RUZKA INDONESIA — Majalengka sedang punya masalah klasik yang entah kenapa selalu berulang: proyek jalan baru selesai, tapi kualitasnya sudah bikin warga mengelus dada.
Proyek pemeliharaan Jalan Munjul–Ciandeu yang terkerjakan pada 15 Mei 2026 kini jadi sorotan. Belum juga seminggu, jalan tersebut sudah memperlihatkan keretakan di sejumlah titik.
Saat RUZKA INDONESIA kembali mendatangi lokasi pada 17 Mei 2026, kondisi jalan tampak mulai berubah. Sedikitnya ada 11 titik retakan yang terlihat di permukaan aspal.
Beberapa bagian juga mulai tampak tidak rata, jauh dari kesan proyek yang baru selesai terkerjakan.
Padahal Proyek ini Bukan Pekerjaan Kecil
Berdasarkan papan informasi proyek, pemeliharaan jalan tersebut menggunakan anggaran Dana Alokasi Umum (DAU) senilai lebih dari Rp300 juta dan pengerjaan oleh CV Bima.
Publik pun mulai bertanya-tanya: bagaimana mungkin proyek yang baru berumur dua hari sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan?
Pertanyaan itu terasa makin nyaring setelah Bupati Majalengka, Eman Suherman, melontarkan pernyataan keras usai Rapat Paripurna DPRD Majalengka, Rabu (20/5/2026).
“Pembangunan harus segera berjalan dan hasilnya harus benar-benar terasakan masyarakat. Karena itu pengawasan harus ketat,” kata Eman.
Pola yang Sama
Kalimat tersebut memang tidak menyebut proyek tertentu. Namun melihat kondisi Jalan Munjul–Ciandeu, sulit rasanya publik untuk tidak menghubung-hubungkannya.
Apalagi, proyek infrastruktur di daerah sering kali menyisakan pola yang sama: selesai cepat, rusak lebih cepat.
Warga pun akhirnya cuma bisa menonton drama tahunan bernama “pemeliharaan jalan” yang kadang umurnya bahkan kalah panjang dengan musim hujan.
Yang bikin publik makin geregetan, kerusakan dini seperti ini biasanya selalu punya alasan teknis di belakangnya.
Mulai dari kualitas material, proses pengerjaan yang menduga asal kejar target, sampai pengawasan yang sering terdengar galak di rapat tapi entah kenapa lembut di lapangan.
Sampai berita ini turun, belum ada penjelasan resmi dari pihak pelaksana proyek terkait munculnya retakan tersebut.
Belum terketahui apakah akan ada evaluasi, perbaikan total, atau sekadar tambal sulam yang nantinya kembali retak saat ban kendaraan lewat sedikit lebih keras.
Satu hal yang pasti, warga sebenarnya tidak terlalu peduli istilah teknis konstruksi.
ereka cuma ingin jalan yang layak terpakai dan uang ratusan juta dari anggaran daerah tidak berubah jadi proyek cepat retak.
Sebab kalau jalan baru dua hari saja sudah mulai pecah, publik tentu wajar bertanya: yang sedang dibangun ini jalan, atau cuma formalitas penyerapan anggaran? (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar