RUZKA INDONESIA โ Pagi itu, suasana di Kantor Desa Sukakerta, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat terasa berbeda. Tidak seperti biasanya yang dipenuhi urusan administrasi warga, hari itu ruangan diselimuti sedikit nuansa haru. Sejumlah perangkat desa, perwakilan BPJS Ketenagakerjaan, hingga beberapa tokoh masyarakat sekitar hadir menyaksikan sebuah momen yang sederhana namun penuh makna: penyerahan santunan Jaminan Kematian (JKM) kepada keluarga almarhumah Aday.
Di tengah ruangan, Samin (56) duduk dengan wajah tenang, meski jelas masih menyimpan kesedihan mendalam. Ia baru saja kehilangan sosok yang selama ini menjadi pendamping hidupnyaโAday, seorang perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai petani sekaligus ibu rumah tangga.
Namun di balik duka itu, ada satu hal yang sedikit meringankan langkahnya ke depan. Hari itu, ia menerima santunan sebesar Rp42 juta dari BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bekasi Cikarangโhak yang diperoleh dari kepesertaan almarhumah sebagai pekerja sektor Bukan Penerima Upah (BPU).
Perempuan Sederhana dengan Peran Besar
Aday bukanlah sosok yang dikenal luas. Namun seperti jutaan perempuan Indonesia lainnya, ia memegang peran penting dalam keluarganya.
Setiap hari, ia membantu suami mengolah lahan pertanian, memastikan hasil panen cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sela-sela aktivitas itu, ia juga menjalankan perannya sebagai ibu rumah tanggaโmengurus rumah, memasak, dan menjaga keharmonisan keluarga.
โAlmarhumah itu orangnya pekerja keras. Tidak pernah diam,โ kenang salah satu warga yang mengenalnya.
Sebagai petani, penghasilan Aday dan suami tentu tidak menentu, bergantung pada musim, hasil panen, dan kondisi pasar. Namun satu hal yang tidak pernah ia abaikan adalah keinginannya memberikan rasa aman bagi keluarganya.
Keputusan untuk mendaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan menjadi salah satu langkah penting yang diambilnya. Sebuah keputusan yang mungkin terlihat kecil saat itu, tetapi kini terasa sangat besar manfaatnya.
Perlindungan untuk Semua, Termasuk Pekerja Informal
Aday merupakan peserta BPJS Ketenagakerjaan dari sektor Bukan Penerima Upah (BPU). Artinya, ia bukan pekerja formal dengan gaji tetap, melainkan pekerja mandiri yang secara sadar mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan perlindungan sosial.

Kepesertaannya juga tidak lepas dari peran Wadah Perisai Lavandafood MDH Bekasi Cikarang, yang aktif mengedukasi masyarakat melalui Agen Perisainya tentang pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan.
Melalui pendekatan langsung ke masyarakat, Agen Perisai Lavandafood MDH membantu menjangkau kelompok pekerja informalโmulai dari petani, pedagang kecil, hingga pekerja lepasโyang selama ini kerap luput dari perlindungan.
Dan Aday adalah salah satu dari mereka yang berhasil dijangkau.
Hari Penyerahan yang Penuh Makna
Santunan JKM tersebut diserahkan langsung oleh Ridwan, Kepala Bidang Kepesertaan Program Khusus BPJS Ketenagakerjaan Bekasi Cikarang. Acara berlangsung sederhana, namun sarat makna.
Turut hadir dalam kesempatan itu Kepala Desa Sukakerta, Disan, yang menyaksikan langsung penyerahan santunan kepada warganya.
Ridwan dalam sambutannya menyampaikan bahwa santunan ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara melalui BPJS Ketenagakerjaan.
โKami turut berduka cita atas meninggalnya almarhumah Aday. Santunan ini adalah hak peserta yang telah terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan sejak 1,5 tahun lalu. Ini adalah bentuk perlindungan bagi keluarga yang ditinggalkan, agar tetap bisa melanjutkan kehidupan dengan lebih tenang,โ ujar Ridwan kepada RUZKA INDONESIA, Kamis (2/4/2026) usai penyerahan santunan.

Ia juga menegaskan bahwa program ini terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat, tidak terbatas pada pekerja formal saja.
โKami ingin menyampaikan bahwa siapa pun pekerjaannyaโbaik petani, pedagang, maupun pekerja mandiri lainnyaโmemiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan,โ tambahnya.
Peran Wadah Perisai: Menjangkau yang Tak Terjangkau
Di balik kepesertaan Aday, ada peran penting dari Wadah Perisai Lavandafood MDH Bekasi Cikarang. Organisasi ini menjadi jembatan antara BPJS Ketenagakerjaan dengan masyarakat, khususnya mereka yang berada di sektor informal.
Ketua Wadah Perisai, Lanin Alawin, mengungkapkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya perlindungan jaminan sosial.
โKami terus berupaya mengedukasi masyarakat, terutama pekerja informal, agar mereka menyadari pentingnya memiliki perlindungan. Banyak yang merasa belum perlu, padahal risiko bisa datang kapan saja,โ jelas Lanin.
Menurutnya, almarhumah Aday menjadi contoh nyata bagaimana program ini benar-benar memberikan manfaat.
โApa yang diterima oleh keluarga almarhumah hari ini adalah bukti nyata. Ini bukan sekadar program, tetapi perlindungan yang benar-benar dirasakan ketika risiko itu datang,โ lanjut Lanin.
Di Tengah Kehilangan, Hadir Sebuah Harapan
Bagi Samin, santunan Rp42 juta ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada rasa haru atas kehilangan seorang istri. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa keputusan istrinya untuk menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan akan memberikan dampak sebesar ini.
Dengan suara yang tertahan, ia menyampaikan rasa terima kasihnya.
โSaya mengucapkan terima kasih kepada BPJS Ketenagakerjaan dan semua pihak yang telah membantu. Santunan ini sangat berarti bagi kami, terutama setelah kepergian istri saya,โ ucapnya.
Santunan tersebut rencananya akan digunakan untuk menunjang keberlangsungan hidup keluarga ke depan.
Di tengah kondisi yang tidak mudah, bantuan ini menjadi semacam penyanggaโmemberikan ruang bagi keluarga untuk beradaptasi dengan kehilangan tanpa harus langsung terbebani masalah ekonomi.
Pelajaran dari Sebuah Kehidupan Sederhana
Kisah Aday mungkin sederhana, tetapi menyimpan pelajaran penting bagi banyak orang. Bahwa perlindungan sosial bukan hanya untuk mereka yang bekerja di kantor atau memiliki penghasilan tetap.
Justru bagi pekerja informal yang penghasilannya tidak menentu, perlindungan seperti ini menjadi semakin penting.
Risiko kehidupan tidak pernah bisa diprediksi. Kecelakaan, sakit, hingga kematian bisa datang kapan saja. Tanpa perlindungan, keluarga yang ditinggalkan bisa menghadapi beban yang jauh lebih berat.
Namun dengan adanya jaminan sosial, setidaknya ada sedikit kepastian di tengah ketidakpastian.
Harapan ke Depan
Melalui momen ini, BPJS Ketenagakerjaan berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya menjadi peserta.
Upaya sosialisasi akan terus dilakukan, termasuk melalui kolaborasi dengan Wadah Perisai dan pemerintah desa.
Kepala Desa Sukakerta, Disan, juga menyampaikan dukungannya terhadap program ini. Ia berharap warganya semakin sadar akan pentingnya perlindungan sosial.
โIni menjadi pembelajaran bagi kita semua. Saya berharap ke depan semakin banyak warga yang mendaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan,โ ujarnya singkat.
Lebih dari Sekadar Santunan
Apa yang terjadi di Kantor Desa Sukakerta hari itu bukan sekadar seremoni penyerahan santunan. Ia adalah potret nyata bagaimana sebuah program dapat menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.
Di balik angka Rp42 juta, ada cerita tentang seorang perempuan yang dengan kesederhanaannya telah mengambil langkah bijak untuk melindungi keluarganya.
Aday mungkin telah tiada, tetapi warisan yang ia tinggalkan bukan hanya kenangan. Ia juga meninggalkan rasa amanโsesuatu yang tidak ternilai harganya.
Kisah Aday menjadi pengingat bahwa perlindungan hari ini adalah ketenangan bagi keluarga di masa depan. Peran Agen Perisai di lapangan menjadi ujung tombak dalam menghadirkan perlindungan ini.
Dan bagi Samin, serta keluarganya, santunan itu bukan hanya bantuan finansial. Ia adalah bukti bahwa di tengah kehilangan, masih ada kepedulian yang hadir, memberikan kekuatan untuk melanjutkan hidup. (***)
Jurnalis/Editor: Djoni Satria


Komentar
Semoga makin banyak yang terbantu oleh bpjs ketenagakerjaan khususnya para pekerja bukan penerima upah