RUZKA INDONESIA โ Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan momentum Hari Lahir Pancasila sebagai refleksi bersama untuk memastikan Pancasila tidak berhenti sebagai simbol, slogan, atau seremoni tahunan, tetapi benar-benar hidup dalam perilaku, kebijakan, dan arah pembangunan bangsa. Hal itu diutarakannya memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 yang mengusung tema โPancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Duniaโ.
Menurut Fahira Idris, di tengah berbagai tantangan global dan domestik mulai dari polarisasi sosial, disrupsi teknologi digital, krisis keteladanan, ketimpangan ekonomi, ancaman kerusakan lingkungan, hingga memanasnya geopolitik dunia, Pancasila justru semakin relevan sebagai panduan moral dan strategis bangsa.
โPancasila telah terbukti menjadi titik temu yang mempersatukan keberagaman Indonesia selama lebih dari delapan dekade. Karena itu, Hari Lahir Pancasila harus menjadi momentum untuk memastikan nilai-nilai Pancasila hadir dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi jawaban atas berbagai tantangan yang kita hadapi saat ini,โ ujar Fahira Idris di Jakarta, Senin (01/06/2026).
Senator Jakarta ini menyampaikan beberapa catatan yang perlu menjadi perhatian bersama agar Pancasila benar-benar menjadi pemersatu bangsa sekaligus fondasi kontribusi Indonesia bagi perdamaian dunia.
Pertama, menjadikan Pancasila sebagai etika ruang digital, mengingat perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa hoaks, ujaran kebencian, perundungan digital, polarisasi, hingga penyebaran paham-paham ekstrem. Karena itu, nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, dan musyawarah yang terkandung dalam Pancasila harus menjadi kompas moral dalam setiap aktivitas di ruang digital.
Menurut Fahira Idris, literasi digital berbasis Pancasila harus diperkuat melalui sekolah, kampus, keluarga, komunitas, dan berbagai platform media sosial agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus menjaga persatuan bangsa.
Kedua, mengembalikan keteladanan sebagai wajah utama Pancasila, serta menekankan bahwa ancaman terbesar terhadap Pancasila bukan datang dari luar, melainkan ketika nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak tercermin dalam praktik penyelenggaraan negara. Rakyat akan semakin percaya kepada Pancasila jika melihat para pemimpin, pejabat publik, dan elite bangsa menampilkan integritas, kejujuran, keadilan, serta keberpihakan kepada kepentingan rakyat.
โKeteladanan adalah bentuk paling nyata dari pendidikan Pancasila,โ ujarnya.
Ketiga, memastikan pertumbuhan ekonomi menghadirkan keadilan sosial di mana keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga sejauh mana hasil pembangunan dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat. Pancasila mengamanatkan pembangunan yang menghadirkan kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk maju, memperkuat UMKM, mengurangi kesenjangan sosial, serta memastikan kelompok rentan memperoleh perlindungan dan akses yang setara terhadap layanan dasar.
โPertumbuhan tanpa pemerataan berpotensi melahirkan ketidakadilan. Karena itu, keadilan sosial harus menjadi orientasi utama pembangunan nasional,โ tegasnya.
Keempat, membangun generasi muda sebagai pelaku utama pembumian Pancasila. Fahira Idris meyakini generasi muda bukan hanya pewaris Pancasila, tetapi juga aktor utama yang menentukan masa depan ideologi bangsa.
Oleh karena itu, pendidikan Pancasila harus dilakukan secara kreatif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan generasi muda. Penanaman nilai-nilai Pancasila tidak cukup dilakukan melalui hafalan, tetapi harus diwujudkan dalam pengalaman nyata, gerakan sosial, kolaborasi lintas komunitas, inovasi digital, hingga berbagai aktivitas yang menumbuhkan empati, toleransi, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.
Kelima, memperkuat gotong royong untuk menjaga lingkungan dan masa depan generasi berikutnya, sekaligus mengingatkan bahwa tantangan perubahan iklim, bencana ekologis, pencemaran lingkungan, dan kerusakan sumber daya alam harus dipandang sebagai isu kebangsaan. Nilai gotong royong, tanggung jawab moral terhadap sesama, serta keadilan antargenerasi yang terkandung dalam Pancasila menuntut seluruh elemen bangsa untuk terlibat aktif menjaga lingkungan hidup.
โMelestarikan lingkungan bukan hanya agenda ekologis, tetapi juga wujud pengamalan Pancasila karena menyangkut hak generasi mendatang untuk hidup secara layak dan berkelanjutan,โ ujarnya.
Keenam, menghadirkan Diplomasi Pancasila untuk perdamaian dunia, sejalan dengan tema Hari Lahir Pancasila tahun ini, menilai Indonesia memiliki modal moral yang kuat untuk terus menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan perdamaian dunia. Nilai kemanusiaan, dialog, penghormatan terhadap kedaulatan bangsa, penyelesaian konflik secara damai, serta perjuangan terhadap keadilan global yang terkandung dalam Pancasila harus terus menjadi fondasi politik luar negeri Indonesia.
โDi tengah berbagai konflik dan ketegangan geopolitik yang terjadi saat ini, Indonesia harus terus hadir sebagai bangsa yang mengedepankan dialog, kemanusiaan, dan perdamaian. Inilah kontribusi paling otentik yang dapat kita berikan kepada dunia melalui Pancasila,โ pungkas aktivis perempuan ini. (***/Jie)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com




Komentar