RUZKA INDONESIA — Dalam hening yang penuh makna, Universitas Indonesia (UI) kembali berkumpul untuk mengenang almarhum Akseyna Ahad Dori.
Sebelas tahun telah berlalu sejak kepergiannya, namun ingatan tentang sosoknya tetap hidup di hati banyak orang—keluarga, sahabat, dan sivitas akademika UI.
Melalui kegiatan memorial bertajuk “Satu Hati untuk Akseyna: Merawat Ingatan, Menjaga Harapan” yang berlangsung di Taman Lingkar Perpustakaan UI, pada Kamis (02/04/20206), UI menghadirkan ruang bersama yang sederhana namun sarat makna.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Rektorat dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, yang bersama-sama menghadirkan ruang refleksi yang inklusif dan penuh empati.
Pimpinan universitas, dosen, dan mahasiswa duduk berdampingan dalam suasana yang hangat, tanpa sekat, dan saling menguatkan. Tidak ada sorotan berlebihan dalam kegiatan ini. Yang hadir justru keheningan, doa, dan refleksi. Ingatan tentang Akseyna dihidupkan kembali melalui doa bersama dan ungkapan-ungkapan yang mengalir—tentang kehilangan, harapan, dan komitmen untuk tidak melupakan.
Dalam kesempatan itu, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Mahasiswa dan Alumni, Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si., menyampaikan bahwa momen ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga
menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi bersama.
“Hari ini kita hadir bukan hanya untuk mengingat, melainkan juga untuk menjaga. Ingatan tentang Akseyna adalah pengingat bagi kita semua tentang pentingnya kepedulian, kebersamaan, dan
keadilan yang terus diupayakan,” ujar Prof. Hamdi.
Sebagai bagian dari refleksi bersama, UI juga menegaskan kembali perannya dalam mendukung proses penegakan hukum yang masih berjalan. Dengan tetap menghormati kewenangan pihak
berwenang, universitas berkomitmen untuk terus bersikap terbuka dan kooperatif, berharap kebenaran dapat menemukan jalannya.
Di sisi lain, merawat ingatan tentang Akseyna juga dimaknai sebagai upaya menghadirkan warisan yang hidup. Bukan hanya dalam bentuk kenangan, tetapi juga melalui semangat belajar, kepedulian
terhadap sesama, dan upaya menjaga lingkungan kampus sebagai ruang yang aman dan manusiawi.
Kegiatan memorial ini menjadi pengingat bahwa duka memang tidak pernah benar-benar hilang.
Namun, dari duka itulah tumbuh kekuatan—untuk tetap bersama, saling menjaga, dan memastikan bahwa setiap cerita, termasuk cerita Akseyna, tidak pernah dilupakan. (***)
Jurnalis: Ruzka Azra Muhammad
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar