RUZKA INDONESIA — Dalam diskusi di TV One News, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi dikasih paham sama Wakil Ketua BEM UI, Fatimah Azzahra terkait penanganan korupsi.
Hasan Nasbi menjelaskan, ketika korupsi terjadi, harus paham white colour crime itu cangih. Jadi tidak sesederhana melihat copet kemudian tangkap tangan, begitulah lagi copet.
Tapi, white colour crime ini cangih dan muter-muter. Jadi, ketika ingin mengungkapnya harus mempunyai fakta-fakta yang kuat.
“Dan, sekarang setelah fakta-fakta kuat, temuan BPKP yang luar biasa, ini langsung di eksekusi tanpa tedeng aling-aling Presiden berhentikan orangnya, dan orangnya besok langsung ditahan langsung di usut oleh Kejaksaan Agung,” ungkapnya.
Menurut Hasan Nasbi, hal itu sebagai bentuk komitmen dan itu orang yang sangat dekat dengan Presiden. Jadi bukan orangnya yang jaraknya satu kilo dari Presiden, itu orangnya jaraknya satu meter dari Presiden, tanpa tedeng aling-aling.
“Jadi, ini bentuk komitmen dari mengedepankan pemberantasan korupsi karena bagian dari Asta Cita itu juga poin terpentingnya dalam pemberantasan korupsi,” terangnya.
Jadi, lanjut Hasan Nasbi, pemerintah dalam hal ini tidak minta dikasihani. Pemerintah ingin menjelaskan supaya, sudut pandang masyarakat itu tidak hanya 45 derajat, tidak hanya 90 derajat, tapi bisa berputar, bisa melihat keseluruhan aspek, sehingga nanti bisa menimbang dengan adil.
“Kita tidak akan mendikte timbangannya akan seperti apa? Tapi kalau kita sudah ajak memutar semuanya, saya yakin timbangannya meski versi masing-masing, akan jauh lebih adil,” jelasnya.
Penjelasan Cerdas Fatimah Azzahra
Tampak, Fatimah Azzahra menyimak apa yang diutarakan Hasan Nasbi dan sepertinya sudah tidak sabar ingin memberikan pemahaman.
“Bang Hasan Nasbi ya. Tadi mengatakan bahwa ini orang terdekat Presiden, sehingga lagi-lagi itu adalah suatu bentuk komitmen, lagi-lagi. Mungkin disinilah kita aggre to this aggre ya bahwa ternyata barometer bagi pemerintah mungkin adalah menangkap orang yang dekat dengan kita, menangkap orang tanpa tedeng aling-aling, tapi masalahnya bagi mahasiswa, bagi rakyat, mungkin ya, bahwa keberhasilan itu adalah ketika tidak ada lagi korupsi,” tutur Fatimah Azzahra.
Dengan cerrdas, dia mengutarakan, sehingga yang harus dikejar itu adalah sistem bukan perorangan. Dalam satu konsep bernegara, tidak mengincar orang untuk membuat negara ini tidak ada lagi korupsinya.
“Kita mengejar sistem, bagaimana bisa menerapkan suatu sistem yang seminimal mungkin terjadi korupsi. Nah, ketika orang terdekat Presiden aja melakukan korupsi, bisa melakukan korupsi, padahal Presidennya show what full, jadi kalau kita ibaratkan tadi dari bang Hasan Nasbi kan, Prabowo sudah mengawasi semuanya nih, kalian semua jangan sampai korupsi. Tapi, disini aja ada yang korupsi, bagaimana yang disana, jauh-jauh disana,” papar Fatimah Azzahra.
Jadi, lanjut Fatimah Azzahra, sebetulnya adanya korupsi dan di tangkap dan sebagainya itu bukan bukti keberhasilan.
“Tapi itu adalah bukti bahwa sistem yang dibentuk itu masih gagal untuk menghindar kita dari kerugian korupsi,” pungkasnya.
Hasan Nasbi sepanjang penjelasan Fatimah Azzahra tampak terdiam dan sesekali menganguk malu. (***)
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com






Komentar