RUZKA INDONESIA — Ada satu penyakit klasik di dunia korporasi: budaya perusahaan cuma berhenti di dinding. Dipajang rapi, dibingkai mahal, tapi begitu masuk ruang kerja, ya… hilang tanpa jejak. Nah, PT Patra Drilling Contractor (PDC) tampaknya ogah terjebak di lubang yang sama.
Lewat kegiatan bertajuk Upskilling and Coaching Agent of Change (AoC) di Bandung, Rabu (28/4/2026), PDC mencoba memastikan bahwa “budaya perusahaan” bukan sekadar jargon HRD yang bikin ngantuk saat meeting.
Sebanyak 28 Agent of Change dari berbagai lini dikumpulkan. Bukan buat foto bareng doang, tapi untuk “di-upgrade” biar benar-benar jadi penggerak perubahan—bukan sekadar titel tambahan yang numpang di email signature.
Plt. Direktur Utama PDC, Fitra Adriza, bahkan menegaskan posisi AoC ini bukan figuran.
“Agent of Change bukan sekadar peran tambahan, tetapi motor penggerak yang memastikan budaya perusahaan benar-benar hidup dalam setiap proses kerja,” katanya.
Kalimat yang, kalau ditarik ke realita kantor kebanyakan, sebenarnya cukup menohok. Soalnya, seringkali yang disebut “agen perubahan” justru lebih sering jadi agen kelelahan—ikut semua program, tapi nggak jelas dampaknya.
PDC tampaknya sadar betul soal itu. Manager Organization & QM PT Pertamina Drilling, Riyan Tamara, menekankan pentingnya konsistensi AoC agar capaian budaya perusahaan nggak cuma jadi euforia sesaat. AoC didorong jadi role model sekaligus katalis—alias bukan cuma ngomong perubahan, tapi juga jadi contoh hidupnya.
Di sesi materi, peserta juga dibekali pemahaman soal One Pertamina oleh Sr. Analyst Culture & Change Management Pertamina Hulu Energi (PHE), Vonica Risyani. Intinya sederhana tapi sering diabaikan: perubahan budaya itu bukan proyek satu divisi, tapi kerja kolektif.
Vonica juga mengingatkan bahwa tugas AoC bukan cuma menjaga yang sudah baik, tapi juga cukup berani untuk bilang, “Ini masih berantakan, kita benerin.”
“Tahun ini, AoC diharapkan dapat menjadi penggerak perubahan yang berkelanjutan, mampu mempertahankan hal-hal yang sudah baik sekaligus mendorong peningkatan di area yang masih perlu diperbaiki,” ujarnya.
Bahasa halusnya: jangan cepat puas. Bahasa jujurnya: masih banyak PR.
Menariknya, kegiatan ini nggak berhenti di teori. Tiap fungsi—mulai dari Finance and Business Solution (FBS), Operation, sampai Engineering, Procurement, and Construction (EPC)—diminta mempresentasikan Project Charter Budaya masing-masing. Di situ, tantangan dibuka terang-terangan, bukan ditutup pakai istilah “sedang dalam proses penyesuaian”.
VP Operation PDC, Agus Sudjatmoko, menekankan bahwa semua inisiatif budaya ini harus punya dampak nyata. Bukan sekadar program yang rajin dilaporkan, tapi miskin perubahan.
“Perusahaan memastikan setiap inisiatif budaya yang dijalankan AoC memiliki dampak nyata, terukur, dan berkontribusi terhadap peningkatan kinerja perusahaan,” jelasnya.
Ujung-ujungnya, PDC ingin memastikan satu hal sederhana: kalau bicara budaya perusahaan, yang berubah bukan cuma slide presentasi—tapi juga cara kerja orang-orang di dalamnya.
Karena kalau tidak, ya percuma. Budaya tetap jadi pajangan, AoC jadi formalitas, dan perubahan… cuma jadi bahan rapat berikutnya. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com




















Komentar