RUZKA INDONESIA — Kenalkan kuliner khas daerah kepada generasi muda tidak cukup hanya dengan menyajikannya di atas meja.
Ada cerita, tradisi, hingga cara memasak yang menjadi bagian dari identitas sebuah daerah.
Semangat itulah yang dibawa Mojang dan Jajaka (Moka) Kota Depok melalui proyek sosial di bidang gastronomi.
Dalam kegiatan tersebut, Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok mengajak 20 pelajar dari empat SMK untuk mengenal lebih dekat kekayaan kuliner Depok.
Keempat sekolah tersebut yakni SMK Wisata Perintis Depok, SMK Tirtajaya Depok, SMKN 2 Kota Depok, dan SMKN 5 Kota Depok.
Para pelajar dari jurusan tata boga dan kuliner tersebut tidak hanya dikenalkan dengan jenis makanan khas Depok, tetapi juga diajak memahami bahan, proses memasak, hingga peralatan tradisional yang digunakan masyarakat pada masa lalu.
Kegiatan berlangsung di Rumah Budaya dan menjadi bagian dari proyek sosial yang digagas Bang Adam dan Mpok Riska, perwakilan Kota Depok yang tengah mengikuti rangkaian Pasanggiri Mojang Jajaka Jawa Barat 2026.
Kepala Disporyata Kota Depok, Eko Herwiyanto, mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya Depok melalui kuliner.
โJadi ini adalah social project mereka yang mereka rancang dan konsep. Mereka mengusulkan bagaimana memperkenalkan, mempromosikan, dan melestarikan salah satu budaya khas Kota Depok dalam bidang kuliner atau gastronomi,โ ujar Eko dalam keterangan yang diterima, Ahad (08/08/2026).
Melihat Langsung Proses Proses Pembuatan
Menurut Eko, para pelajar tidak hanya dikenalkan dengan nama-nama makanan. Mereka juga diajak melihat langsung proses pembuatannya, termasuk mengenali bahan yang digunakan dan peralatan memasak yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Depok pada masa lalu.
Menariknya, sebagian bahan makanan yang digunakan dalam kegiatan tersebut diperoleh dari Kelompok Wanita Tani (KWT) di wilayah Tapos.
KWT tersebut memanfaatkan pekarangan untuk menanam berbagai sayuran dan tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan pangan.
โSebagian bahan tadi kita mengambil dari sana dan kita bawa ke Rumah Budaya ini untuk kita perkenalkan kepada mereka bagaimana cara memasaknya. Dari jenis bahannya, cara memasaknya, kemudian juga nama-nama peralatannya yang memang digunakan oleh warga Depok tempo dulu,โ jelasnya.
Bagi Eko, pendekatan seperti ini penting agar generasi muda tidak hanya mengenal makanan khas Depok, tetapi juga memahami nilai budaya yang ada di baliknya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang belajar bagi para siswa yang memiliki ketertarikan dan dasar pendidikan di bidang kuliner.
Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada teman-teman mereka sehingga semakin banyak anak muda mengenal makanan khas daerahnya sendiri.
Eko menyebut pelestarian kuliner lokal semakin penting di tengah kuatnya pengaruh budaya luar. Beragam makanan cepat saji dan tren kuliner modern kini semakin mudah ditemui dan digemari anak muda.
Jaga Identitas Budaya
Menurutnya, mengenalkan kuliner kepada generasi muda merupakan salah satu cara sederhana untuk menjaga identitas budaya Depok tetap hidup dan tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Dengan melibatkan pelajar dari empat sekolah, proyek gastronomi ini diharapkan tidak berhenti pada 20 peserta yang hadir. Mereka dapat menjadi bagian dari generasi muda yang ikut mengenalkan kembali kekayaan kuliner Betawi Depok kepada lingkungan sekitarnya.
โHarapan kita, generasi muda Kota Depok ke depan, di tengah gempuran budaya luar, termasuk makanan, sekarang banyak sekali makanan cepat saji atau fast food, tetap mengenali, mencintai, dan mengonsumsi makanan atau kuliner khas Depoknya,โ harapnya.
Sebab, di balik sepiring makanan khas Betawi Depok, terdapat cerita tentang kebiasaan, kearifan lokal, dan warisan budaya yang perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya. (***)
Jurnalis: Risjaddin Muhammad
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com











Komentar