Nasional
Beranda » Berita » Sanusi, Agen Perisai: Ditolak Berkali-kali, Kini Lindungi Ribuan Pekerja

Sanusi, Agen Perisai: Ditolak Berkali-kali, Kini Lindungi Ribuan Pekerja

Sanusi, Agen Perisai BPJS Ketenagakerjaan di Cianjur, saat memulai aktivitasnya di lapangan. Ia dikenal konsisten melakukan sosialisasi langsung ke masyarakat hingga menjangkau ribuan pekerja informal. (Foto: Dok. Sanusi)

Dari pedagang keliling perlengkapan alat-alat sekolah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sanusi menemukan jalan hidup baru. Lewat kerja sunyi dan konsistensi, ia kini tidak hanya meraih penghasilan dua digit, tetapi juga telah melindungi ribuan pekerja informal dari risiko kehidupan.

RUZKA INDONESIA — Pagi itu, Sanusi kembali menyusuri jalanan Cianjur—bukan lagi untuk menjajakan perlengkapan sekolah seperti dulu, melainkan membawa sesuatu yang tak terlihat, tetapi jauh lebih bernilai yakni perlindungan.

Langkahnya mungkin terlihat biasa, namun di balik setiap pintu rumah yang ia datangi, ada satu misi yang terus ia bawa—meyakinkan para pekerja sektor informal bahwa hidup mereka layak untuk dilindungi oelh negara dan rasa aman didapatkan.

Dulu, ia hanya seorang pedagang keliling. Kini, setelah melewati penolakan demi penolakan, Sanusi menjelma menjadi Agen Perisai BPJS Ketenagakerjaan yang telah menjangkau ribuan orang. Dari perjalanan yang sunyi itu, ia tidak hanya menemukan makna hidup, tetapi juga penghasilan dua digit yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Sanusi tidak pernah membayangkan bahwa profesi barunya akan membuatnya ditolak berkali-kali. “Ditolak dan ditolak,” katanya singkat, mengenang tantangan pertama saat memulai sebagai Agen Perisai (Penggerak Jaminan Sosial Indonesia) BPJS Ketenagakerjaan.

Satu Pelaku Masih Buron, Satuan Narkoba Polres Garut Bekuk Pengedar Sabu

Namun, laki-laki kelahiran 8 Desember 1978 ini tidak mundur. Bahkan, dari penolakan-penolakan itulah ia menemukan formula sederhana namun ampuh: konsistensi.

Kini, di usianya yang ke-48, Sanusi berdiri sebagai salah satu Agen Perisai paling produktif di Jawa Barat. Angka 8.800—jumlah peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, Bukan Penerima Upah (BPU) yang berhasil ia daftarkan—bukan sekadar statistik. Di balik angka itu, ada ribuan cerita pekerja informal yang kini tidur lebih nyenyak, tahu bahwa ada perlindungan menanti jika nasib buruk menimpa.

Dari Pedagang ke Perisai

Sebelum mengenal BPJS Ketenagakerjaan, kehidupan Sanusi berjalan dalam ritme yang sederhana—“baik-baik saja”, begitu ia menyebutnya. Ia adalah pedagang keliling di Cianjur, membawa perlengkapan sekolah dari satu tempat ke tempat lain: seragam, topi, dasi, dan berbagai kebutuhan kecil yang menjadi bagian dari keseharian anak-anak sekolah.

Setiap hari dimulai dengan langkah yang sama. Pagi-pagi ia berangkat, menyusuri jalanan, mengetuk peluang dari satu sudut ke sudut lainnya. Siang dihabiskan di antara tawar-menawar dan sapaan pelanggan. Sore hari, ia pulang dengan lelah yang akrab, lalu bersiap mengulang rutinitas itu keesokan harinya.

Patroli Satuan Samapta Polres Garut Amankan 3 Pemuda Konsumsi Miras


Sanusi, berpose bersama Kunto Wibowo, Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jawa Barat
usai sebuah acara, Maret 2025. (Foto: Dok. Sanusi)

Tidak ada yang benar-benar kurang. Namun juga tidak ada yang benar-benar mendorongnya melangkah lebih jauh. Hidup berjalan stabil—tenang, tetapi tanpa arah yang terasa lebih besar dari sekadar bertahan.

Titik balik datang dari tempat yang tak terduga ketika ia bertemu teman sekolahnya. Dialah yang pertama kali memperkenalkan program Agen Perisai.

“Dikenalkan oleh teman sekolah,” ujar Sanusi, kepada RUZKA INDONESIA, Ahad (3/5/2026) di kediamannya. Menjelaskan bagaimana ia pertama kali mendengar tentang peluang menjadi agen yang mensosialisasikan program jaminan sosial untuk pekerja informal.

Motivasi awalnya? “Mencoba-coba,” jawabnya jujur. Tidak ada idealisme menggebu-gebu apalagi visi heroik. Hanya rasa ingin tahu—sebuah titik awal yang sederhana, namun cukup untuk membuka jalan panjang yang kelak mengubah hidupnya.

Sekolah di Wadah Perisai Nafiz

Berbuntut Panjang, Satgas KTR akan Panggil Anggota Dewan Terekam Merokok di Balai Kota Depok

Perjalanan Sanusi tidak dimulai dengan pengetahuan yang mumpuni. Wadah Perisai Nafiz Sukabumi menjadi “sekolah” pertamanya. “Mendidik,” katanya singkat tentang peran organisasi wadah itu dalam perjalanan awalnya. Di sinilah ia belajar seluk-beluk BPJS Ketenagakerjaan, memahami manfaat program, dan yang paling penting bagaimana mengkomunikasikannya kepada masyarakat awam.

Tapi pengetahuan saja tidak cukup. Realitas lapangan segera menyadarkannya: masyarakat tidak mudah percaya. Apalagi untuk program yang mengharuskan mereka mengeluarkan uang setiap bulan. Penolakan demi penolakan datang bertubi-tubi.

Sanusi, berpose bersama usai memberikan testimoni sebagai
Agen Perisai di depan ARK se-Nasional di Gedung Learning Center BPJS Ketenagakerjaan Bogor,
Jawa Barat, April 2026. (Foto: Dok. Sanusi)

Bagaimana ia menghadapi skeptisisme dan penolakan itu? “Dibiarkan dulu dan nanti diulang kembali setelah banyak bukti,” ungkap Sanusi. Strategi sederhana namun jitu: ia tidak memaksa, tidak berdebat. Ia membiarkan waktu dan bukti nyata berbicara. Ketika ada peserta yang menerima klaim, ketika ada pekerja ojek yang tertolong saat kecelakaan, cerita itu menyebar lebih cepat daripada ceramah panjang lebar.

Strategi Tatap Muka

Di era digital di mana banyak orang mengandalkan media sosial untuk promosi, Sanusi memilih jalan berbeda. “Sosialisasi tatap muka,” tegasnya saat ditanya media apa yang ia gunakan. Ia mengaku berkeliling dari lingkungan rukun tetangga (RT) ke RT, dari majelis taklim ke majelis taklim, dari madrasah ke madrasah.

“Sosialisasi atau penyuluhan di setiap RT dan majelis taklim serta madrasah,” jelasnya tentang strategi menjangkau ribuan peserta. Tidak ada jalan pintas, tidak ada strategi instan. Yang ada adalah sepatu yang terus berjalan, mulut yang terus menjelaskan, dan keyakinan yang terus diulang: perlindungan kerja itu penting.

Apakah ia menggunakan pendekatan personal atau kelompok? “Keduanya,” jawabnya singkat. Sanusi paham betul bahwa setiap orang butuh pendekatan berbeda. Ada yang lebih nyaman mendengar dalam kelompok, ada yang perlu dibujuk satu per satu. Fleksibilitas ini yang membuatnya efektif.

Tapi yang paling krusial adalah konsistensi. “Konsisten terus dilakukan dalam sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan,” ujarnya tentang cara membangun kepercayaan masyarakat. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, konsistensi adalah mata uang kepercayaan yang paling berharga.

Terus Melakukan Tanpa Henti

Apa yang membedakan Sanusi dari Agen Perisai lain? “Terus melakukan tanpa henti dan konsisten,” katanya. Di saat yang lain mungkin menyerah setelah ditolak sepuluh kali, Sanusi datang untuk yang kesebelas kali. Di saat yang lain mungkin lelah setelah mendapat seratus peserta, Sanusi terus bergerak menuju seribu, dua ribu, hingga delapan ribu lebih.

Konsistensi ini bukan tanpa tantangan. Kendala administratif seperti perbedaan data peserta antara KTP dan Kartu Keluarga kerap menjadi batu sandungan. Tapi Sanusi tidak pernah menggunakan kendala teknis sebagai alasan untuk berhenti.

Bagaimana ia menjaga semangat di tengah tantangan? “Sering komunikasi dengan teman seperjuangan antar perisai,” ungkapnya. Dalam komunitas Agen Perisai, mereka saling menguatkan, berbagi strategi, merayakan kemenangan kecil bersama. Sendirian mungkin cepat, tapi bersama lebih jauh efektif—dan Sanusi memahami ini dengan baik.

Juara Tiga Kali

Dedikasi dan konsistensi Sanusi sebagai Agen Perisai tidak luput dari perhatian. Ia meraih penghargaan bergengsi, diantaranya: Juara 1 di Wadah Perisai Nafiz Sukabumi, Juara 1 di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Sukabumi, Juara 1 Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jawa Barat. Tiga gelar juara pertama di tiga level berbeda menjadi bukti nyata bahwa kerja kerasnya diakui.

Tapi saat ditanya apa pencapaian yang paling dibanggakannya, jawaban Sanusi tidak mengarah ke piala atau penghargaan. “Bisa membantu orang banyak di lingkungan,” katanya. Bagi Sanusi, kepuasan terbesar bukan dari pengakuan institusi, melainkan dari dampak nyata di lapangan.

Dampak seperti apa? “Melindungi para pekerja informal Indonesia,” ujarnya tentang bagaimana program ini membantu kehidupan peserta. Dari tukang ojek, pedagang kaki lima, petani kecil, hingga buruh lepas—mereka yang selama ini bekerja tanpa jaring pengaman kini punya perlindungan.

Sanusi meraih Juara 1 Agen Perisai BPJS Ketenagakerjaan Tingkat Jawa Barat 2024, atas dedikasinya dalam memperluas perlindungan bagi pekerja informal. (Foto: Dok. Sanusi)

Perubahan di masyarakat pun mulai terasa. “Antusias,” kata Sanusi singkat. Jika dulu ia harus berulang kali mendatangi orang yang sama, kini banyak yang datang sendiri setelah mendengar testimoni tetangga atau kerabat. Skeptisisme pelan-pelan berubah menjadi antusiasme.

Senang dan Bahagia

Bagaimana perasaan Sanusi saat membantu orang mendapatkan perlindungan sosial? “Senang dan bahagia karena sudah dilindungi BPJS Ketenagakerjaan,” tuturnya. Ada kepuasan batin yang tidak bisa diukur dengan uang—perasaan bahwa hidupnya bermakna, bahwa ia berkontribusi untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Nilai hidup yang memandu langkahnya? “Bisa menolong orang banyak.” Sederhana, namun powerful. Dan ketika ditanya apa yang membuatnya tetap konsisten, jawabannya: “Supaya terus bisa bertahan dan jadi yang terbaik.”

Keluarga pun merespons positif. “Senang dan bangga,” kata Sanusi tentang bagaimana keluarganya melihat pekerjaannya. Dukungan keluarga ini menjadi bahan bakar ekstra di kala lelah melanda.

Siapa sosok yang menginspirasinya? “Evi Haliyati Rachmat,” sebut Sanusi—merujuk pada sosok karyawan BPJS Ketenagakerjaan yang kini menjabat sebagai Kepala BPJS Ketenagakerjaan Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Figur Evi-lah yang menjadi panutan dalam perjalanannya sebagai Agen Perisai.

Langit adalah Batas

Sanusi tidak berhenti di angka 8.800. Targetnya ke depan? “Semakin banyak melindungi para pekerja informal.” Tidak ada angka pasti, tidak ada batas jelas—karena baginya, selama masih ada pekerja informal yang belum terlindungi, masih ada pekerjaan yang harus dilakukan.

Harapannya terhadap program BPJS Ketenagakerjaan? “Semoga tetap menjadi yang terbaik.” Ia berharap program yang telah mengubah hidupnya—dan hidup ribuan pesertanya—terus berkembang dan menjangkau lebih banyak orang.

Apakah ia berencana mengembangkan tim atau komunitas? “Bisa jadi,” jawabnya terbuka. Ekspansi bukan sekadar soal angka, tapi soal gerakan. Semakin banyak agen yang terinspirasi, semakin luas jangkauannya.

Pesannya untuk calon Agen Perisai lain? “Tetap konsisten melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai perisai.” Kata “konsisten” itu lagi—mantra yang ia ulang berkali-kali, karena memang itulah kuncinya.

Dan untuk masyarakat pekerja informal yang masih ragu? “Semoga cepat paham dilindungi BPJS Ketenagakerjaan,” harapnya. Ia tahu bahwa pemahaman butuh waktu, tapi ia percaya bahwa cepat atau lambat, kesadaran akan datang.

Bagaimana ia mendefinisikan “perlindungan kerja”?  Aman dan nyaman. Dua kata sederhana yang merangkum esensi dari apa yang ia perjuangkan selama bertahun-tahun.

Saat diminta satu kalimat yang menggambarkan perjuangannya, Sanusi menjawab dengan penuh keyakinan: “Langit adalah batas kesuksesan seorang Agen Perisai.”

Dari seorang pedagang yang “mencoba-coba”, Sanusi kini menjadi perisai bagi ribuan keluarga. Dan langit memang belum terlihat—masih ada jutaan pekerja informal di luar sana yang menunggu sentuhan konsistensi seperti yang ia miliki. (***)

Jurnalis/Editor: Djoni Satria

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Meluncur Toyota Kijang Super 2026: Tampil Gagah dan Fitur Canggih, Harganya Terjangkau

Sorotan






Kolom