RUZKA INDONESIA โ Di sebuah aula sederhana di Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, puluhan orang tampak duduk serius menyimak materi. Mereka bukan pegawai kantoran, bukan pula pejabat tinggi. Mereka adalah warga desaโperangkat desa, tokoh masyarakat, hingga relawanโyang hari itu bersiap mengemban peran baru: menjadi Perisai Desa.
Sebanyak 50 peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bogor hadir dalam kegiatan ini. Mereka dipersiapkan sebagai calon Perisai Desa yang akan menjadi ujung tombak perlindungan sosial di wilayahnya masing-masing.
Para peserta berasal dari sejumlah kecamatan seperti Cariu, Cigombong, Cigudeg, Ciseeng, Citeureup, Jonggol, Megamendung, Pamijahan, Parung Panjang, Ranca Bungur, Rumpin, hingga Sukamakmur. Kehadiran mereka menjadi representasi semangat kolektif dalam membangun perlindungan dari tingkat desa.
Di tangan mereka, harapan perlindungan bagi pekerja informal mulai dibangun. Program ini bukan sekadar pelatihan biasa. Ini adalah langkah nyata yang digagas BPJS Ketenagakerjaan Bogor-Cileungsi untuk membawa perlindungan sosial lebih dekat ke masyarakat, bahkan hingga ke pelosok desa yang selama ini sulit dijangkau.
Wajah Baru Perlindungan dari Desa
Selama bertahun-tahun, pekerja informalโseperti petani, ojek online, pedagang kecil, buruh harian, hingga pelaku usaha mikroโsering kali berada di posisi rentan. Mereka bekerja tanpa jaminan, tanpa perlindungan, dan tanpa kepastian ketika risiko datang. Di sinilah peran Perisai Desa hadir.
Mereka bukan sekadar perpanjangan tangan lembaga, tetapi menjadi wajah baru perlindungan sosial di tingkat akar rumput. Mereka hadir sebagai orang yang dikenal, dipercaya, dan dekat dengan masyarakat. Pendekatan ini sederhana, namun kuat: dari Perisai Desa, oleh desa, untuk desa.
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Bogor-Cileungsi, Andi Widya Leksana, menegaskan bahwa pendekatan ini memang dirancang untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat.

(Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)
โPerisai Desa ini kami dorong agar perlindungan jaminan sosial tidak lagi jauh dari masyarakat, tetapi hadir langsung di tengah-tengah mereka melalui orang-orang yang mereka kenal dan percaya,โ kata Andi kepada RUZKA INDONESIA, Kamis (23/4/2026), di Ciseeng, Bogor.
Peran yang Lebih dari Sekadar Sosialisasi
Menjadi Perisai Desa bukan hanya soal menyampaikan informasi. Lebih dari itu, mereka memegang peran penting sebagai penghubung antara masyarakat dengan sistem perlindungan sosial.
Mereka akan mendatangi warga, menjelaskan manfaat jaminan sosial, membantu proses pendaftaran, serta mendampingi saat terjadi risiko seperti kecelakaan kerja hingga pengajuan klaim jika terjadi musibah kematian. Peran ini membutuhkan bukan hanya pengetahuan, tetapi juga empati.
Karena yang mereka hadapi bukan sekadar angka statistik, melainkan kehidupan nyataโkeluarga yang bergantung pada satu pencari nafkah, pekerja informal yang harus tetap bekerja meski dalam kondisi berisiko, dan masyarakat yang selama ini belum tersentuh perlindungan.
Peran strategis ini juga ditegaskan oleh Andi.
โPerisai Desa adalah garda terdepan kami. Mereka bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi memastikan masyarakat desa benar-benar terlindungi.โ
Sanusi: Dari Agen Biasa Jadi Inspirasi
Di tengah pelatihan itu, ada satu sosok yang menarik perhatian peserta. Namanya Sanusi, seorang Agen Perisai dari Sukabumi yang diundang untuk berbagi pengalaman. Dengan gaya santai, ia menceritakan perjalanannya menjadi agen Perisai.
โMenjadi Agen Perisai itu bukan sekadar kerja, tapi panggilan untuk membantu masyarakat agar lebih terlindungi,โ ujarnya.
Awalnya, ia hanya mencoba. Namun, seiring waktu, ia mulai melihat dampak nyata dari perannya. Banyak warga yang sebelumnya tidak memahami pentingnya jaminan sosial kini mulai sadar dan mendaftar. Tidak hanya itu, secara ekonomi pun ia merasakan perubahan.
โDengan konsistensi dan pendekatan yang tepat, saya bisa mencapai penghasilan dua digit setiap bulan,โ ungkapnya.

Namun bagi Sanusi, bukan itu yang paling penting.
โYang paling penting adalah kepercayaan masyarakat. Kalau mereka percaya, semuanya akan lebih mudah,โ tuturnya.
Kisah Sanusi menjadi bukti bahwa peran Perisai Desa bukan hanya berdampak sosial, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat desa.
Membangun Kepercayaan dari Kedekatan
Salah satu kunci keberhasilan Perisai Desa adalah kedekatan mereka dengan masyarakat. Berbeda dengan pendekatan formal yang sering kali terasa jauh, Perisai Desa hadir sebagai bagian dari komunitas itu sendiri. Mereka mengenal warga, memahami kondisi lingkungan, dan berbicara dengan bahasa yang sama.
Inilah yang membuat pesan yang disampaikan lebih mudah diterima.
Ketika seorang tetangga menjelaskan pentingnya perlindungan, dampaknya tentu berbeda dibandingkan dengan sosialisasi formal yang kaku. Pendekatan ini juga membantu menghapus stigma bahwa mengurus jaminan sosial itu rumit dan jauh.
Kini, layanan hadir langsung di desaโdi lingkungan yang akrab bagi masyarakat. Hal ini juga menjadi bagian dari perubahan strategi yang diusung BPJS Ketenagakerjaan.
โKami ingin mengubah pola pendekatan, dari yang sebelumnya menunggu masyarakat datang, menjadi hadir langsung dari desa untuk desa,โ ujar Andi.
Tantangan di Lapangan
Andi mengakui bahwa meski memiliki peran strategis, perjalanan menjadi Perisai Desa tidak selalu mudah. Masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya jaminan sosial. Ada pula yang merasa belum membutuhkan, atau bahkan skeptis terhadap program tersebut.
Di sinilah peran edukasi menjadi sangat penting. Perisai Desa harus mampu menjelaskan dengan cara yang sederhana, relevan, dan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Mereka harus sabar, konsisten, dan tidak mudah menyerah. Karena perubahan tidak terjadi dalam semalam.
Senada dengan Andi, Sanusi pun mengakui bahwa tantangan terbesar ada pada proses membangun kepercayaan.
โAwalnya memang tidak mudah, tapi ketika masyarakat mulai percaya dan merasakan manfaatnya, semuanya jadi lebih ringan,โ ujar Sanusi.
Dari Literasi Menuju Aksi Nyata
Program Sekolah Perisai Desa menjadi langkah awal dalam membekali para Perisai Desa dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.
Namun pelatihan hanyalah awal. Setelah itu, mereka akan kembali ke desa masing-masing, membawa misi untuk meningkatkan literasi dan mendorong masyarakat agar ikut serta dalam program jaminan sosial.
Target yang diberikan pun cukup menantang: setiap Perisai Desa diharapkan mampu mendaftarkan puluhan pekerja informal di wilayahnya.
Namun lebih dari sekadar target angka, yang dibangun adalah kesadaran bahwa perlindungan bukan pilihan, melainkan kebutuhan.
โPekerja informal selama ini menjadi kelompok yang paling rentan. Melalui Perisai Desa, kami ingin memastikan mereka tidak lagi berjalan sendiri menghadapi risiko,โ tegas Andi.
Harapan untuk Desa yang Lebih Tangguh
Dengan adanya Perisai Desa, diharapkan desa tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga menjadi pusat perlindungan sosial.
Ketika masyarakat desa memiliki akses terhadap jaminan sosial, maka mereka memiliki perlindungan ketika menghadapi risiko.
Ketika pekerja informal terlindungi, keluarga menjadi lebih tenang. Dan ketika keluarga kuat, maka desa pun menjadi lebih tangguh.
โHarapan kami, setiap desa memiliki Perisai Desa yang aktif, yang mampu membangun kesadaran bahwa perlindungan sosial bukan pilihan, tetapi kebutuhan,โ papar Andi.
Gerakan yang Tumbuh dari Akar Rumput
Program ini bukan sekadar kebijakan dari atas, tetapi gerakan yang tumbuh dari bawahโdari masyarakat itu sendiri. Perisai Desa menjadi simbol bahwa perubahan bisa dimulai dari siapa saja, dari mana saja.
Dari seorang warga desa yang peduli, dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, hingga akhirnya membawa dampak besar bagi banyak orang.
Lebih dari Sekadar Program
Pada akhirnya, Perisai Desa bukan hanya tentang program BPJS Ketenagakerjaan. Ini adalah tentang membangun kesadaran, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan perlindungan bagi mereka yang selama ini sering terabaikan.
Perisai Desa adalah wajah dari perubahan itu. Mereka bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga penjaga harapan.
Dari Desa, Harapan Itu Dimulai
Di tengah tantangan yang ada, langkah ini menjadi bukti bahwa solusi tidak selalu harus datang dari pusat.
Justru dari desa, dari kedekatan, dari kebersamaanโperlindungan itu bisa dibangun dengan lebih kuat dan berkelanjutan. Perisai Desa diharapkan berdiri di garis depan.
Mereka berjalan dari rumah ke rumah, dari satu warga ke warga lainnya, membawa pesan sederhana namun penting: bahwa setiap pekerja informal berhak terlindungi.
Dan dari desa, harapan itu kini benar-benar mulai tumbuh. (***)
Jurnalis/Editor: Djoni Satria


















Komentar