Nasional
Beranda ยป Berita ยป Pemadaman Bergilir di Jawa: Ada Indikasi Korupsi PLN?

Pemadaman Bergilir di Jawa: Ada Indikasi Korupsi PLN?

Kantor Pusat PLN. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Pemadaman listrik bergilir di pulau jawa oleh PLN disebabkan oleh berberapa faktor mulai dari salah urus supply, distribusi, transmisi, dan tata kelola oleh PLN sendiri.

Akibatnya ada dugaan korupsi manipulasi kualitas dan harga pengadaan batubara yang angkanya menembus angka 40% dari quantiy total batubara yang dibutuhkan oleh subholding PLN, yang diduga merugikan negara triliunan rupiah dan melibatkan Jampidsus Febrie Adriansyah.

Hal tersebut diungkapkan Koordinator Koalisi Sipil Masyarakat Anti Korupsi (KOSMAK), Ronald Loblobly soal pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa, Sabtu (20/06/2026)

Ronald mengatakan ada dugaan batubara yang dipasok ke PLN selama bertahun-tahun ternyata memiliki kualitas kalori  jauh dibawah spesifikasi yakni 3.000 GAR (Gross Caloric Value).

“Padahal, sesuai spesifikasi boiler  PLTU milik PLN, kalori batubara yang diperlukan  adalah 4.400 โ€“ 4.800 GAR,” ungkapnya.

Soal Dana SiLPA Bengkak, Ketua DPRD Kabupaten Serang: Kami Evaluasi Lewat Banggar

Selian itu dia juga memandang pola komunikasi PLN juga cenderung reaktif, defensif, dan seragam.

Akun media sosial mereka sering dibanjiri keluhan yang tidak direspon dengan baik yang disertai penjelasan spesifik.

“Ini mencerminkan kesenjangan komunikasi yang terjadi antara pusat dan unit pelaksana teknis di daerah. Tim komunikasi pusat tidak selalu mendapat data real-time dari lapangan, sehingga hanya bisa memberikan jawaban yang template,” sindir aktivis anti korupsi itu.

Ronald menjelaskan, kejadian pemadaman di periode 2026 ini sangat mungkin menjadi prinsip tes penentu yang menggunakan satu indikator tunggal untuk menilai kualitas, karakter, atau keabsahan suatu hal secara keseluruhan (litmus test) bagi keseriusan transformasi PLN.

“Jika argumen pemerintah masih berputar pada gangguan teknis dan cuaca, tanpa rencana modernisasi yang rigid menjadi hal yang konkret dan terukur, maka ini menandakan penjelasan hanya sebatas business as usual dan publik akan semakin aware untuk bersuara,” kata Ronald.

Sambut Hari Bhayangkara ke-80,Polres Garut Gelar Bakti Sosial Pembagian Sembako

Selain itu isu keadilan distribusi beban padam harus dijawab. Jika benar ada prioritas bagi pelanggan industri tertentu, transparansi ini perlu dibuka agar konsumen rumah tangga tidak selalu dikorbankan.

“Kunci kepercayaan ada di keakuratan informasi. PLN harus berinvestasi pada teknologi smart grid yang memberikan data real-time ke publik, sehingga estimasi waktu perbaikan bisa diandalkan dan akurat,” tegasnya.

PLN Harus Terbuka

Tak kalah penting Ronald menlanjutkan, PLN harus terbuka dan jujur terkait pembelian batubara yang tetap dinyatakan memenuhi spesifikasi. CoA โ€“ dokumen yang diterbitkan oleh surveyor independen โ€“ mencatat mutu sesuai kontrak.

Sebaliknya, catatan operasional PLTU sering menunjukkan gejala kualitas rendah: pembakaran lebih boros, slagging meningkat, dan konsumsi batubara naik tanpa penjelasan teknis lain.

“Pengawasan internal tidak mencatat ketidaksesuaian mutu. Unit Quality Assurance (QA), laboratorium PLTU, dan pemeriksa mutu internal seharusnya mengidentifikasi perbedaan hasil uji bila batubara yang diterima tidak sesuai kontrak. Dan kesenjangan kualitas barubara tidak diikuti penyesuaian harga. Dalam kontrak batubara, harga semestinya disesuaikan bila spesifikasi di bawah standar,” bebernya.

Dinas PUPR Depok Tata Drainase di Jalan Raya Sawangan

Pada akhirnya, pemadaman listrik adalah gejala dari masalah yang jauh lebih sistemik yaitu tata kelola energi yang belum sepenuhnya berorientasi pada konsumen, infrastruktur yang menua, kendala internal dan komunikasi publik yang belum partisipatif.

Selama akar masalah ini tidak dibenahi dengan transparan, pemadaman akan terus menjadi sumber kemarahan publik, sehebat apa pun narasi keberhasilan elektrifikasi yang disampaikan pemerintah.

“Dan bagi publik sendiri harus terus mendata dan mencatatkan kerugian dan lamanya durasi pemadaman, serta menuntut transparansi melalui media sosial atau kanal resmi PLN,” tuntas Ronald. (***)

Jurnalis: Egi
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

06

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

07

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

Sorotan






Kolom