RUZKA INDONESIA โ Setiap pagi, sebelum matahari tegak sempurna berdiri di atas Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Mujamil (56 tahun) sudah lebih dulu berdiri di lahan bengkel las depan rumahnya. Tangannya yang sedikit kasar itu memegang stang las listrik dan memakai topeng pelindung wajah. Percikan-percikan api menyembur ke udara โ kecil, bergemerlapan, lalu padam. Begitu terus, hari demi hari, tahun demi tahun. Dari percikan api itulah keluarga sederhana ini hidup.
Namun di dalam rumah yang tampak biasa di Jalan Sejati, Gang Kasah 1, RT 21, Sambutan, Kota Samarinda, ada percikan lain yang tidak pernah padam. Namanya Laila Nur Azizah, perempuan belia kelahiran Samarinda. Ia akrab disapa Ella oleh orang-orang di sekitarnya.
Ella adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Usianya baru sembilan belas tahun. Tinggi tubuhnya sedang, bicaranya lugas, matanya menyimpan kilatan yang sulit dijelaskan โ seperti seseorang yang sudah tahu ke mana ia akan pergi, meski jalan di depannya masih panjang, terjal dan berliku.
Dan jalan itu, yang ia pilih dengan sepenuh hati, mengarah ke Kairo, Mesir, dengan jarak ribuan kilometer dari rumahnya.
Mimpi yang Dimulai dari Sebuah Gambar
Ella tidak ingat persis kapan pertama kali kata “luar negeri” mengendap di benaknya. Mungkin saat ia masih duduk di bangku MIN 2 Samarinda, atau ketika keluarganya sempat berpindah ke Ponorogo, Jawa Timur dan ia menyelesaikan kelas enam di SDN 2 Nglumpang, Desa Nglumpang, Kecamatan Mlarak, Ponorogo. Yang ia ingat adalah perasaan itu, perasaan yang muncul saat melihat orang-orang yang pernah kuliah di luar negeri.
“Waktu kecil, saya melihat orang-orang yang kuliah di luar negeri itu seperti orang-orang yang wow,” kata Ella, tersenyum malu.
“Wow dalam arti yang sebenarnya โ ada sesuatu yang berbeda dari mereka. Cara mereka bicara, cara mereka berpikir. Dan saya bertekad, suatu hari nanti, saya harus seperti itu, ” cerita Ella ketika ditemui RUZKA INDONESIA di rumah bibinya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (14/4/2026).
Tekad itu tidur lama di dalam dirinya. Ia melanjutkan pendidikan di SMPIT Al-Hidayah Tenggarong, sebuah lembaga pendidikan yang berlokasi di Jalan IKIP Mekar Sari, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, lalu masuk MAN 2 Samarinda. Baru di kelas sepuluh, mimpi itu kembali bangun dan bergerak. Tapi belum mantap. Masih seperti bara yang belum cukup ditiup.
Kemantapan Itu Datang Di Awal Kelas Dua Belas.
“Waktu kelas dua belas, saya mulai benar-benar memikirkan kuliah ke mana. Dan tiba-tiba keinginan itu muncul lagi, lebih kuat dari sebelumnya,” lanjut Ella.
“Saya merasa condong ke ilmu agama. Saya ingin berada di lingkungan yang bisa membawa saya lebih dekat dengan Islam. Dan Al-Azhar โ saya rasa tidak ada universitas lain di dunia yang bisa menandingi itu.”
Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir sendiri adalah salah satu institusi pendidikan tertua di dunia. Berdiri sejak tahun 970 Masehi, universitas ini telah melahirkan ribuan ulama, cendekiawan, dan pemikir Islam dari seluruh penjuru bumi. Bagi banyak santri dan pelajar Muslim Indonesia, nama Al-Azhar bukan sekadar nama universitas โ ia adalah sebuah mimpi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dan kini, seorang gadis dari gang sempit di Samarinda, anak seorang tukang las, berani menaruh mimpi itu di pundaknya.
Jalan Panjang Sebelum Kairo
Mimpi yang besar menuntut perjalanan yang tidak main-main. Ella tahu itu. Dan ia mulai bergerak jauh sebelum teman-temannya menyadari bahwa ia sudah memilih jalan yang berbeda.
September 2024. Ella masih berseragam putih abu-abu MAN 2 Samarinda. Setiap hari, setelah bel pulang berbunyi dan teman-temannya berhamburan ke kantin atau pulang ke rumah, Ella dan sahabatnya โ Rahmi Zahratunnisa โ justru berjalan ke arah yang berbeda. Mereka menuju rumah seorang ustaz, Ustaz Syaikhul Umam, untuk belajar bahasa Arab.

“Jaraknya lumayan jauh,” kenang Ella. “Tapi kami tidak pernah berpikir untuk tidak berangkat. Kami sudah bertekad. Capek itu urusan nanti,โ kata Ella sambil tersenyum mengenang.
Dari September hingga Februari 2025, rutinitas itu mereka jalani setiap hari. Bahasa Arab bukan bahasa yang mudah โ huruf-hurufnya asing, tata bahasanya berlapis, dan pengucapannya memerlukan latihan yang tidak sedikit. Tapi Ella dan Rahmi menanggungnya bersama. Dua sahabat, satu impian, satu jalan.
Desember 2025, Ella mendaftarkan diri pada program Tahdid Mustawa โ ujian penentuan level bahasa Arab dari Markaz Tatwir Mesir, sebuah jalur yang membuka pintu bagi siapa saja yang ingin berkuliah di Mesir. Program ini bukan jalur yang mudah. Ada serangkaian syarat dan ujian seleksi yang harus dilalui. Ella menyebutnya seperti “jalur mandiri” โ tidak ada yang menjamin kelulusan, kecuali kemampuan dan kesiapan diri sendiri.
Februari 2026, ia duduk menghadapi ujian penentuan level bahasa Arab untuk program Darul Lughoh โ pembekalan bahasa sebelum keberangkatan ke Mesir. Dan akhir Maret 2026, Ella memulai Darul Lughoh selama tiga bulan. Ia tinggal di rumah om dan bibinya, menghadiri ujian tatap muka setiap bulan, jauh dari orang tua, jauh dari kenyamanan rumah sendiri.
“Sebelum berangkat ke Mesir nanti, masih ada ujian mu’adalah โ penyetaraan ijazah Indonesia dengan ijazah Mesir,” jelasnya, menyebut satu demi satu tahapan dengan hafal.
“Kalau semuanya lancar, Insyaallah September 2026 mendatang saya sudah di Kairo. Saya percaya, kalau kita berani keluar dari zona nyaman, pasti ada hal yang luar biasa yang akan kita dapatkan.”
Dua Sahabat, Satu Arah
Dalam perjalanan panjang seperti ini, ada satu hal yang membuat Ella tidak pernah benar-benar sendirian: Rahmi Zahratunnisa. Mereka satu sekolah, satu kelas, satu mimpi. Ketika Ella ragu, Rahmi yang menguatkan. Ketika Rahmi lelah, Ella yang mengajak terus melangkah.
Mereka saling mengingatkan, saling mendorong, saling menjaga โ dua gadis generasi Z yang memilih untuk bermimpi besar di usia yang kebanyakan orang masih belum tahu ingin menjadi apa.
“Kami selalu support satu sama lain,” kata Ella. “Dan itu penting sekali. Karena prosesnya tidak mudah. Ada materi yang sama sekali belum pernah saya pelajari selama SMA. Tapi karena ada Rahmi, rasanya tidak terlalu berat.”
Persahabatan mereka adalah satu dari banyak hal yang menunjukkan bahwa perjalanan menuju Al-Azhar bukan semata soal kecerdasan akademik. Di sekolah, Ella mengakui dirinya bukan pemegang nilai tertinggi.
“Nilai saya selalu memenuhi standar, tapi belum pernah yang terbaik di kelas,” ujarnya jujur. Namun di luar kelas, ia adalah sosok yang lain โ penuh semangat, lantang, dan berani.

Ella adalah pemenang lomba dai-daiyah muda, juara syarhil MTQ, pemenang lomba orasi, dan berprestasi di lomba baris berbaris. Ia adalah anak yang hidupnya bersinar paling terang di luar ruang kelas, di atas panggung, di tengah kerumunan, di hadapan microphone.
“Saya memang lebih suka tantangan di luar pelajaran,” akunya. “Dan mungkin itulah yang membuat saya tidak takut mencoba sesuatu yang besar seperti ini.”
Perjuangan panjang itu berjalan dalam diamโtanpa kepastian, tanpa jaminan. Dan akhirnya, kabar yang selama ini hanya berani mereka doakan dalam sujud panjang itu benar-benar datang.
Laila Nur Azizah โ anak tukang las dari gang sempit Samarinda itu โ resmi diterima di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada Program Studi Syariah Islamiyah.
Sementara itu, sahabat seperjuangannya, Rahmi Zahratunnisa, juga mengukir takdir yang sama, diterima di Program Studi Sastra Arab di universitas yang sama. Dua gadis yang dulu berjalan beriringan menuju rumah ustaz mereka, kini melangkah bersama menuju salah satu pusat peradaban ilmu Islam tertua di dunia.
Api di Bengkel, Api di Dada
Kembali ke Mujamil โ sang ayah. Lelaki itu tidak pernah mengenyam bangku kuliah. Hidupnya dihabiskan di antara besi, api, dan asap serta alat-alat pertukangan besi. Setiap hari ia menerima pesanan โ pagar, teralis, kanopi, railing tangga โ lalu mengerjakannya dengan tangan dan keahlian yang didapat dari pengalaman panjang, bukan dari buku teks. Istrinya, Siti Apsoh (46 tahun) adalah ibu rumah tangga yang juga kerap membantu urusan bengkel.
Ketika Ella mengutarakan niatnya kuliah ke Kairo, apa yang terjadi? “Orang tua saya sangat mendukung,” kata Ella dengan nada haru yang samar dalam suaranya.
“Baik dukungan semangat maupun biaya. Mereka tidak pernah bilang tidak bisa atau tidak mungkin. Mereka bilang, coba saja.”
Sebuah dukungan yang bukan sesuatu yang remeh. Kuliah di luar negeri apalagi di Mesir jelas membutuhkan biaya yang tidak kecil. Untuk keluarga dengan usaha bengkel las di gang sempit Samarinda, ini adalah keputusan besar yang menuntut pengorbanan nyata.
Tapi mungkin itulah yang membuat api di dada Ella tidak pernah padam. Ia tahu orang tuanya berjuang. Ia tahu setiap percikan di bengkel las ayahnya adalah peluh yang nyata. Dan ia tahu bahwa mimpinya bukan hanya miliknya sendiri โ mimpi itu juga milik ayah yang tak pernah kuliah, dan ibu yang tak pernah jauh dari dapur dan bengkel.
Namun Ella paham, mimpi besar selalu datang bersama tanggung jawab yang tak kecil. Ia kini terus mencari dan mengajukan beasiswa dari berbagai sumber, dengan satu harapan sederhana: meringankan beban orang tuanya. Dalam rencananya, perjuangan itu belum selesaiโketika tiba di Mesir nanti, ia akan kembali mengetuk pintu-pintu kesempatan, termasuk dari Universitas Al-Azhar dan lembaga lainnya. Baginya, perjuangan tidak berhenti saat diterimaโjustru di situlah babak baru dimulai.
Bukan karena ia tidak percaya diri, tapi karena ia ingin meringankan beban yang ditanggung orang tuanya. โSaya tidak mau orang tua saya terlalu terbebani,” katanya sedikit haru.
“Mereka sudah terlalu banyak berkorban. Kalau saya bisa dapat beasiswa, berarti saya sudah sedikit membalas kerja keras mereka.”
Zona Nyaman yang Ia Tinggalkan
Ada satu kalimat yang Ella ucapkan di tengah obrolan panjang kami, dan kalimat itu terasa seperti bunyi gong yang menggema: “Saya percaya, kalau kita berani keluar dari zona nyaman, pasti ada hal yang luar biasa yang akan kita dapatkan.”
Kalimat itu bukan kutipan dari buku motivasi. Itu adalah keyakinan yang ia bangun sendiri, dari proses yang ia jalani sendiri. Dari rumah ke rumah ustaz setiap hari, dari Samarinda ke Kediri untuk ujian level bahasa Arab, dari kamar tidurnya yang nyaman ke rumah om dan bibi untuk menjalani Darul Lughoh. Setiap langkah adalah keluar dari zona nyaman. Dan setiap langkah membuktikan bahwa ia bisa.
Tentu saja ada yang sulit. Ella tidak menyembunyikan itu. Materi ujian untuk masuk Al-Azhar mencakup pelajaran yang tidak pernah ia sentuh selama SMA. Bahasa Arab yang ia pelajari masih terus diperdalamnya. Dan jarak โ jarak dari keluarga, dari Samarinda, dari semua yang familiar โ adalah harga yang harus dibayar.
“Tapi saya yakin,” katanya. “Dan keyakinan itu yang membuat saya terus jalan.”
Pulang Membawa Berkah
Ella tidak hanya bermimpi tentang Kairo. Ia juga bermimpi tentang pulang. Kelak, jika semua rencana berjalan โ jika visa turun, jika beasiswa diraih, jika ia berhasil duduk di bangku kuliah Al-Azhar โ ia tidak ingin ilmu itu berhenti di dirinya sendiri. Ia ingin membawa pulang keberkahan ilmu dari Mesir ke Indonesia. Ia ingin ilmu itu bermanfaat untuk orang lain.
Ella mengaku belum tahu persis bentuknya akan seperti apa. Mungkin ia akan menjadi guru, mungkin dai, mungkin peneliti, mungkin sesuatu yang belum ada namanya hari ini. Tapi niatnya sudah jelas dan bulat seperti bulan purnama di atas Kairo: ilmu yang didapat harus kembali kepada masyarakat.
Dan mungkin, di sudut kecil mimpi itu, ada juga gambar seorang ayah yang berdiri di depan bengkel las โ yang untuk pertama kalinya bisa berkata kepada pelanggannya dengan bangga: “Anak saya kuliah di Al-Azhar, di Kairo.”

Percikan api di bengkel Mujamil mungkin kecil dan cepat padam. Tapi percikan yang menyala di dalam diri Ella โ itu berbeda. Itu api yang sudah lama disiapkan untuk sebuah perjalanan yang panjang.
Bahwa mimpi, sejauh apa pun, akan selalu menemukan jalannyaโselama kita berani melangkah.
Pada akhirnya, kisah Ella bukan hanya tentang seorang gadis yang ingin kuliah di Al-Azhar. Ini adalah kisah tentang bagaimana mimpi tumbuh di tempat yang sederhana, bagaimana harapan bertahan di tengah keterbatasan, dan bagaimana keyakinan mampu membawa seseorang melampaui batas-batas yang tampaknya tak mungkin.
Di sebuah gang kecil di Samarinda, di antara suara besi dan percikan api, seorang anak tukang las sedang menulis takdirnya sendiri.
Dan dunia, perlahan, mulai mendengarnya. Dan September 2026 ini, Insyaallah, api itu akan menerangi jalan dari Samarinda hingga ke Kairo. (***)
Jurnalis/ Editor: Djoni Satria


Komentar