edisi 42/15, 14 Desember 1985.
  • Buku: GOBEL Pelopor Industri Elektronika Indonesia (Pengusaha Indonesia dengan Filosofi Usaha Pohon Pisang), karya Ramadhan KH, 2018.
  • Buku: Rachmat Gobel yang saya kenal, 2012.

Jurnalis/Editor: Djoni Satria

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

06

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

07

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

Sorotan






Kolom