Kolom
Beranda ยป Berita ยป Baginda Jokowi di Tengah Ketidakstabilan Nasional: Sebuah Resonansi

Baginda Jokowi di Tengah Ketidakstabilan Nasional: Sebuah Resonansi

Mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) saat menerima gelar adat Baginda Pemuka Bangsa di Lampung. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

Oleh: Irdam Imran
Pemerhati Sosial, Politik dan Konstitusi

RUZKA INDONESIA — Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsaโ€”mulai dari tekanan ekonomi, dinamika birokrasi, protes mahasiswa, hingga berbagai persoalan di daerahโ€”muncul pertanyaan di ruang publik: perlukah panggung politik kembali didominasi oleh figur mantan presiden?

Sebagian masyarakat mungkin berpendapat, “Sudahlah, tidak usah dulu baginda-bagindaan.”

Ungkapan tersebut bukan semata kritik terhadap sosok Joko Widodo (Jokowi), melainkan ekspresi keinginan agar perhatian nasional lebih difokuskan pada penyelesaian persoalan rakyat daripada penguatan simbol-simbol politik personal.

Dalam sistem demokrasi konstitusional, mantan presiden tentu memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya untuk menyampaikan pandangan politik, menghadiri kegiatan partai, atau memberikan dukungan kepada pihak tertentu.

Catatan Cak AT: Umrah Tanpa Bertaruh Nasib

Hak tersebut merupakan bagian dari kebebasan berpendapat dan berorganisasi.

Namun, di sisi lain, setiap langkah politik figur yang memiliki pengaruh besar akan selalu memunculkan tafsir politik.

Ketika kondisi nasional dan daerah dipersepsikan sedang tidak stabil, sebagian publik berharap seluruh elite politik, baik yang sedang menjabat maupun yang sudah purnatugas, lebih mengedepankan upaya menurunkan suhu politik daripada menambah polarisasi.

Butuh Kepemimpinan

Resonansi yang muncul sesungguhnya bukan tentang boleh atau tidaknya Jokowi melakukan safari politik.

Untuk Apa DPR-RI dan DPD RI? Sebuah Resonansi tentang Demokrasi, Kekuasaan, dan Kesejahteraan Rakyat

Resonansi itu lahir dari harapan agar energi bangsa diarahkan pada penguatan pemerintahan, pemulihan ekonomi, peningkatan pelayanan publik, dan penyelesaian berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat.

Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang menenangkan keadaan. Dalam situasi seperti ini, setiap tokoh nasional memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga stabilitas, memberi ruang kepada pemerintahan yang sedang berjalan, sekaligus mendorong penyelesaian masalah melalui mekanisme demokrasi dan konstitusi.

Barangkali, untuk sementara waktu, yang lebih dibutuhkan bukanlah penguatan kultus figur atau dominasi simbol politik, melainkan keteladanan dalam menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan politik jangka pendek.

Di situlah resonansi seorang negarawan diuji: bukan pada seberapa besar pengaruh yang masih dimiliki, tetapi pada seberapa besar kontribusinya dalam menjaga persatuan, stabilitas, dan kepercayaan publik terhadap demokrasi. (***)

Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Catatan Cak AT: Microsoft Mualaf Linux

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

06

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

07

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

Sorotan






Kolom