RUZKA INDONESIA — Bukan sekadar mencicipi makanan, para Mojang Jajaka (Moka) Jawa Barat (Jabar) perwakilan Kota Depok diajak mengenal lebih dekat cerita di balik kuliner khas Betawi Depok.
Suasana berbeda terasa di Rumah Budaya Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD). Bersama Wadon KOOD Berbudaya dan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok, para Moka belajar langsung memasak sekaligus mengenal tradisi kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan kekayaan kuliner Betawi Depok kepada generasi muda.
โIni salah satu caranya agar Mojang Jajaka perwakilan Depok tahu masakan khas Depok,โ ujar Ketua Wadon KOOD Berbudaya, Nina Suzana dalam kegiatan yang diterima, Ahad (08/08/2026).
Beragam menu diperkenalkan, mulai dari pecak, sayur asam bening, ikan asin jaket, semur kerbau, sayur besan, hingga tahu seksa. Setiap makanan memiliki cerita dan filosofi tersendiri.
Salah satunya pecak. Makanan sederhana berbahan ikan ini dahulu banyak menggunakan ikan lele atau tawes yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Bumbunya pun terbilang sederhana, hanya cabai merah, bawang merah, jeruk limo, jahe, dan terasi.
Namun, kesederhanaan itulah yang menjadi ciri khasnya. โOrang tua kita dulu penuh dengan kesederhanaan. Dengan satu bumbu, bisa makan dengan lauk dan sayuran. Apa yang ada di kebun atau sekitar rumah, bisa direbus lalu dipecak,โ kata Nina.
Cara memasaknya pun menggambarkan kehidupan masyarakat Depok tempo dulu. Sebelum ada teflon atau alat pemanggang modern, ikan dan bumbu pecak bisa dibakar atau disangrai menggunakan genteng yang diletakkan di atas tungku. Daun pisang digunakan sebagai alas agar bahan makanan tidak lengket.
Cara memasak tersebut bukan sekadar teknik, tetapi bagian dari cerita kehidupan masyarakat Depok yang perlu dikenalkan kepada generasi sekarang.
Tanpa Banyak Bumbu
Kuliner lain yang diperkenalkan adalah sayur asam bening. Berbeda dengan sayur asam di daerah lain yang memiliki cita rasa beragam, versi khas Depok ini dibuat sederhana tanpa banyak bumbu.
Bahan yang digunakan antara lain pepaya muda, nangka muda atau cecek, daun melinjo, serta bumbu berupa cabai, bawang merah, terasi, daun salam, dan lengkuas.
Kemudian ada ikan asin jaket. Nama tersebut berasal dari kebiasaan masyarakat Depok zaman dahulu yang menyebut ikan yang diawetkan atau dikeringkan sebagai ikan yang โdijaketinโ.
Ikan tersebut kerap hadir dalam tradisi hajatan masyarakat Depok dan menjadi bagian dari berkat yang dibawa pulang oleh warga.
Tak kalah menarik adalah semur kerbau. Kuliner ini berkaitan dengan tradisi andilan kerbau yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Depok, terutama saat Lebaran.
Daging kerbau memiliki tekstur lebih kuat dan justru membuat bumbu semakin meresap ketika dipanaskan kembali. Karena itu, masakan tersebut dapat bertahan beberapa hari dan menjadi salah satu hidangan khas dalam tradisi Lebaran masyarakat Depok.
Para Moka juga dikenalkan dengan sayur besan yang banyak berkembang di wilayah Depok bagian barat, seperti Sawangan dan Bojongsari. Ciri khasnya adalah penggunaan terubuk yang menjadi salah satu bahan utama.
Ada pula tahu seksa. Meski bahan dasarnya sederhana, cara pengolahannya menggambarkan kebiasaan masyarakat zaman dahulu yang menggunakan sedikit minyak. Tahu cukup disangrai atau dimasak dengan sedikit minyak hingga matang, kemudian disajikan dengan kecap, cabai, atau sambal kacang.
Dari berbagai makanan tersebut, Nina ingin menunjukkan kuliner Betawi Depok tidak hanya soal rasa.
Di dalamnya terdapat cerita tentang kesederhanaan, kemandirian, kesehatan, hingga kebiasaan masyarakat tempo dulu.
โMasakan khas Depok ini sama dengan Betawi, hanya ada sedikit kekhasan. Sekarang tugas kita adalah memperkenalkan kepada anak-anak muda bahwa ternyata makanan yang mereka makan sehari-hari itu punya cerita dan merupakan bagian dari budaya Depok,โ tuturnya.
Rumah Budaya KOOD
Upaya tersebut juga terus dilakukan melalui Rumah Budaya KOOD. Anak-anak sekolah dari tingkat SD hingga SMA kerap berkunjung untuk mengenal sejarah, budaya, hingga kuliner Depok. Bahkan, mereka dapat mencoba langsung makanan khas yang disiapkan oleh para anggota Wadon KOOD.
Nina berharap semakin banyak anak muda yang mengenal sekaligus bangga dengan kuliner daerahnya sendiri.
โJangan sampai kita hanya tahu makanan modern, tetapi tidak tahu makanan khas daerah sendiri. Kita ingin budaya dan kebiasaan orang tua kita tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya,โ katanya.
Menurutnya, kuliner juga menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas Depok sebagai kota yang memiliki akar budaya Betawi.
Karena itu, pengenalan kuliner khas Betawi Depok tidak hanya dilakukan melalui kegiatan edukasi, tetapi juga mulai dihadirkan dalam berbagai kegiatan besar, termasuk Lebaran Depok.
Di ajang tersebut, kuliner khas Betawi Depok mendapat ruang untuk diperkenalkan bersama kekayaan kuliner Nusantara lainnya.
โPak Wali ingin konsepnya Nusantara. Ada Betawi sebagai khas kita, kemudian ada Sumatra, Sulawesi, Jawa dan lainnya. Tapi kita tidak boleh meninggalkan kekhasan Betawi karena kita Depok,โ pungkas Nina. (***)
Jurnalis: Risjaddin Muhammad
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com











Komentar