RUZKA INDONESIA – Majalengka – Sungai Citangkurak di Kabupaten Majalengka menyimpan sejarah panjang yang tak banyak diketahui masyarakat.
Selain dikenal lewat cerita turun-temurun, sungai ini juga tercatat dalam dokumen kolonial sebagai salah satu saluran pengairan penting bagi lahan pertanian.
Sejarawan Majalengka sekaligus Ketua Komunitas Majalengka Baheula, Kang Naro, menjelaskan bahwa asal-usul nama Citangkurak diyakini berasal dari kisah yang berkembang di tengah masyarakat.
Konon, pada masa lampau di kawasan sungai tersebut kerap ditemukan kerangka manusia, sehingga kemudian dikenal dengan sebutan Citangkurak.
“Konon penyebutan Citangkurak berawal karena dulu di sungai itu sering ditemukan kerangka manusia,” ujar Kang Naro.
Ia mengungkapkan, keberadaan Sungai Citangkurak juga terekam dalam surat kabar Belanda Locomotief edisi 10 Juli 1918.
Dalam pemberitaan tersebut, Citangkurak disebut sebagai sungai yang dimanfaatkan untuk mengairi sawah-sawah yang mengalami kekeringan di wilayah Majalengka.
Tak hanya itu, pada dekade 1930-an, Dinas Pengairan Hindia Belanda atau Waterstaats Dienst juga melakukan penataan terhadap aliran Sungai Citangkurak sebagai bagian dari pengelolaan sistem irigasi saat itu.
Memiliki Keunikan
Menurut Kang Naro, secara geografis aliran Sungai Citangkurak memiliki keunikan. Di kawasan Jalan Siti Armilah, sungai tersebut terbelah menjadi dua aliran, namun keduanya bermuara di Sungai Cijati.
Ia juga mengenang kondisi Sungai Citangkurak pada masa lalu yang memiliki debit air besar dan jernih. Sungai itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari tempat mandi, mencuci, hingga lokasi bermain anak-anak dengan wahana tradisional yang dikenal sebagai “papalidan”.
“Dulu sungainya besar dan airnya jernih. Anak-anak biasa bermain ‘papalidan’ (berenang mengikuti arus sungai), masyarakat mandi dan mencuci di sana. Bahkan sampai sekitar tahun 1980-an sungai ini masih dimanfaatkan untuk berbagai keperluan,” katanya.
Namun, kondisi tersebut kini telah berubah. Seiring perkembangan kawasan perkotaan, aliran Sungai Citangkurak semakin menyempit, sementara kualitas airnya tidak lagi sejernih dahulu.
Kang Naro mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian Sungai Citangkurak. Menurutnya, kebersihan sungai harus dipelihara dan lebar alirannya tidak boleh terus berkurang agar tidak memicu banjir di kemudian hari.
“Marilah kita sama-sama menjaga kebersihannya. Jangan mengurangi lebar sungainya, apalagi sampai menjadi sempit, supaya tidak menimbulkan banjir,” tuturnya.
Ia menegaskan, Sungai Citangkurak bukan sekadar aliran air, melainkan bagian dari jejak sejarah Kota Majalengka yang patut dijaga keberadaannya.
“Citangkurak adalah jejak sejarah Kota Majalengka. Warisan ini harus kita rawat agar tetap dikenal oleh generasi mendatang,” pungkasnya.
Kang Naro berharap sejarah Sungai Citangkurak dapat menjadi pengingat bahwa sungai bukan hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga merupakan bagian dari identitas dan warisan sejarah masyarakat Majalengka yang perlu dijaga kelestariannya. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com






Komentar