RUZKA INDONESIA — Wali Kota Depok, Supian Suri, menegaskan akan melakukan evaluasi terhadap program Bimbingan Rohani (Bimroh) agar lebih tepat sasaran dan memberikan dampak nyata, khususnya dalam mengatasi persoalan buta huruf Al-Qur’an di kalangan pelajar.
Menurut Supian, sebelumnya alokasi anggaran Bimroh cukup besar dengan cakupan hingga 2.000 peserta.
Namun, dengan kondisi fiskal yang mengalami pengurangan sekitar Rp380 miliar, pemerintah harus melakukan penyesuaian tanpa menghilangkan prioritas utama.
“Ini bukan semata-mata efisiensi, tetapi ada prioritas yang harus kita penuhi. Kita evaluasi agar anggaran yang ada benar-benar memberikan dampak,” uja Supian dalam Halalbihalal bersama MUI Kota Depok di Gedung Dakwah MUI Depok, Senin (13/04/2026).
Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi literasi Al-Qur’an di Kota Depok, khususnya di kalangan siswa sekolah dasar negeri.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, dari sekitar 32 ribu lulusan SD setiap tahun, hanya sekitar 30 persen yang mampu membaca Al-Qur’an.
“Artinya masih banyak anak-anak kita yang belum bisa baca Al-Qur’an. Ini jadi perhatian serius,” tegasnya.
Karena itu, Pemkot Depok berencana mengarahkan fokus program Guru Lekar agar lebih menyasar para guru ngaji, yang dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan kemampuan baca Al-Qur’an anak-anak sejak dini.
Supian menilai, selama ini pelaksanaan Bimroh belum sepenuhnya tepat sasaran, karena tidak seluruh penerima manfaat merupakan pengajar langsung di lapangan.
“Kita ingin kembalikan ke tujuan awal, yaitu memperkuat peran guru ngaji. Harus jelas berapa anak yang diajar, metode yang digunakan, dan bagaimana hasilnya,” jelasnya.
Ia juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak seperti MUI, Kementerian Agama, serta organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah untuk merumuskan langkah konkret dalam mengatasi persoalan tersebut.
Sebelumnya, Pemkot Depok juga telah menjalin kerja sama dengan Muslimat NU dalam uji coba metode pembelajaran Al-Qur’an di sejumlah titik sebagai pilot project.
“Metodenya ternyata beragam dan efektif. Ini akan kita kembangkan. Yang penting anak-anak kita lulus SD sudah bisa baca Al-Qur’an,” ungkap Supian.
Ia menambahkan, perhatian khusus perlu diberikan kepada sekolah dasar negeri, karena berbeda dengan madrasah atau sekolah berbasis agama yang memang memiliki kurikulum lebih kuat dalam pembelajaran Al-Qur’an.
“Kalau di SD negeri, jam pelajaran agama terbatas, sehingga perlu dukungan tambahan dari luar. Ini yang ingin kita kuatkan,” pungkas Supian. (***)
Jurnalis: Risjadin Muhammad
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar