Bisnis
Beranda ยป Berita ยป Gobel Group Pulang Kampung, Menanam Masa Depan

Gobel Group Pulang Kampung, Menanam Masa Depan

Tujuh dekade setelah merintis radio transistor pertama Indonesia, Gobel Group kembali ke tanah kelahiran pendirinya di Gorontalo dengan membangun ekosistem yang menghubungkan petani, nelayan, UMKM, industri, logistik, dan teknologi sebagai fondasi pembangunan lintas generasi. (Ilustrasi: RUZKA INDONESIA)

Tujuh dekade setelah seorang anak Gorontalo merantau dan membangun radio transistor pertama Indonesia, kelompok usaha yang ia dirikan memilih merayakan usia ke-70-nya bukan di Jakarta, melainkan di Gorontalo, bertepatan dengan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII yang berlangsung 20โ€“25 Juni 2026. Yang dibawa pulang bukan kenangan. Di balik pilihan itu tersimpan pertanyaan yang lebih besar: masa depan seperti apa yang sedang ditanam di sana?

RUZKA INDONESIA โ€” โ€œPara penumpang yang terhormat, kita baru saja mendarat di Bandar Udara Djalaluddin di Gorontalo. Selamat datang di Gorontalo. Silakan tetap duduk sampai pesawat ini telah berhenti dengan sempurna dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah dipadamkan. Sebelum meninggalkan pesawat, pastikan tidak ada barang-barang bawaan Anda yang tertinggal. Kami ucapkan selamat menikmati kunjungan di Gorontalo.โ€

Pengumuman itu bergema dari pengeras suara kabin ketika pesawat mulai menurunkan kecepatan di landasan Bandar Udara Djalaluddin. Dari balik jendela, hamparan hijau perlahan menggantikan gumpalan awan yang sejak tadi mengiringi perjalanan. Garis pantai membentang di kejauhan, sementara petak-petak sawah dan lahan pertanian tampak seperti anyaman yang menutupi permukaan bumi.

Sulit mengabaikan bentang alam itu. Sebab di sanalah, pada penghujung Juni 2026, perhatian ribuan petani, nelayan, penyuluh, akademisi, pelaku usaha, dan pejabat pemerintah dari berbagai daerah di Indonesia sedang tertuju. Bagi sebagian orang, Gorontalo mungkin hanya satu provinsi kecil di utara Sulawesi. Namun pada saat itu, daerah ini menjelma menjadi panggung nasional yang mempertemukan harapan, pengetahuan, dan masa depan pertanian dan perikanan Indonesia.

Kesan itu semakin kuat begitu meninggalkan kawasan bandara. Sepanjang perjalanan menuju Limboto, Kabupaten Gorontalo, berbagai penanda Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 hadir hampir di setiap sudut jalan. Baliho dan umbul-umbul berdiri berderet menyambut tamu yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Kendaraan yang melintas membawa identitas kontingen dari provinsi masing-masing, sementara bentor, kendaraan roda tiga yang menjadi ikon transportasi Gorontalo, hilir mudik mengantar penumpang dari satu titik ke titik lain.

PLN Icon Plus Perkuat Sinergi dengan Dunia Pendidikan melalui Program Iconnectivity for Education

Gubernur Pemprov Gorontalo, Gusnar Ismail saat sosialisasi PENAS Petani Nelayan XVII 2026, Kabupaten Gorontalo, Maret 2026. Gorontalo bersiap berbulan-bulan sebelum 50.000 petani dan nelayan dari seluruh Indonesia tiba di provinsi ini.
(Foto: Berita.gorontaloprov.go.id/Haris)

Di sejumlah kawasan, rumah-rumah warga bahkan bertransformasi menjadi homestay sederhana untuk menampung gelombang tamu yang terus berdatangan. Seolah seluruh Gorontalo sedang bersiap menyambut perhelatan yang lebih besar daripada sekadar sebuah pameran pertanian dan perikanan.

Sekitar 50.000 petani, nelayan, penyuluh, dan pelaku agribisnis se-Indonesia berkumpul dalam PENAS Petani Nelayan XVII yang berlangsung 20โ€“25 Juni 2026. Mereka membawa pengalaman dari sawah, ladang, tambak, dan laut, sekaligus satu cita-cita besar yang terangkum dalam tema perhelatan: โ€œTransformasi Teknologi dalam Mendukung Swasembada Pangan Nasionalโ€ menuju Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045.

Di tengah keramaian itu, berlangsung pula sebuah peristiwa lain yang tidak kalah bermakna. Sebuah kelompok usaha nasional yang menaungi lebih dari 18.000 karyawan dan telah tumbuh selama tujuh dekade memilih merayakan ulang tahun ke-70-nya di provinsi ini, bersamaan dengan PENAS XVII. Pilihan itu mengundang pertanyaan. Mengapa Gorontalo? Mengapa bukan Jakarta sebagai tempat pusat bisnis mereka berada?

Semakin jauh menelusuri jawabannya, semakin tampak bahwa keputusan itu bukan sekadar penghormatan terhadap tanah kelahiran Thayeb Mohammad Gobel, pendirinya. Di balik peringatan tujuh dekade Gobel Group, tersimpan gagasan yang lebih besar: upaya menerjemahkan warisan nilai menjadi agenda pembangunan yang bertumpu pada petani, nelayan, UMKM, sumber daya manusia, dan potensi daerah yang selama ini menunggu untuk dihubungkan dengan peluang yang lebih luas.

Kepulangan yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

GM For A Day 2026 Hadir Kembali, Anak-Anak Ambil Alih Operasional Hotel Sehari

Rachmat Gobel, generasi pertama dari Gobel Group, tidak perlu banyak kata untuk menjelaskan mengapa Gorontalo yang dipilih sebagai pusat perayaan.

โ€œIni (Gorontalo) adalah kampung halaman saya,โ€ katanya kepada wartawan di kawasan wisata Pentadio Resort Gorontalo, Jumat malam (19/6/2026).

Rachmat Gobel berfoto bersama warga di lokasi PENAS Petani Nelayan XVII, Limboto, Kabupaten Gorontalo, Juni 2026.
Sambutan hangat masyarakat menjadi cerminan kedekatan keluarga Gobel dengan tanah kelahiran pendirinya.
(Foto: Go-pena.id)

Bagi Rachmat, Gorontalo bukan sekadar tempat asal. Dalam buku Rachmat Gobel yang Saya Kenal, terbitan 2013, ia mengenang dua amanat terakhir sang ayah menjelang akhir hayatnya: agar jenazahnya dibawa pulang ke Gorontalo, dan agar perusahaan yang telah dirintisnya dijaga dan diamankan.

โ€œAyah meminta kepada saya untuk membawa pulang jenazahnya ke Gorontalo. Dan amanat kedua adalah membantu mengamankan perusahaan,โ€ kenangnya. Saat itu ia baru berusia 22 tahun. Di dalamnya tersimpan kepercayaan, tanggung jawab, dan estafet perjuangan yang kelak menentukan arah perjalanan Gobel Group.

Sejarah mencatat Thayeb Mohammad Gobel sebagai pelopor industri elektronik nasional yang pada 1956 merintis produksi radio transistor pertama di Indonesia dengan merek dagang Tjawang, sekaligus tokoh yang membangun kemitraan strategis dengan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. (saat ini Panasonic Corporation), salah satu perusahaan elektronik dan kelistrikan terkemuka di dunia, sejak 1960. Salah satu kemitraan bisnis Indonesia-Jepang terpanjang dalam sejarah industri nasional.

Tingkatkan Kualitas Layanan Purna Jual, MMKSI Resmikan Fasilitas Bodi & Cat Ketiga di Jateng

Konosuke Matsushita (kiri), pendiri Matsushita Electric Industrial Co., Ltd., berdiskusi dengan Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel (kanan). Pertemuan dan persahabatan keduanya menjadi salah satu titik balik penting dalam perjalanan industri elektronik Indonesia, sekaligus membuka jalan bagi transfer teknologi dan kerja sama ekonomi Indonesiaโ€“Jepang yang berkelanjutan.
(Foto: Dok. Gobel Group)

Namun sebelum semua pencapaian itu hadir, Thayeb adalah putra Gorontalo yang menyaksikan bagaimana jarak menjadi penghalang bagi masyarakat daerah untuk memperoleh akses yang sama seperti mereka yang hidup di pusat pertumbuhan.

Pengalaman itulah yang tampaknya membentuk cara pandangnya ketika kelak membangun usaha. Suatu ketika, Presiden Soekarno bertanya mengapa dirinya memilih memproduksi radio transistor. Jawaban Thayeb Gobel terdengar sederhana, tetapi jauh melampaui urusan bisnis semata: radio itu dibuat agar pidato presiden dapat didengar oleh masyarakat yang tinggal di desa-desa, di kaki gunung, di pulau-pulau terpencil, bahkan di tempat yang saat itu belum menikmati aliran listrik.

Jawaban tersebut tidak sedang berbicara tentang radio. Di dalamnya tersimpan keyakinan bahwa kemajuan seharusnya tidak berhenti di pusat-pusat kota. Teknologi, informasi, dan kesempatan harus mampu menjangkau mereka yang berada jauh dari pusat perhatian. Sejak awal, Thayeb Gobel melihat pembangunan bukan sebagai proses menciptakan produk semata, melainkan sebagai upaya menghubungkan mereka yang terpisah oleh jarak, keterbatasan, dan ketimpangan akses.

Tujuh puluh tahun kemudian, berbagai inisiatif yang dibawa Gobel Group ke Gorontalo terasa seperti kelanjutan dari keyakinan lama itu. Jika pada 1956 radio transistor menjadi sarana pertama menjembatani kesenjangan informasi, maka pada 2026 jembatan itu hadir dalam wujud yang berbeda: penguatan petani dan nelayan, pembangunan konektivitas logistik, pengembangan pariwisata, dan pemberdayaan UMKM. Kepulangan ke Gorontalo bukan perjalanan sentimental yang sekadar menoleh ke masa lalu. Ia lebih menyerupai buah dari sebuah filosofi yang Thayeb Mohammad Gobel wariskan sepanjang hidupnya.

Dari Pohon Pisang ke Masa Depan

Di antara berbagai warisan yang ditinggalkan Thayeb Mohammad Gobel, yang paling sering disebut adalah filosofi pohon pisang. Falsafah itu lahir dari pengamatan sederhana terhadap kehidupan sehari-hari, tetapi ia berkembang menjadi cara pandang tentang kepemimpinan, kebermanfaatan, dan kesinambungan.

Di antara berbagai warisan yang ditinggalkan Thayeb Mohammad Gobel, yang paling sering disebut adalah filosofi pohon pisang. Falsafah itu lahir dari pengamatan sederhana terhadap kehidupan sehari-hari, tetapi ia berkembang menjadi cara pandang tentang kepemimpinan, kebermanfaatan, dan kesinambungan. (Foto: Liputan6.com)

Pohon pisang tumbuh, berbuah, lalu perlahan mengakhiri masa hidupnya. Namun sebelum itu terjadi, tunas-tunas baru telah lebih dahulu muncul di sekelilingnya. Kehidupan tidak berhenti pada satu batang, melainkan terus berlanjut melalui generasi berikutnya yang tumbuh dari akar yang sama. Bagi Thayeb Gobel, di sana tersimpan keyakinan bahwa keberhasilan tidak boleh berhenti pada diri sendiri, dan bahwa pembangunan yang baik tidak hanya menghasilkan keuntungan hari ini, tetapi juga menciptakan kesempatan bagi masa depan.

Berbagai inisiatif yang diperkenalkan di Gorontalo tidak menengok pencapaian masa lalu, melainkan menunjuk pada apa yang masih ingin dibangun. Ini adalah cara pandang tentang pembangunan sebagai pekerjaan lintas generasi, tentang kesediaan menanam tunas yang hasilnya mungkin baru dinikmati oleh generasi berikutnya.

Ketika Petani Menjadi Pusat Pembangunan

Di tengah berbagai pembicaraan mengenai industri, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi, ada hal yang menarik dari peringatan 70 tahun Gobel Group di Gorontalo. Sorotan utama justru tidak diarahkan kepada pabrik, produk, atau pencapaian bisnis perusahaan. Sebaliknya, perhatian banyak tertuju pada petani, nelayan, dan ekonomi kerakyatan.

Pilihan itu terasa tidak biasa. Selama tujuh dekade, nama Gobel identik dengan perjalanan industrialisasi Indonesia. Dari radio transistor pertama, televisi, hingga berbagai sektor bisnis yang berkembang kemudian, perjalanan perusahaan ini lebih sering dibaca melalui lensa industri dan teknologi. Namun ketika usia 70 tahun tiba, panggung utama yang dipilih justru beririsan dengan sawah, ladang, tambak, dan laut.

Momentum itu semakin kuat karena berlangsung bersamaan dengan PENAS XVII. Selama beberapa hari, Gorontalo menjadi tempat berkumpulnya sekitar 50.000 petani, nelayan, penyuluh, dan pelaku agribisnis dari seluruh Indonesia. Mereka datang membawa persoalan yang nyata: bagaimana meningkatkan produktivitas lahan, memperoleh akses teknologi yang lebih baik, mengatasi biaya logistik yang tinggi, dan memastikan hasil kerja mereka mampu memberikan kehidupan yang lebih layak.

Di tengah pertemuan besar itu, Gobel Group tidak tampil sebagai penonton. Berbagai inisiatif yang diperkenalkan memperlihatkan perhatian yang kuat terhadap sektor yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Gorontalo: penguatan pertanian dan perikanan, pengembangan kawasan agrominapolitan, peningkatan nilai tambah komoditas lokal, penguatan koperasi, hingga memperkuat konektivitas agar produksi masyarakat menjangkau pasar yang lebih luas.

Perhatian terhadap petani sesungguhnya bukanlah sesuatu yang baru dalam perjalanan keluarga Gobel. Kisah itu kembali hidup di salah satu sudut stan pameran Gobel Group pada PENAS KTNA XVII (Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan) di Pentadio Resort, Kabupaten Gorontalo. Di antara deretan dokumentasi perjalanan perusahaan, terpampang sebuah cerita yang menjadi akar pengabdian keluarga Gobel kepada dunia pertanian.

Radio transistor menjadi titik awal perjalanan industri Thayeb Mohammad Gobel. Melalui perangkat sederhana inilah ia melihat teknologi bukan sekadar barang dagangan, melainkan sarana untuk menjangkau masyarakat hingga ke desa-desa terpencil dan memperkuat pembangunan bangsa. (Foto: Dok. Gobel Group)

Setelah berhasil membangun industri radio, Thayeb Mohammad Gobel mendapat pesan dari sang ayah di Gorontalo yang tak pernah ia lupakan.

โ€œKami bangga orang Gorontalo berhasil membuat radio. Tapi saudara-saudaramu di kampung adalah petani. Kami akan lebih bangga jika kamu bisa membantu mereka mengolah tanah.โ€

Pesan itu tidak berhenti sebagai kata-kata. Tiga tahun kemudian, pada 1963, Thayeb Gobel mendirikan PT Pabrik Diesel dan Traktor (Paditraktor) yang menghadirkan berbagai alat mekanisasi pertanian langsung ke tangan petani: traktor, pengering gabah, penyemprot hama, hingga mesin pengolah beras.

Semangat itu, kata Rachmat Gobel, tidak pernah berhenti berdenyut. โ€œPetani dan nelayan adalah ujung tombak ketahanan nasional. Karena itu, peningkatan produktivitas harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan mereka. PENAS Petani Nelayan XVII harus menjadi momentum bersama untuk memperkuat sektor pertanian dan perikanan sebagai fondasi ekonomi nasional menuju Indonesia yang mandiri dan berdaulat pangan,โ€ tegasnya saat pembukaan PENAS Petani Nelayan XVII, Sabtu (20/6/2026).

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama Chairman Gobel Group, Rachmat Gobel menghadiri pembukaan
Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo, Sabtu (20/6/2026). PENAS XVII menjadi momentum bersejarah bagi Gobel Group yang merayakan 70 tahun pengabdiannya untuk Indonesia di tanah kelahiran pendirinya,
Thayeb Mohammad Gobel. (Foto: PENAS XVII)
ย 

Dari seluruh agenda yang diperkenalkan selama peringatan 70 tahun tersebut, tampak bahwa petani dan nelayan ditempatkan bukan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan sebagai titik awalnya. Seolah-olah perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah radio akhirnya kembali bertemu dengan orang-orang yang sejak awal menjadi alasan mengapa kemajuan itu perlu dibangun.

Menyambungkan yang Terputus

Salah satu paradoks pembangunan daerah di Indonesia adalah kenyataan bahwa kekayaan sumber daya tidak selalu berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat. Paradoks itu berlaku ganda di Gorontalo: pada komoditas pertanian dan perikanan yang melimpah, sekaligus pada potensi wisata dan ekonomi rakyat yang selama ini menunggu untuk dihubungkan dengan pengunjung dan pasarnya.

Petani dapat menghasilkan jagung dalam jumlah besar, nelayan dapat membawa pulang hasil tangkapan yang melimpah, dan pelaku usaha kecil dapat menciptakan berbagai produk unggulan daerah. Namun tanpa akses pasar yang memadai, tanpa sistem logistik yang efisien, dan tanpa konektivitas yang menghubungkan daerah dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, sebagian besar potensi itu akan berhenti di tempat ia dilahirkan.

Itulah yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan Gorontalo. Provinsi ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi jagung nasional, lautnya menyimpan potensi perikanan yang besar, dan bentang alamnya menawarkan peluang pariwisata yang terus tumbuh. Namun tantangan terbesarnya bukan kemampuan menghasilkan komoditas, melainkan kemampuan menghubungkan komoditas tersebut dengan pasar yang lebih luas.

Karena itu, ketika Gobel Group berbicara mengenai pembangunan Gorontalo, fokus tidak hanya tertuju pada sektor produksi. โ€œBagi Gobel Group, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi pertanian dan perikanan. Ketahanan pangan memerlukan ekosistem yang mampu menghubungkan petani dan nelayan dengan teknologi, infrastruktur, industri hilir, sistem logistik yang efisien, serta akses pasar yang berkelanjutan,โ€ kata Rachmat Gobel di stan pameran PENAS XVII, Sabtu (20/6/2026).

Gagasan itu menemukan bentuk yang lebih konkret melalui pengembangan Anggrek Gorontalo International Terminal (AGIT), proyek pelabuhan strategis nasional di Gorontalo Utara yang dibangun melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. AGIT dirancang untuk memperkuat konektivitas logistik, mendorong ekspor komoditas pertanian, perikanan, dan industri pengolahan, sekaligus membuka pintu pertumbuhan ekonomi dan investasi di kawasan timur Indonesia.

Pelabuhan Anggrek di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, dirancang menjadi gerbang ekspor komoditas pertanian, perikanan, dan industri pengolahan di kawasan timur Indonesia, sekaligus salah satu tulang punggung Visi 2051 Gobel Group untuk menjadikan Gorontalo sebagai pusat agrominapolitan kawasan Indonesia Timur.
(Foto: Dok. Humas Ditjen Perhubungan Laut)
ย 

Komitmen itu tampak pula dalam revitalisasi sejumlah kawasan wisata yang selama ini belum terhubung dengan potensinya. Taman Limboto yang ditata ulang lengkap dengan Menara Limboto kini memancarkan wajah baru, terutama di malam hari ketika gemerlap lampu menyatu dengan keramaian warga. Di Pentadio, patung kucing raksasa menjadi ikon baru yang langsung mencuri perhatian. Di Danau Perintis, sebuah kapal hias di tepi danau melengkapi kawasan wisata itu.

Salah seorang pengunjung mengaku sengaja datang bersama keluarganya memanfaatkan masa liburan sekolah. โ€œKebetulan juga bertepatan dengan libur anak-anak. Jadi sekalian saja ke sini bersama keluarga. Di sekitar taman juga tersedia UMKM yang menjual berbagai jajanan tradisional, jadi sekalian mencoba makanan-makanan khas,โ€ ujarnya di Taman Limboto.

Dampak revitalisasi kawasan itu tidak berhenti pada perubahan wajah ruang publik. Denyut ekonominya juga terasa hingga ke lapak-lapak kecil di sekitar lokasi. Para pelaku UMKM yang sehari-hari berjualan di kawasan tersebut menjadi saksi bagaimana sebuah ruang yang kembali hidup mampu menggerakkan roda penghidupan mereka.

Warga Gorontalo memadati Taman Limboto di malam hari pasca-revitalisasi oleh Gobel Group, Juni 2026. Menara Limboto yang menjadi ikon baru kawasan ini menerangi ribuan pengunjung yang datang bersama keluarga. (Foto: Gosulut.id)

Salah seorang pedagang mengaku pendapatannya melonjak tajam setelah menara dan kawasan sekitarnya direnovasi. Jika sebelumnya ia hanya mampu membawa pulang omzet sekitar Rp300 ribu per hari, kini angka itu meningkat hampir tiga kali lipat. โ€œSangat meningkat. Sebelum menara direnovasi, pendapatan sehari kadang hanya sekitar Rp300 ribu. Setelah direnovasi, bisa mencapai Rp800 ribu bahkan sampai Rp1 juta per hari,โ€ ujarnya.

Cerita serupa datang dari banyak pelaku usaha kecil lainnya yang menikmati meningkatnya arus kunjungan masyarakat. Keramaian yang kembali tercipta bukan hanya menghadirkan ruang rekreasi baru, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. Dampak itu bahkan terlihat dalam skala yang lebih besar. Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, menyebut aktivitas ekonomi yang tercipta selama lima hari penyelenggaraan kegiatan di kawasan tersebut menghasilkan perputaran uang yang signifikan. Nilainya diperkirakan mendekati Rp2 miliar di Kabupaten Gorontalo.

Angka itu menjadi penanda bahwa investasi pada ruang publik tidak semata menghadirkan bangunan yang lebih indah. Di baliknya, ada penghasilan pedagang yang bertambah, usaha kecil yang kembali bergairah, dan roda ekonomi lokal yang berputar lebih kencang.

Rachmat Gobel menjelaskan bahwa inisiatif revitalisasi itu lahir dari pengamatannya tentang ketergantungan pariwisata daerah pada satu destinasi. โ€œSaya merasa kalau saya tidak membangun seperti ini, orang hanya mengenal hiu paus saja. Ribuan orang datang ke sana hanya karena hiu paus. Karena itu saya berbicara dengan Pak Gubernur dan Pak Bupati, apakah kawasan-kawasan wisata yang ada di Gorontalo boleh saya rapikan dan saya kembangkan untuk mendukung pariwisata daerah,โ€ ujarnya.

Baginya, revitalisasi itu bukan proyek sesaat yang selesai begitu PENAS berakhir. โ€œIni bukan hanya untuk PENAS. Ini akan berlangsung terus. Tapi tergantung pemerintah daerahnya, ke mana visinya. Kalau mereka memberi saya kepercayaan, saya kelola,โ€ katanya.

Sofyan Puhi menyambut komitmen itu. โ€œMomen ini bertepatan dengan 70 tahun pengabdian perusahaan Gobel Group bagi negeri. Patut bangga karena momentum berharga yang biasanya dilaksanakan di Jakarta oleh Chairman Gobel Group Rachmat Gobel, kini digelar di Gorontalo,โ€ katanya, Senin (22/6/2026). Pemerintah daerah pun menilai bahwa dalam kondisi fiskal saat ini, pembangunan sejumlah fasilitas tersebut akan sulit diwujudkan hanya mengandalkan anggaran daerah.

Visi 2051: Dari Komoditas ke Ekosistem

Jika diminta merangkum apa yang sesungguhnya dibawa Gobel Group ke Gorontalo, Rachmat Gobel memberikan jawaban yang jauh lebih konkret dari sekadar renovasi kawasan wisata. Di stan pameran Gobel Group yang menjadi salah satu sudut paling ramai dikunjungi selama PENAS XVII, sebuah peta jalan pembangunan terbentang hingga pertengahan abad ini.

โ€œPada PENAS XVII ini, Gobel Group memamerkan rekam jejak kontribusi di Gorontalo yang telah kami bangun selama tiga generasi,โ€ kata Rachmat Gobel seperti dikutip ANTARA saat mengunjungi stan perusahaannya, Sabtu (20/6/2026).

Rachmat Gobel meninjau stan pameran Gobel Group di PENAS Petani Nelayan XVII, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (20/6/2026). Panel di sampingnya memperlihatkan jejak 70 tahun perjalanan Gobel Group: belasan entitas bisnis dan 18.000 karyawan
yang melayani pasar nasional dan internasional. (Foto: ANTARA/Zulkifli Polimengo)

Inti dari seluruh agenda itu adalah Visi 2051: menjadikan Gorontalo sebagai pusat agrominapolitan di kawasan Indonesia Timur. Bukan sekadar penghasil jagung dan ikan, melainkan daerah yang mampu mengolah, mendistribusikan, dan menjual produk pertanian serta perikanan dengan nilai tambah yang sesungguhnya.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gorontalo yang dikembangkan dengan konsep agrominapolitan hijau dan halal dirancang untuk memutus rantai itu. Melalui KEK, komoditas unggulan daerah seperti jagung, kelapa, kakao, perikanan, dan peternakan tidak lagi dijual sebagai bahan mentah, melainkan diolah dan diberi nilai tambah sebelum memasuki pasar. Kajian bersama tim ahli Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan KEK Gorontalo berpotensi menciptakan tambahan 17.220 lapangan kerja, dengan proyeksi serapan lebih dari 129.000 tenaga kerja pada 2051.

Kemitraan dengan perusahaan Jepang Chateraise memperlihatkan bagaimana konsep itu sudah mulai bekerja di lapangan. Kakao dari petani binaan Gobel Group diekspor ke Jepang untuk diolah menjadi produk coklat premium, memberikan nilai tambah yang jauh lebih tinggi dibanding penjualan bahan mentah semata. Ini adalah contoh konkret dari rantai nilai yang menghubungkan petani Gorontalo dengan pasar global.

Seluruh ekosistem itu tidak bisa bergerak tanpa infrastruktur logistik. Di sinilah AGIT memainkan peran yang tidak bisa diabaikan: sebagai gerbang ekspor yang menghubungkan hasil produksi Gorontalo dengan pasar nasional dan internasional. Dalam pandangan Rachmat Gobel, pembangunan infrastruktur, industri, pertanian, dan pariwisata tidak bisa dipisahkan satu sama lain jika Gorontalo ingin tumbuh menjadi pusat ekonomi baru di Indonesia Timur.

โ€œApa yang Gobel Group lakukan merupakan ungkapan terima kasih kepada masyarakat, pemerintah, dan leluhur di Gorontalo. Kami ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat di tanah kelahiran orang tua saya,โ€ ujar Rachmat Gobel kepada ANTARA, Minggu (21/6/2026).

Menanam yang Tak Akan Dipanen Sendiri

Pada akhirnya, tidak semua warisan dapat diukur dengan angka. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk gedung, pabrik, pelabuhan, atau laporan keuangan yang menunjukkan pertumbuhan dari tahun ke tahun. Sebagian warisan justru hidup lebih lama karena bersemayam dalam gagasan, dalam cara pandang, dan dalam keyakinan yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Tujuh puluh tahun lalu, ketika Indonesia masih mencari bentuk bagi masa depannya sebagai bangsa yang baru merdeka, seorang anak muda dari Gorontalo memilih menempuh jalan yang belum banyak dilalui orang lain. Thayeb Mohammad Gobel membangun radio transistor bukan semata-mata karena melihat peluang usaha, melainkan karena percaya bahwa teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan mereka yang tinggal di pusat dengan masyarakat yang hidup jauh di desa-desa, di kaki gunung, dan di pulau-pulau terpencil. Di balik sebuah perangkat radio yang sederhana, tersimpan keyakinan bahwa kemajuan seharusnya dapat menjangkau semua orang.

Jejak perjalanan pendiri PT Gobel Internasional masih terjaga hingga hari ini. Beragam barang pribadi dan foto-foto asli yang pernah digunakan saat bekerja tersimpan rapi di salah satu sudut gedung perusahaan. (Foto: Liputan6.com)

Waktu kemudian membawa perjalanan itu melampaui apa yang mungkin pernah dibayangkan. Generasi berganti, tantangan berubah, dan dunia bergerak ke arah yang semakin kompleks. Namun satu hal tampaknya tetap dipertahankan: keyakinan bahwa keberhasilan hanya memiliki arti ketika manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas.

Barangkali karena itulah peringatan 70 tahun Gobel Group tidak dipusatkan di gedung-gedung tinggi Jakarta atau di kawasan industri tempat berbagai unit usaha berkembang selama puluhan tahun. Perjalanan itu justru dibawa kembali ke Gorontalo, tanah yang pernah membentuk cara pandang seorang anak kampung bernama Thayeb Mohammad Gobel. Sebab di tempat itulah berbagai gagasan tentang petani, nelayan, ekonomi rakyat, konektivitas, dan masa depan daerah menemukan konteks yang paling utuh.

Apa yang terlihat di Gorontalo sepanjang peringatan tujuh dekade Gobel Group sesungguhnya bukanlah sebuah garis akhir. Ia lebih menyerupai proses menanam. Sebagian benih mungkin akan tumbuh dalam waktu dekat. Sebagian yang lain membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum memperlihatkan hasilnya. Namun sebagaimana filosofi pohon pisang yang diwariskan Thayeb Mohammad Gobel, nilai sebuah ikhtiar tidak selalu ditentukan oleh siapa yang menikmati hasil panennya, melainkan oleh kesediaan untuk menyiapkan kehidupan bagi generasi yang datang kemudian.

Pandangan itulah yang pernah diungkapkan Rachmat Gobel, sebagaimana dilaporkan Media Indonesia, ketika ia mengajak semua pihak membangun budaya baru dan peradaban baru Gorontalo:

โ€œMungkin saat itu kita sudah tidak ada, tapi kita telah mewariskan hal-hal baik kepada generasi penerus kita.โ€

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan makna yang menjelaskan seluruh perjalanan ini: mengapa petani ditempatkan di pusat pembangunan, mengapa konektivitas dianggap penting, mengapa Visi 2051 dibangun jauh melampaui usia manusia yang membuatnya. Dan mungkin juga mengapa sebuah kelompok usaha yang telah berusia tujuh puluh tahun memilih pulang ke tempat semuanya bermula.

Sebab pembangunan terbaik bukanlah yang terlihat paling megah, melainkan pembangunan yang mampu memberikan manfaat dan terus hidup di tengah masyarakat.

Dari Gorontalo, jejak pengabdian itu terus tumbuh menjadi cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (***)

Jurnalis/Editor: Djoni Satria

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

06

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

07

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

Sorotan






Kolom