Kolom
Beranda ยป Berita ยป Ribuan Janda Baru di Depok 2025: Ternyata Bukan Karena Faktor Ekonomi

Ribuan Janda Baru di Depok 2025: Ternyata Bukan Karena Faktor Ekonomi

Empat perempuan menunjukkan akta cerai dari layanan pencatatan sipil, mencerminkan meningkatnya angka perceraian di Kota Depok sepanjang 2025 yang didominasi konflik rumah tangga berkepanjangan. (Foto: Ilustrasi AI/Generated)

RUZKA INDONESIA โ€” Kita masih sering mengatakan bahwa keluarga adalah fondasi masyarakat. Tapi kalau melihat data perceraian Kota Depok, Jawa Barat tahun 2025, saya justru melihat fondasi itu sedang retakโ€”dan lebih parahnya, kita seperti pura-pura tidak menyadarinya.

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok tahun 2025 yang bersumber dari Mahkamah Agung (Dirjen Badan Peradilan Agama), data perceraian berdasarkan domisili penggugat, angkanya tidak bisa dianggap biasa: 2.958 perceraian dalam satu tahun. Ini bukan sekadar statistik.

Ini adalah ribuan rumah tangga yang gagal bertahan, ribuan pasangan yang dulu saling memilih namun akhirnya saling meninggalkan, dan ribuan cerita yang tidak sampai pada akhir yang diharapkan.

Namun yang lebih mengganggu bukan jumlahnya, melainkan penyebabnya.

Sebanyak 2.666 kasus perceraian terjadi karena perselisihan dan pertengkaran terus-menerus. Artinya, hampir seluruh perceraian di Depok bukan disebabkan oleh faktor besar seperti kemiskinan ekstrem atau kekerasan berat, melainkan konflik yang berulang, tidak terselesaikan, dan dibiarkan menumpuk.

Catatan Cak AT: Luka Moral Amerika

Sementara itu, faktor ekonomi yang sering dianggap sebagai penyebab utama ternyata hanya menyumbang 138 kasus. Poligami tercatat 27 kasus, kekerasan dalam rumah tangga 26 kasus, meninggalkan pasangan 75 kasus, judi 9 kasus, mabuk 3 kasus, dan faktor lain seperti madat atau cacat badan bahkan hampir tidak signifikan.

Data BPS Kota Depok 2025 menunjukkan angka perceraian mencapai 2.958 perkara, dengan mayoritas disebabkan oleh perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus, jauh melampaui faktor ekonomi maupun penyebab lainnya.
(Sumber: BPS Kota Depok 2025)

Data ini, buat saya, sangat telanjang dalam menyampaikan satu hal: pernikahan hari ini lebih banyak runtuh bukan karena tekanan dari luar, tapi karena kegagalan dari dalam.

Kita tidak sedang kalah oleh keadaan. Kita kalah oleh cara kita sendiri dalam menjalani hubungan. Dan di sinilah masalah sebenarnya.

Kita terlalu sering menyederhanakan pernikahan. Seolah yang penting sah, yang penting pesta, yang penting status berubah. Padahal setelah semua itu selesai, yang tersisa hanyalah dua manusia dengan ego, luka masa lalu, kebiasaan, dan ekspektasi yang sering kali tidak pernah benar-benar dibicarakan sejak awal.

Banyak orang menikah bukan karena siap, tetapi karena merasa โ€œsudah waktunyaโ€. Ada tekanan usia, dorongan keluarga, tuntutan sosial, bahkan ketakutan untuk hidup sendirian. Pernikahan akhirnya dijadikan jalan keluar dari kegelisahan pribadi, bukan sebagai komitmen sadar untuk membangun kehidupan bersama.

Catatan Cak AT: Roblox, Dunia Tanpa Pagar

Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Pernikahan bukan tempat pelarian. Ia justru memperbesar semua hal yang kita bawaโ€”termasuk ketidakdewasaan kita sendiri.

Masalahnya, kita tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana menjalani itu semua. Kita tidak terbiasa berkomunikasi dengan sehat. Kita tidak dilatih menyelesaikan konflik tanpa saling melukai. Kita tidak tahu bagaimana mendengar tanpa defensif. Bahkan sering kali, kita sendiri tidak benar-benar memahami apa yang kita rasakan.

Akhirnya, ketika konflik datangโ€”yang sebenarnya pasti terjadi dalam setiap hubunganโ€”yang muncul bukan penyelesaian, melainkan pertengkaran. Bukan pemahaman, tetapi pembuktian siapa yang lebih benar. Konflik itu tidak pernah selesai, hanya ditunda, lalu muncul lagi dengan bentuk yang lebih besar.

Sampai akhirnya yang habis bukan masalahnya, tetapi kesabaran masing-masing.

Di titik itu, perceraian bukan lagi keputusan besar. Ia hanya menjadi akhir dari kelelahan. Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap peran media sosial. Hari ini, kita terus-menerus melihat gambaran pernikahan yang tampak sempurnaโ€”romantis, mapan, harmonis, tanpa konflik. Semua terlihat ideal.

Catatan Cak AT: Nabung Jantung

Padahal yang kita lihat hanyalah hasil kurasi, bukan realitas. Masalahnya, kita menjadikan itu sebagai standar. Kita membandingkan kehidupan nyata dengan potongan terbaik orang lain. Ketika kenyataan tidak seindah yang dilihat di layar, kita merasa ada yang salah.

Padahal yang salah bukan hubungan kita, tetapi cara kita menilainya.

Dari situlah ketidakpuasan mulai tumbuh. Pelan, tapi pasti. Dan ketika dua orang sama-sama merasa tidak puas tanpa kemampuan untuk membicarakannya dengan sehat, yang terjadi bukan perbaikan, melainkan keretakan.

Kalau mau lebih jujur lagi, ada satu faktor yang sangat dominan tapi sering tidak diakui: ego. Banyak pernikahan tidak hancur karena masalah besar, tetapi karena tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang mau mendengar. Tidak ada yang mau mengakui kesalahan. Semua ingin dimengerti, tapi tidak ada yang mau berusaha mengerti.

Dalam kondisi seperti ini, hubungan berubah menjadi arena pertarungan. Siapa yang paling benar. Siapa yang paling kuat. Siapa yang terakhir bicara.

Padahal dalam hubungan, tidak ada pemenang. Yang ada hanya dua orang yang sama-sama kalah ketika hubungan itu rusak.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah ketahanan emosional. Kita hidup di era serba cepat, di mana semuanya ingin instan. Pola ini tanpa sadar terbawa ke dalam hubungan. Ketika hubungan terasa sulit, tidak nyaman, atau tidak sesuai harapan, banyak yang memilih keluar daripada bertahan.

Padahal hubungan tidak pernah dirancang untuk selalu nyaman. Ia dirancang untuk bertumbuh. Dan pertumbuhan itu sering kali tidak enak. Butuh kesabaran, waktu, dan usaha.

Tanpa ketahanan emosional, masalah kecil pun bisa terasa besar. Dan ketika tidak ada daya tahan, hubungan yang sebenarnya masih bisa diperbaiki justru berakhir.

Saya tidak mengatakan bahwa semua perceraian adalah kegagalan. Dalam kondisi tertentu, seperti kekerasan dalam rumah tangga, perceraian justru menjadi keputusan yang tepat. Tapi ketika hampir 3.000 pasangan berpisah dalam satu kota, dan sebagian besar karena konflik yang sebenarnya bisa diselesaikan, kita tidak bisa lagi menyebut ini sekadar masalah pribadi.

Ini masalah sosial. Ini cermin. Cermin tentang bagaimana kita gagal memahami hubungan.
Cermin tentang bagaimana kita terburu-buru berkomitmen tanpa kesiapan. Cermin tentang bagaimana kita lebih sibuk terlihat bahagia daripada benar-benar membangun kebahagiaan.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang salah. Tapi: kita mau jujur atau tidak melihat ini? Karena kalau tidak ada perubahan cara pandang, angka ini bukan akan turunโ€”justru akan naik.

Masalahnya bukan di angka. Masalahnya ada di cara kita memaknai pernikahan itu sendiri.

Kita perlu berhenti melihat pernikahan sebagai pencapaian, dan mulai melihatnya sebagai proses. Kita perlu berhenti mencari pasangan yang sempurna, dan mulai belajar menjadi pasangan yang cukup dewasa. Kita perlu berhenti membuktikan siapa yang benar, dan mulai belajar menjaga apa yang kita punya.

Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang siapa yang paling kuat bertahan, tetapi siapa yang cukup sadar untuk terus memperbaiki.

Dan kalau angka 2.958 ini belum cukup membuat kita berpikir, mungkin memang bukan pernikahannya yang bermasalah. Tapi cara kita memaknainya. Dan mungkin, ini pertanyaan paling jujur yang perlu kita hadapi hari ini. Apakah kita benar-benar siap menikah, atau hanya tidak siap sendirian? (***)

Kolumnis: Djoni Satria/ Wartawan Senior

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom