Nasional
Beranda » Berita » Usia Belia, Cicilan Dua Dekade: Pelayan Rumah Makan Miliki Rumah Lewat KPR BTN

Usia Belia, Cicilan Dua Dekade: Pelayan Rumah Makan Miliki Rumah Lewat KPR BTN

Di usia 18 tahun, Fajar Maulana menggenggam kunci rumah subsidi pertamanya di Perumahan Bukit Cibadak Asri, Sukabumi, Jawa Barat. Dengan penghasilan sebagai pelayan rumah makan, ia menandatangani komitmen 240 bulan—sebuah keputusan yang mengubah posisinya dari sekadar penghuni menjadi pemilik. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Di sela denting sendok dan piring yang beradu di dapur Warung Makan Bentet Mang Dian, Cibadak, Sukabumi, seorang remaja bertubuh kurus cekatan mengantarkan sepiring nasi timbel lengkap dengan lalapan dan sambal terasi.

Namanya Fajar Maulana. Usianya baru 18 tahun. Tangannya lincah, langkahnya cepat, senyumnya sopan. Jika tak diberi tahu, orang akan mengira ia sekadar pelayan rumah makan pada umumnya—lulusan SMP (Sekolah Menengah Pertama) dengan gaji tak sampai dua juta rupiah.

Tapi Fajar menyimpan satu hal yang tak banyak orang seusianya miliki: ia sudah punya rumah sendiri. Rumah subsidi dari Bank BTN Kantor Cabang Sukabumi di Perumahan Subsidi Bukit Cibadak Asri, Jalan Kebon Kai, Ciheulang Tonggoh, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

“Awalnya saya cuma kepikiran satu, ingin punya tempat pulang yang benar-benar milik sendiri,” kata Fajar pelan kepada RUZKA INDONESIA, saat bertandang ke rumahnya, Senin (16/2/2026).

Ia belum menikah dan belum berkeluarga. Justru karena itu, ia ingin menyiapkan masa depan lebih awal.

Satu Dapil, Anggota DPR RI Fraksi PKS Puji Kinerja Bupati Majalengka: Investasi Mulai Menggeliat!

Dari Bangku SMP ke Meja Pelanggan

Fajar berhenti sekolah setelah lulus SMP. Bukan karena malas. Bukan pula karena tak ingin melanjutkan.

“Orang tua saya nggak mampu waktu itu. Saya mikir, ya sudah saya kerja saja,” ujarnya.

Sejak usia 15 tahun, ia sudah membantu di warung makan itu. Awalnya mencuci piring. Lalu membersihkan meja. Kini ia sudah dipercaya melayani pelanggan.

Penghasilannya tak tetap. Rata-rata Rp1,7 juta per bulan, ditambah uang tip jika sedang ramai.

Satgas Dinas PUPR Depok Lakukan Penambalan Jalan Berlubang, Tugas Perawatan Berkelanjutan

Banyak anak seusianya menghabiskan uang untuk motor baru, ponsel terbaru, atau nongkrong malam minggu.

Fajar memilih menabung. Setiap bulan, ia menyisihkan Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Disetorkan ke rekening Bank BTN yang ia buka dua tahun lalu atas saran pamannya.

“Saya nggak mau uang habis begitu saja. Ingin ada hasilnya.”

Disiplin, Bukan Sekadar Mimpi

Setiap pagi, sebelum warung buka, Fajar sudah menyapu halaman rumah makan. Siang hari ia melayani pelanggan yang datang silih berganti. Sore hingga malam, ia tetap berdiri di balik meja, memastikan tak ada pesanan yang terlewat.

Legislator PKS Ateng Sutisna Kritik Rencana Proyek Geotermal Tampomas: Jangan Tergesa-gesa

Ia jarang nongkrong. Jarang membeli barang-barang konsumtif.

Waktu luangnya lebih sering ia gunakan untuk memikirkan rencana ke depan daripada sekadar menghabiskannya.

“Teman-teman suka bilang saya terlalu serius. Tapi saya nggak mau selamanya kerja tanpa arah,” katanya.

Ia tahu 20 tahun bukan waktu yang singkat. Tapi baginya, rumah itu bukan beban—melainkan komitmen.

Rumah yang Tumbuh dari Tabungan Kecil

Kesempatan itu datang ketika ia mendengar informasi tentang KPR Subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Ia sempat ragu.

“Umur saya masih 18 tahun. Belum nikah. Pendidikan juga cuma SMP. Bisa nggak ya?”

Keraguan itu tidak langsung hilang begitu saja. Fajar sempat beberapa kali hanya berdiri di depan kantor pemasaran Perumahan Bukit Cibadak Asri tanpa benar-benar masuk. Bangunannya sederhana, dengan spanduk besar bertuliskan “Rumah Subsidi – Rp500 ribu Punya Rumah”.

Siang itu udara di Cibadak terasa hangat. Fajar masih mengenakan seragam warung makan. Sandalnya berdebu. Ia menatap deretan maket rumah yang dipajang di etalase kaca.

“Mas, mau lihat-lihat?” suara ramah menyapanya dari dalam.

Seorang pria berusia sekitar 30 tahunan keluar sambil tersenyum. Namanya Bima, tenaga pemasar Perumahan Bukit Cibadak Asri.

Fajar sempat canggung. Tangannya saling menggenggam.

“Eh… iya, Mas. Saya cuma mau tanya-tanya. Kalau… misalnya gaji saya kecil, bisa nggak ambil rumah di sini?”

Bima tidak tertawa. Tidak meremehkan. Ia justru menggeser kursi plastik dan mempersilakan Fajar duduk.

“Kerja di mana, Mas?”

“Di warung makan… penghasilannya sekitar satu jutaan lebih dikit.”

Bima mengangguk pelan, bukan dengan ekspresi ragu, melainkan seperti seseorang yang sudah sering mendengar cerita serupa.

“Justru program rumah subsidi ini memang buat yang penghasilannya segitu, Mas. Yang penting rutin, punya tabungan, dan komitmen bayar cicilan.”

Fajar menatap maket rumah tipe 30/60 di atas meja.

“Kalau saya umur 18 tahun, belum nikah, boleh?”

“Boleh. Selama sudah punya penghasilan tetap dan memenuhi syarat administrasi, nggak masalah. Banyak kok yang masih muda.”

Nada bicara Bima tenang, tidak menggurui. Ia membuka brosur, menunjukkan simulasi cicilan, menjelaskan skema KPR subsidi, bantuan uang muka pemerintah, dan tenor hingga 20 tahun.

“Ini keputusan besar, Mas. Nggak perlu diputuskan sekarang. Coba dihitung pelan-pelan dulu. Kalau sudah merasa siap, saya bantu sampai selesai.”

Kalimat itu yang membuat Fajar merasa dihargai, bukan didorong.

Untuk pertama kalinya, keraguan di kepalanya terasa sedikit lebih ringan.

Ia pulang hari itu dengan membawa brosur tipis dan harapan yang belum pernah ia pegang sebelumnya.

Di tangannya, bukan hanya kertas berisi simulasi cicilan. Tapi kemungkinan.

Beberapa hari kemudian, Fajar kembali ke kantor pemasaran itu. Kali ini ia tidak hanya datang untuk melihat-lihat. Ia membawa fotokopi KTP, slip tabungan, dan surat keterangan kerja dari pemilik warung makan, tempatnya bekerja.

Bima menyambutnya dengan senyum yang sama.

“Jadi serius, Mas?”

Fajar mengangguk kecil. “Saya mau coba.”

Proses pengajuan dimulai. Formulir diisi. Data diperiksa. Berkas diserahkan untuk diproses ke pihak Bank BTN.

Setelah itu, fase yang tak kalah menegangkan dimulai: survei kelayakan.

Suatu sore, seorang analis kredit datang ke warung makan tempat Fajar bekerja. Ia memperhatikan aktivitas Fajar, berbincang dengan pemilik warung, mencatat penghasilan, dan menanyakan pengeluaran bulanan.

“Yakin sanggup bayar Rp1 jutaan lebih tiap bulan?” tanya analis itu, nada suaranya datar.

Fajar menarik napas pelan, mencoba menjaga suaranya tetap stabil.

“Iya, Pak. Saya sudah hitung. Insya Allah sanggup.”

“Masih 18 tahun. Rencana ke depan gimana? Kalau nanti nikah? Kalau penghasilan turun?”

Pertanyaan itu beruntun. Tidak menyerang, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sempit.

Malam itu Fajar pulang dengan kepala penuh hitungan. Ia membuka kembali brosur yang diberikan Bima. Menghitung ulang cicilan. Mengurangkan dengan kebutuhan makan, transportasi, dan membantu orang tua.

Angka-angka itu berputar di kepalanya seperti roda yang tak berhenti.

Di rumah, ia lebih banyak diam.

Ibunya memperhatikan perubahan itu.

“Kenapa, Jar?”

“Takut nggak lolos, Mah. Takut dianggap belum mampu.”

Ibunya memandang anaknya lama. Anak yang dulu berhenti sekolah karena keadaan, kini justru mencoba melompat lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan.

“Kalau niatnya baik dan kamu disiplin, Insya Allah ada jalan,” katanya pelan.

Hari-hari berikutnya terasa lebih panjang dari biasanya.

Setiap kali ponselnya bergetar, jantung Fajar ikut berdebar. Setiap muncul notifikasi WhatsApps membuatnya menahan napas sejenak sebelum membuka layar.

Di warung makan, ia tetap bekerja seperti biasa. Mengantar nasi timbel. Mengelap meja, mencuci piring dan gelas.

Namun di balik rutinitas itu, satu kegelisahan terus mengendap: hasilnya belum juga datang.

Hampir Gagal di Meja Survei

Proses pengajuan KPR subsidi tidak langsung berjalan mulus. Saat survei kelayakan dilakukan, sempat muncul keraguan dari pihak analis kredit terkait kestabilan penghasilannya.

“Ditanya terus, yakin bisa bayar? Kan masih muda,” kenang Fajar.

Ia pulang malam itu dengan pikiran berat. Di rumah orang tuanya, ia diam cukup lama.

Ibunya, mengingat betul malam itu.

“Dia kelihatan murung. Saya tanya kenapa. Katanya takut nggak lolos.”

Sebagai buruh, orang tua Fajar tak pernah membayangkan anaknya bisa membeli rumah lebih dulu.

“Saya bilang sama dia, kalau niatnya baik dan kamu disiplin, Insya Allah ada jalan,” kata Ibunya.

Beberapa minggu kemudian, kabar itu datang. Fajar dinyatakan layak menerima KPR Subsidi dari Bank BTN.

Surat yang Mengubah Arah Hidup

Selasa, 16 Desember 2025. Jam belum menunjukkan pukul sepuluh pagi. Warung Makan belum ramai pengunjung. Fajar baru saja mengelap meja ketika notifikasi WhatsApp masuk. Pengirim: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Kantor Cabang Sukabumi.

Ia tak langsung membuka lampiran file PDF itu. Dadanya berdebar.

“Takut kalau isinya penolakan,” kenangnya.

Beberapa detik ia hanya menatap layar. Lalu menarik napas panjang dan menekan file terlampir.

Halaman pertama terbuka.

Sukabumi, 16 Desember 2025

Surat bernomor e0053/00128/SP3K/XII/2025. Perihalnya terbaca, Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit (SP3K).

Matanya bergerak cepat.

  • Maksimum Kredit: Rp160.340.000
  • Jenis Kredit: KPR Sejahtera Tapak Kepmen 689
  • Jangka Waktu: 240 bulan
  • Suku Bunga: 5% per tahun/ Anuitas
  • Angsuran per bulan: Rp1.072.200

Ia berhenti di angka angsuran. Rp 1.072.200.

Bagi Fajar, angka itu lebih dari separuh penghasilannya. Namun di bawah angka itu terdapat satu kalimat yang ia cari sejak awal: “Permohonan kredit Bapak/Ibu dapat kami setujui.”

Ia terduduk di kursi plastik. Dunia terasa melambat beberapa detik.

“Artinya disetujui,” katanya pelan.

Ia mengirim pesan singkat pada ibunya.

“Mah… disetujui.”

Ponsel langsung berdering.

Ibunya menangis.

Rumah di Bukit Cibadak Asri

Perumahan bersubsidi Bukit Cibadak Asri yang dikembangkan Setiabudiland berdiri di kawasan yang mulai tumbuh di Cibadak. Jalan paving membentang rapi menuju deretan rumah tipe 30/60 yang bercat sederhana dengan aksen warna oranye. Halamannya masih berupa tanah merah. Beberapa rumah sudah dihuni, sebagian lainnya masih sunyi.

Deretan rumah subsidi di Perumahan Bukit Cibadak Asri, Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat. Kawasan inilah yang menjadi pijakan awal kepemilikan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk Fajar Maulana, pelayan rumah makan yang mengambil KPR subsidi di usia belia. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)
 

Harga rumah yang dipilih Fajar sekitar Rp160 juta.

Melalui skema KPR subsidi yang difasilitasi Bank BTN, ia memperoleh bantuan uang muka dari pemerintah. Ia hanya perlu menyediakan dana awal sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta untuk biaya administrasi dan angsuran pertama sesuai SP3K. Sisanya dicicil selama 240 bulan—dua puluh tahun.

Cicilan bulanannya Rp1.072.200.

Angka itu bukan kecil bagi Fajar. Namun baginya, angka itu bukan ancaman.

“Berarti umur 38 saya lunas,” katanya penuh keyakinan sambil tersenyum tipis.

Di dalam rumah itu belum ada perabot. Tidak ada sofa. Tidak ada lemari. Hanya ruang kosong berlantai keramik putih dan dinding bersih tanpa hiasan.

Ada aroma semen dan cat yang masih baru, bercampur bau tanah dari halaman yang belum dipagar. Fajar berdiri beberapa detik di tengah ruangan, membiarkan sunyi itu terasa utuh.

Fajar duduk di sudut ruang tamu, bersandar di dinding.

Untuk beberapa menit ia tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk, mendengarkan suara angin dari ventilasi. Di ruang kosong itu, ia untuk pertama kalinya merasa hidupnya memiliki arah yang pasti.

“Ini nanti ruang keluarga,” katanya pelan, seolah sedang berbicara dengan masa depan.

Ia belum menempati rumah itu sepenuhnya. Saat ini ia masih tinggal bersama orang tuanya untuk membantu kebutuhan keluarga. Namun hampir setiap akhir pekan, ia datang untuk membersihkan lantai, membuka jendela, dan memastikan rumah itu tetap terawat.

Rumah itu masih kosong. Tetapi di sanalah untuk pertama kalinya hidupnya terasa pasti.

Rumah sebagai Titik Balik

Bagi Fajar, rumah itu bukan sekadar bangunan tipe 30/60.

Rumah itu menjadi penanda perubahan dalam hidupnya.

“Rumah itu bukan cuma tempat tinggal. Itu cara saya membuktikan bahwa hidup saya tidak berhenti di bangku SMP,” katanya.

Di usia ketika banyak remaja masih mencari jati diri, Fajar justru sudah menentukan pijakan. Pendidikan yang terhenti di bangku SMP tak ia jadikan batas. Pekerjaan sebagai pelayan rumah makan tak ia anggap akhir.

Fajar Maulana menunjukkan kawasan Bukit Cibadak Asri di Sukabumi, Jawa Barat, lokasi rumah subsidi yang ia miliki melalui KPR. Keputusan di usia 18 tahun itu menjadi titik balik hidupnya. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

“Orang bilang punya rumah itu buat yang sudah mapan. Tapi menurut saya justru rumah bikin kita jadi lebih mapan,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung cara pandang yang berbeda.

Suatu sore, ketika matahari turun perlahan di balik perbukitan Sukabumi, Fajar berdiri di depan rumah kecilnya. Angin berembus pelan membawa aroma tanah basah.

Ia memandangi pintu kayu berwarna hitam kecokelatan itu cukup lama.

Kadang ia membayangkan nanti ada suara anak kecil berlari di ruang tamu. Kadang ia membayangkan meja makan kecil di sudut ruangan. Kadang hanya membayangkan dirinya pulang setelah bekerja, membuka pintu, dan masuk ke tempat yang benar-benar miliknya.

Namun kisah Fajar tidak berdiri di ruang hampa.

Di Balik Angka dan Keberanian

Harga rumah semakin menjauh dari jangkauan banyak orang. Survei Katadata Insight Center 2025 mencatat 63,5 persen responden menyebut faktor ekonomi sebagai hambatan utama membeli rumah. Bahkan 16,3 persen mengaku tidak berminat memiliki hunian dalam lima tahun ke depan karena harga dianggap tak lagi terjangkau.

Minat ada, tetapi keberanian mengambil komitmen jangka panjang perlahan surut di hadapan angka-angka yang terasa semakin besar.

Bagi sebagian generasi muda, rumah bukan lagi target awal kehidupan, melainkan kemewahan yang ditunda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2025 menunjukkan 85,64 persen pemuda usia 16–30 tahun tercatat tinggal di rumah milik sendiri. Sekilas angka itu terlihat optimistis. Namun realitas di baliknya lebih kompleks.

Kategori “milik sendiri” dalam statistik kependudukan tidak selalu berarti kepemilikan atas nama pribadi pemuda. Dalam banyak kasus, rumah tersebut masih tercatat atas nama orang tua atau keluarga. Artinya, mayoritas pemuda Indonesia masih berada dalam payung kepemilikan generasi sebelumnya—tinggal, tetapi belum tentu memiliki.

Sebanyak 8,34 persen hidup dalam skema bebas sewa. Sebanyak 5,25 persen berada dalam posisi kontrak atau sewa. Sisanya tinggal di rumah dinas atau kategori lain dengan proporsi relatif kecil.

Kepemilikan rumah pribadi di usia muda bukan arus utama. Ia masih menjadi pengecualian.

Pekerja informal masih mendominasi lebih dari 58 persen struktur ketenagakerjaan nasional, sementara backlog perumahan tetap di atas 12 juta unit. Akses dan daya beli belum sepenuhnya sejalan.

Sumber: Data BPS Maret 2025 menunjukkan mayoritas pemuda Indonesia masih tinggal di rumah milik keluarga.
Kepemilikan rumah pribadi di usia muda belum menjadi arus utama.

Pengamat properti Anton Sitorus menilai generasi muda menghadapi tekanan ganda: harga rumah meningkat lebih cepat dibanding kenaikan upah, sementara pola konsumsi urban membuat prioritas kepemilikan hunian sering tertunda. Tanpa dukungan subsidi, kelompok berpenghasilan rendah akan sulit masuk pasar perumahan formal.

Direktur CELIOS Bhima Yudhistira Adhinegara juga menekankan bahwa akses pembiayaan menjadi kunci. Skema KPR subsidi, menurutnya, membuka peluang bagi kelompok yang sebelumnya tidak sepenuhnya terjangkau sistem perbankan.

Di tengah lanskap itulah, keputusan Fajar menjadi pengecualian yang nyata.

Ia menandatangani komitmen 240 bulan di usia ketika banyak orang seusianya bahkan belum berani menghitungnya.

Di sinilah kebijakan pembiayaan menemukan maknanya.

Direktur Utama Bank BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menegaskan bahwa perluasan akses pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pekerja sektor informal merupakan bagian dari mandat strategis perseroan.

“Kami ingin memastikan bahwa akses terhadap kepemilikan rumah tidak hanya dinikmati oleh mereka yang bekerja di sektor formal. Selama ada komitmen dan kemampuan membayar, generasi muda dan pekerja informal juga harus memiliki kesempatan yang sama,” ujarnya dalam sejumlah forum ekonomi dan properti nasional.

Menurut Nixon, KPR subsidi bukan sekadar instrumen pembiayaan, melainkan jembatan mobilitas sosial.

“Rumah adalah fondasi stabilitas keluarga. Ketika generasi muda bisa mengaksesnya lebih awal, dampaknya bukan hanya ekonomi, tetapi juga sosial,” katanya.

Namun keberlanjutan akses tersebut tetap bergantung pada stabilitas pendapatan dan disiplin pembayaran yang tidak ringan bagi pekerja berpenghasilan rendah.

Di antara statistik tentang penundaan dan keterbatasan itu, keputusan Fajar berhenti menjadi cerita pribadi. Ia berubah menjadi pengecualian yang nyata—bukti bahwa akses pembiayaan yang inklusif bisa memindahkan generasi muda dari sekadar penghuni menjadi pemilik.

Kunci yang Datang Lebih Cepat dari Usia

Di tengah lanskap itulah, keputusan Fajar mengambil bentuk yang lebih konkret.

Ia berusia 18 tahun. Bukan pegawai tetap. Bukan sarjana. Penghasilannya sekitar Rp1,7 juta per bulan sebagai pelayan rumah makan. Tidak ada pekerjaan tambahan. Tidak ada warisan. Tidak ada jaring pengaman finansial.

Bagi Fajar, menunggu mapan bukan pilihan. Jika menunggu hingga semua terasa aman dan cukup, mungkin ia tak akan pernah memulai.

Keputusan itu mencapai puncaknya pada sebuah pagi di pertengahan Desember 2025, ketika ponselnya bergetar di sela suara piring beradu di dapur warung makan tempat ia bekerja.

Sebuah pesan masuk melalui aplikasi WhatsApp di ponselnya. Dan dari sanalah arah hidupnya berubah.

Bukan karena jumlah kreditnya besar, melainkan karena untuk pertama kalinya masa depannya memiliki kepastian administratif.

Kunci dan Masa Depan

Sore itu, Fajar berdiri di halaman rumahnya di Bukit Cibadak Asri. Beberapa unit di sekelilingnya masih kosong. Jalan paving membentang lurus, membelah deretan rumah tipe sederhana yang perlahan mulai terisi.

Ia memegang kunci rumahnya seperti biasa—tanpa seremoni, tanpa gestur berlebihan.

Namun saat pertama kali menerima kunci itu, ia tidak langsung memasukkannya ke pintu. Ia memutarnya di telapak tangan beberapa detik, memperhatikan pantulan cahaya pada besi kecil itu, seolah memastikan benda tersebut benar-benar miliknya.

“Kalau nunggu mapan dulu, saya takut nggak mulai-mulai,” katanya.

Di tengah data yang menunjukkan banyak generasi muda menunda membeli rumah karena harga yang terus meningkat, Fajar memilih mengambil komitmen lebih awal. Ia masuk ke sistem pembiayaan formal ketika banyak orang seusianya bahkan belum memikirkannya.

Rumah itu sederhana. Halamannya belum dipagar. Ruang tamunya masih kosong. Namun status kepemilikan itu memberi sesuatu yang tidak terlihat di dinding atau lantainya: rasa aman akan masa depan.

Bagi Fajar, rumah ini bukan simbol keberhasilan instan. Ia adalah komitmen jangka panjang yang harus dijaga setiap bulan.

Kisahnya memang personal. Tetapi di baliknya, ada gambaran lebih luas tentang bagaimana akses pembiayaan yang inklusif dapat membuka peluang bagi generasi muda berpenghasilan rendah untuk memiliki aset sejak dini.

Di Cibadak, seorang pelayan rumah makan telah membuktikan bahwa kepemilikan rumah di usia belia bukan semata soal latar belakang, melainkan tentang disiplin, keberanian mengambil keputusan, dan sistem yang memberi ruang.

Data BPS menunjukkan kepemilikan rumah pribadi di usia 18 tahun masih sangat jarang terjadi di kelompok berpenghasilan rendah.

Di antara deretan angka statistik tentang perumahan nasional, nama Fajar kini bukan sekadar data. Sementara jutaan pemuda yang masih menunggu, Fajar sudah menandatangani masa depannya. (***)

Jurnalis/ Editor: Djoni Satria

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom