RUZKA INDONESIA – Menyambut datangnya bulan suci, Tabligh Akbar Tarhib Ramadhan 1447 H digelar di Masjid Baiturrahman (Masjid Merah), Jalan Tole Iskandar KM 3, Depok, Ahad (15/02/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Ramadhan Momentum Perubahan” dan dihadiri ratusan jamaah yang memadati area masjid sejak pagi hari.
Acara ini menghadirkan tiga narasumber, yakni KH Amir Ma’ruf, Ustadz Khalid Sajidin, dan KH Farhan Suchail, yang secara komprehensif mengupas hakikat Ramadhan sebagai momentum perubahan hakiki, bukan sekadar agenda tahunan yang bersifat seremonial.
Dalam pemaparannya, KH Amir menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan perubahan. Ia mengingatkan bahwa tujuan puasa sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an adalah membentuk pribadi bertakwa. Takwa hakiki, tegasnya, adalah ketaatan total kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan.
Beliau menjelaskan bahwa Islam diturunkan sebagai sistem hidup yang sempurna dan menyeluruh. Karena itu, mustahil takwa terwujud jika umat masih membatasi Islam hanya pada ranah ibadah personal, sementara urusan ekonomi, politik, hukum, dan pemerintahan diserahkan kepada sistem buatan manusia.
“Ramadhan melatih kita tunduk pada aturan Allah dalam perkara makan dan minum. Maka seharusnya lebih mudah bagi kita untuk tunduk pada aturan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan,” ungkapnya.
Menurutnya, problem umat hari ini bukan karena kurangnya ritual, melainkan karena Islam belum dijadikan sebagai sistem yang mengatur kehidupan secara kaffah. beliau juga mengajak jemaah untuk menyerukan kepada siapa saja agar tidak melewatkan Ramadhan sebagai momentum menjalankan Islam secara kaffah.
Sementara Ustadz Khalid menyoroti fenomena berulangnya Ramadhan setiap tahun tanpa diiringi perubahan hakiki dalam kondisi umat. Ia menyebut telah terjadi reduksi makna Ramadhan menjadi ritual tahunan yang kehilangan ruh transformasinya. Masjid-masjid memang ramai, namun ketidakadilan, kemiskinan, dan kerusakan moral tetap merajalela.
Beliau menegaskan bahwa perbaikan moral individu saja tidak cukup jika sistem kehidupan tetap berjalan di atas fondasi sekularisme yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. “Bagaimana mungkin kita berharap keberkahan turun, jika hukum Allah justru disisihkan dalam pengelolaan negeri?” ujarnya tegas.
Menurutnya, Ramadhan seharusnya membangkitkan kesadaran kolektif bahwa Islam bukan hanya agama spiritual, tetapi juga ideologi yang memiliki seperangkat aturan untuk mengatur masyarakat dan negara. Minimnya orientasi perubahan sistemik membuat energi Ramadhan hanya bertahan sebulan, lalu umat kembali terseret dalam arus sistem yang sama.
KH Farhan melengkapi pembahasan dengan mengangkat metode Rasulullah SAW dalam melakukan perubahan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa perubahan yang dilakukan Rasulullah bukanlah perubahan tambal sulam, melainkan perubahan mendasar yang dimulai dari pembinaan akidah, pembentukan pola pikir dan pola sikap Islam, hingga tegaknya tatanan kehidupan yang diatur oleh wahyu.
Beliau mencontohkan bagaimana para sahabat menjadikan Ramadhan sebagai momentum penguatan komitmen terhadap ketaatan total kepada Allah. Spiritualitas yang mereka bangun melahirkan keberanian, keteguhan, dan kesungguhan dalam menerapkan Islam dalam seluruh dimensi kehidupan. Karena itu, Ramadhan dalam sejarah Islam kerap menjadi momentum lahirnya kemenangan dan perubahan besar.
Ia menegaskan bahwa jika umat ingin melihat perubahan nyata, maka Ramadhan harus dijadikan titik tolak kebangkitan kesadaran untuk kembali pada penerapan Islam secara menyeluruh. “Perubahan tidak cukup dengan semangat sesaat. Ia membutuhkan kesadaran ideologis dan perjuangan yang konsisten,” jelasnya.
Khidmat dan Penuh Antusias
Rangkaian acara Tabligh Akbar Tarhib Ramadhan 1447 H ditutup dengan doa dan foto bersama agar Ramadhan 1447 H benar-benar menjadi momentum perubahan hakiki bagi umat, menuju kehidupan yang diatur sepenuhnya oleh hukum Allah SWT. (***/Vidi Al Barra)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com


Komentar