RUZKA INDONESIA — Di tengah kegelisahan warga yang mulai waswas tiap lihat harga minyak goreng naik turun kayak suasana hati, Perum Bulog Cabang Cirebon memilih tidak banyak teori. Senin (20/4/2026), mereka langsung โturun gunungโ dengan mendistribusikan 50 ribu liter Minyakita ke pasar-pasar di wilayah Kabupaten dan Kota Cirebon, Jawa Barat (Jabar).
Biar sederhana: kalau stok aman, harga biasanya ikut kalem. Itu kira-kira logika yang sedang dijalankan Bulog.
Pimpinan Cabang Bulog Cirebon, Imam Mahdi, menjelaskan kalau distribusi ini bukan sekadar seremoni biar kelihatan kerja. Minyakita benar-benar disebar, bukan cuma ke pasar tradisional, tapi juga ke toko-toko binaan yang jadi โperpanjangan tanganโ Bulog di lapangan.
โPerum Bulog Cabang Cirebon secara rutin mendistribusikan Minyakita ke pasar-pasar di wilayah Kabupaten dan Kota Cirebon guna menjaga stabilitas harga di pasaran,โ kata Imam, dengan nada yang lebih serius dari judul tulisan ini.
Masalahnya memang klasik: begitu minyak langka, harga langsung loncat. Begitu harga naik, yang panik bukan cuma ibu-ibu, tapi juga pedagang gorengan yang margin untungnya tipis-tipis kayak kerupuk kena angin.
Karena itu, Bulog memilih cara paling masuk akalโjaga pasokan tetap ada. Jangan sampai rak kosong, karena rak kosong seringkali lebih menakutkan daripada harga mahal. Setidaknya, kalau barang ada, orang masih bisa beli, meski sambil ngelus dada.
โKami terus berupaya agar pasokan tetap tersedia dan tidak terjadi kekosongan yang bisa memicu kenaikan harga,โ tegas Imam.
Dengan 50 ribu liter yang digelontorkan ini, harapannya sederhana saja: harga nggak liar, wajan tetap panas, dan gorengan di pinggir jalan masih bisa dinikmati tanpa harus mikir dua kali. Karena di negeri ini, kadang yang bikin tenang bukan kebijakan besar, tapi minyak goreng yang tetap ada di dapur. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar