Kolom
Beranda ยป Berita ยป Memandang Jakarta International Stadium Dari Masjid Apung Jakarta

Memandang Jakarta International Stadium Dari Masjid Apung Jakarta

Pandangan Geisz Chalifah (kanan) dari Masjid Apung Jakarta. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

Oleh: Geisz Chalifah/Pemerhati Sosial Politik

RUZKA INDONESIA — Cici Faramida menelepon. Ia membaca tulisan saya tentang proses pembangunan “Masjid Apung Jakarta” yang penuh drama, penuh ketidakpastian, dan akhirnya tuntas.

Keponakannya, Syifa, juga membaca tulisan itu. Ia kemudian meminta melihat dengan tantenya itu untuk datang melihat Masjid Apung Jakarta di Ancol secara langsung.

Sore tadi, saya hadir. Melihat secara langsung bangunan yang selama ini, saya terlibat sejak awal melalui proses panjang pembangunannya.

Saya teringat hari-hari yang penuh ketidakpastian. Hari-hari ketika emosi naik turun. Hari-hari ketika sebuah keputusan bisa menentukan apakah pembangunan ini akan terus berjalan atau berhenti.

Catatan Cak AT: Pisah Pemilu 2029

Saya teringat wajah Anies Baswedan, dengan segala kerumitan birokrasi yang dihadapinya, kesabaran menghadapi kemarahan saya atas situasi yang tak jelas kemana ujungnya.

Ketika akhirnya memutuskan bahwa pembangunan Masjid Apung Jakarta harus tetap dilangsungkan. Ya itulah nama yang telah di sematkan: Masjid Apung Jakarta.

Sore tadi saya datang dengan suka cita.

Dari halaman Masjid Apung Jakarta, tampak Jakarta International Stadium yang berdiri megah di kejauhan.

Di kawasan itu ada lintasan Formula E yang ikonik. Ada JIS, sebuah bangunan yang kini menjadi bagian dari sejarah Jakarta.

Rendahnya Literasi Al-Qurโ€™an, KH Muhammad Idrus Ramli Soroti Minta Pesantren Diminta Perkuat Pendidikan Umat

Dan kini ada Masjid Apung Jakarta, yang pembangunannya telah tuntas dan tinggal menunggu waktu untuk diresmikan oleh Pramono Anung Dan Rano Karno.

Saya berdiri di sana dan perlahan melepaskan beban emosional yang selama ini saya bawa.

Apa yang pernah diperjuangkan, bahkan pernah dilakukan secara diam-diam agar tidak dihalangi dan tidak dijegal oleh mereka yang datang setelah Anies, akhirnya sampai pada satu titik:

Tuntas.

Elif, anak Siti Rahmawati, si cantik mungil Fatia, juga Syifa, para keponakan Cici, tentu belum memahami mengapa masjid itu dirancang menyerupai sebuah perahu.

Mewujudkan Kemerdekaan Hakiki

Tidak perlu juga saya ceritakan kepada mereka betapa panjang kecemasan yang saya alami selama prosesnya. Betapa ada kekhawatiran bahwa proyek ini tidak akan pernah sampai selesai.

Bagi mereka, yang terlihat hanyalah sebuah masjid yang berdiri di tengah laut.

Dan mungkin itu sudah cukup.

Cici Faramida, selain dikenal sebagai penyanyi, juga seorang qoriah. Ia bisa bercerita kepada ayahnya yang guru agama bahwa kini, di dekat rumah mereka, berdiri sebuah masjid di tengah laut.

Sore itu saya menikmati angin di Masjid Apung Jakarta. Matahari mulai turun. Langit perlahan berubah warna.

Saya memandang JIS dari halaman masjid.

Lalu saya berpikir: pada akhirnya, waktu akan menyelesaikan banyak perdebatan.

Apa pun yang dikatakan orang tentang Anies Baswedan, ada fakta yang tidak membutuhkan banyak kata.

JIS berdiri.
Masjid Apung Jakarta tuntas.

Dan ya, nama Masjid Apung Jakarta memang telah disematkan sejak awal pembangunannya. Nama itu bukan sesuatu yang muncul belakangan.

Keduanya dapat dilihat dengan mata kepala sendiri.

Pada akhirnya, fakta tidak selalu membutuhkan pembelaan. Ia hanya membutuhkan waktu untuk berdiri di hadapan kita.

Dan sore itu, dari Masjid Apung Jakarta, saya melihat sendiri dua jejak itu berdiri di hadapan mata.

Saya adalah salah satu orang yang menginisiasi gagasan Masjid Apung Jakarta ini.

Pada masa itu, ketika Jakarta belum selesai berhadapan dengan persoalan pandemi Covid-19, saya menghubungi berbagai pihak, berbicara dengan banyak orang, dan mencoba mencari jalan agar gagasan itu dapat diwujudkan.

Saya tahu, sebuah gagasan tidak pernah berdiri sendiri.

Ada banyak tangan yang bekerja. Ada banyak orang yang membantu. Ada keputusan-keputusan yang harus diambil. Ada birokrasi yang harus dilalui.

Dan, ada pula mereka yang, dalam diam, menjaga agar gagasan itu tetap hidup ketika keadaan tidak mudah.

Karena itu, melihat bangunan ini berdiri hari ini memberikan perasaan yang sulit dijelaskan.

Bukan sekadar karena sebuah bangunan telah selesai.

Tetapi karena sebuah gagasan yang pernah begitu rapuh, pernah dikelilingi ketidakpastian, dan pernah membuat saya cemas apakah akan benar-benar terwujud, akhirnya hadir dalam bentuk nyata.

Sore itu saya memandang JIS dari halaman Masjid Apung Jakarta.

Angin laut berembus.

Matahari perlahan tenggelam.

Dan untuk pertama kalinya setelah perjalanan panjang itu, saya merasa tidak perlu lagi menjelaskan apa-apa.
Terimakasih Anies Baswedan yang telah mengambil kebijakan untuk pembangunan Masjid ini dilaksanakan.

Terimakasi kepada Pramono Anung dan Rano Karno yang menuntaskannya.

JIS berdiri.
Masjid Apung Jakarta tuntas.

Saya pulang dengan perasaan lega.. (**

Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

06

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

07

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

Sorotan






Kolom