Seseorang yang ibadahnya tekun dan dari pakaiannya terlihat shaleh. Namun, tidak mencintai sesama dengan berbagi rezeki yang diterimanya, termasuk golongan orang-orang yang mendustakan agama
RUZKA INDONESIA — Suatu hari terjadi dialog antara Nabi Musa AS dengan Allah SWT tentang amalan apa yang disukaiNya.
Nabi Musa AS yang bergelar Kalimullah karena menerima wahyu langsung dari Allah SWT tanpa melalui malaikat Jibril bertanya kepada Allah SWT, โYa Allah, amalan ibadah apa yang paling Engkau senangi dariku. Apakah shalatku?โ
Allah SWT menjawab, โTidak. Shalatmu itu hanya untukmu sendiri. Karena shalat membuat engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.โ
Nabi Musa AS pun bertanya kembali kepada Allah SWT, โApakah dzikirku?โ
Allah SWT kembali menjawab, โTidak. Dzikirmu itu untuk dirimu sendiri. Karena dzikir membuat hatimu menjadi tenang.โ
โApakah puasaku?โ tanya Nabi Musa AS bertambah penasaran.
Allah SWT pun menjawab, “Tidak. Puasamu itu hanya untukmu saja. Karena puasa melatih diri dan mengekang hawa nafsumu.โ
Lalu Nabi Musa pun bertanya, โIbadah apa yang membuat Engkau senang ya Allah?โ
โMencintai sesama dan bersedekah. Tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang kesusahan dengan sedekah, sesungguhnya aku berada di sampingnya,โ jawab Allah.
Kisah yang termaktub dalam kitab Mukasyafah al-Qulub karya Imam al-Ghazali mengingatkan kepada kita agar tidak bangga dengan ibadah-ibadah yang telah dilakukan.
Semua ibadah yang dilakukan tidak akan menjamin seseorang dicintai Allah dan masuk surga-Nya.
Cinta terhadap sesama menjadi kunci kesempurnaan amalan ibadah agar kita pun dicintai Allah SWT.
Seseorang yang ibadahnya tekun dan dari pakaiannya terlihat shaleh. Namun, tidak mencintai sesama dengan berbagi rezeki yang diterimanya, termasuk golongan orang-orang yang mendustakan agama. Lebih spesifik lagi berbagi dengan anak yatim piatu dan orang miskin.
Hal ini sudah ditegaskan dalam surat Al Ma’un bahwa orang yang mendustakan agama adalah yang menghardik anak yatim dan tidak berbagi dengan orang miskin.
Dengan bersedekah, tidak akan mengurangi jumlah rezeki yang dimiliki. Sebaliknya justru akan menambahnya, karena hakikat memberi adalah menerima. Dengan bersedekah kekurangan dari hajat kita justru akan dicukupi oleh Allah. (***)
Sumber: NU Online
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar