Ekonomi
Beranda ยป Berita ยป CIPS: Kemajuan Kemakmuran Indonesia Harus Diiringi Penguatan Transparansi dan Kebebasan

CIPS: Kemajuan Kemakmuran Indonesia Harus Diiringi Penguatan Transparansi dan Kebebasan

Ilustrasi survei penjualan eceran oleh Bank Indonesia. (Dok Ruzka Indonesia)

RUZKA INDONESIA โ€“ Indonesia mencatat kemajuan dalam Legatum Prosperity Index 2025 dengan naik 15 peringkat dalam satu dekade terakhir, dari posisi ke-79 pada 2015 menjadi ke-64 pada 2025. Namun, laporan yang sama juga menunjukkan bahwa laju peningkatan indeks kemakmuran Indonesia mulai melambat sejak 2023.

Ahli Riset dan Analis Kebijakan Senior Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Dr. Andree Surianta, menilai kondisi ini merupakan peringatan dini yang memerlukan perhatian serius pemerintah. Ia mengingatkan kemakmuran bukanlah sesuatu yang dapat bertahan secara otomatis, melainkan harus ditopang oleh fondasi kebijakan sosial, politik, dan ekonomi yang transparan dan inklusif.

“Stagnasi peringkat kemakmuran sejak tahun 2023 adalah sinyal penting bagi pemerintah saat ini. Pendakian menuju tingkat kemakmuran berikutnya akan sangat sulit dicapai jika kebijakan ke depan mengabaikan pentingnya transparansi, ruang partisipasi masyarakat, dan kepastian hukum yang kuat,” ujarnya di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Menurut data Legatum Prosperity Index 2025, peningkatan kemakmuran Indonesia selama satu dekade terakhir ditopang oleh membaiknya standar hidup masyarakat. Hal ini tercermin dari Meningkatnya Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita dari USD3.390 menjadi USD5.120; Menurunnya tingkat kemiskinan ekstrem hingga di bawah lima persen; dan semakin luasnya akses masyarakat terhadap air minum dan sanitasi yang layak.

Meski demikian, laporan yang sama juga menunjukkan munculnya sejumlah tantangan baru. Di bidang ekonomi, Indonesia menghadapi perlambatan kemajuan pembangunan yang terlihat dari *menyusutnya porsi kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir.

Motor Listrik Nasional Belum Cukup, Ini 3 Pilar yang Diperlukan untuk Kurangi Ketergantungan BBM

Sementara di bidang tata kelola, korupsi masih menjadi salah satu kelemahan yang belum menunjukkan perbaikan berarti.

Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh menurunnya sejumlah indikator kebebasan sipil. Dalam satu dekade terakhir, peringkat Indonesia pada pilar Freedom of Dissent turun 12 posisi menjadi peringkat ke-86. Laporan tersebut juga menyoroti perdebatan mengenai ruang kebebasan sipil, transparansi proses legislasi, serta meningkatnya peran militer dalam sejumlah urusan sipil.

“Kemakmuran tidak hanya ditentukan oleh pendapatan atau pertumbuhan ekonomi. Kemajuan yang berkelanjutan membutuhkan institusi yang dipercaya publik, ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan aspirasi, serta pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Ketika aspek-aspek tersebut melemah, kemampuan suatu negara untuk terus meningkatkan kemakmuran juga akan ikut terhambat,” kata Andree.

Modal Sosial Jadi Kekuatan Utama RI

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang menjadi salah satu kekuatan utama. Legatum Prosperity Index menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia untuk pilar Integrity of Communities, yang mencerminkan tingginya solidaritas sosial, optimisme masyarakat, serta kesediaan warga untuk saling membantu.

Diskusi PWI Pusat: Modal Ventura Harus Diperkuat untuk Dorong UMKM dan Ekonomi Berkelanjutan

Menurut Andree, modal sosial tersebut perlu dipahami sebagai kekuatan masyarakat untuk bekerja sama secara sukarela dan setara. Kepercayaan sosial yang menjadi fondasi gotong royong akan tumbuh ketika masyarakat merasa didengar, dihormati, dan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan publik.

“Sangat penting bagi pemerintah untuk kembali ke semangat asli gotong royong yang menyambut inisiatif komunitas sebagai bagian bernegara.”

Untuk memastikan kemakmuran Indonesia terus meningkat, pemerintah perlu memperkuat transparansi, menjaga ruang partisipasi publik, dan memastikan proses perumusan kebijakan berlangsung secara terbuka. Langkah-langkah tersebut penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan bahwa kemajuan yang telah dicapai tidak kehilangan momentum.

“Indonesia memasuki usia ke-81 sebagai negara yang jauh lebih makmur dibanding beberapa dekade lalu. Kita memiliki modal sosial yang kuat dan tradisi gotong royong yang hidup. Tantangannya sekarang adalah memastikan bahwa kekuatan tersebut didukung oleh institusi yang transparan, kebijakan yang terbuka, dan kebebasan warga yang terjamin agar kemakmuran dapat terus meningkat,” tutup Andree. ***
Editor: Yoyok BP
Email: yoyokbp@gmail.com

Ilusi Pertumbuhan Ekonomi: Membedah Manipulasi Narasi Otomotif Hasan Nasbi dan Tragedi Sektor Properti Nasional

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

06

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

07

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

Sorotan






Kolom