
RUZKA-REPUBLIKA NETWORK — SMP Inklusi School of Human, Kota Bekasi menghadirkan suasana berbeda pada kegiatan pembelajaran akhir pekan ini melalui sebuah pelatihan bertajuk “Pemetaan Potensi Kelompok”.
Pelatihan ini diselenggarakan langsung oleh Kepala Sekolah, Epong Utami, yang selama ini dikenal aktif merancang berbagai program pengembangan karakter berbasis kolaborasi dan interaksi positif antarsiswa.
Giat bertujuan membantu siswa saling mengenal lebih dekat, memahami kekuatan diri, serta melihat potensi kelompok sebagai sebuah kesatuan yang kuat.
Di awal pelatihan, Epong menyampaikan bahwa pembekalan pelatihan untuk persiapan tim inovasi produk sangat diperlukan komunikasi yang baik karena perjalanan yang Panjang ke beberapa bulan ke depan agar siswa bisa saling menguatkan. Sehingga, siswa perlu dibekali kemampuan sosial, keterampilan berkomunikasi, serta pemahaman tentang nilai kolaborasi.
“Setiap anak memiliki kekuatan, dan kekuatan itu akan berkembang ketika mereka mampu bekerja sama dan saling menguatkan,”.
Untuk menciptakan suasana yang cair dan menyenangkan, pelatihan dimulai dengan permainan ice breaking “Samson dan Dalila”. Dalam permainan ini, siswa dibagi menjadi dua kelompok besar.
Setiap kelompok diminta menentukan salah satu dari tiga pilihan gerakan yang mewakili karakter berbeda, yaitu Samson dengan gerakan mengepal, Dalila dengan gerakan memegang pipi seperti perempuan, dan Harimau dengan gerakan mencakar.
Baca juga: Bappeda Depok Gelar Kongko Pembangunan, Jaring Aspirasi Masyarakat untuk Pembangunan Berkelanjutan
Ketiga gerakan ini bukan sekadar permainan fisik, tetapi mengandung unsur strategi yang harus dipikirkan bersama oleh anggota kelompok.
Sebelum menentukan pilihan gerakan, siswa diberikan waktu berdiskusi. Mereka harus memastikan bahwa seluruh anggota memilih gerakan yang sama agar kelompok tetap kompak. Kelompok yang berhasil mengoordinasikan pilihan dengan tepat dan memperoleh skor tertinggi dinyatakan sebagai pemenang.
Namun, kemenangan bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah bagaimana siswa belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan ide orang lain, serta menyatukan berbagai pandangan menjadi satu strategi.
Setelah permainan berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan sesi refleksi, yang menjadi bagian penting dari pelatihan ini.
Dalam sesi ini, perwakilan kelompok diminta menceritakan strategi apa yang mereka gunakan untuk memenangkan permainan, faktor apa yang membuat mereka kompak atau kurang kompak, serta bagaimana pengalaman tersebut dapat diterapkan dalam kegiatan belajar atau kehidupan sehari-hari.
Dari refleksi tersebut tampak bahwa siswa mulai memahami bahwa keberhasilan kelompok tidak hanya bergantung pada satu orang, tetapi pada kemampuan untuk menerima pendapat, berdiskusi, dan menyatukan tujuan seperti halnya menetapkan sebuah visi.
Usai ice breaking, pelatihan memasuki tahap berikutnya, yaitu aktivitas Rolling Paper. Berbeda dengan permainan sebelumnya, kegiatan ini lebih menekankan pada penguatan diri dan apresiasi antarteman.
Dalam aktivitas ini, setiap siswa mendapatkan selembar kertas yang berisi namanya. Kertas tersebut kemudian diputar ke teman-temannya. Setiap siswa diminta menuliskan kata-kata positif, kekuatan, atau hal baik tentang pemilik kertas tersebut.
Aktivitas sederhana ini memiliki makna yang sangat besar: mengajarkan siswa untuk memberikan umpan balik positif, menghargai orang lain, serta memahami bahwa hal kecil seperti apresiasi dapat membangun semangat dan kepercayaan diri seseorang.
Ketika waktu menulis selesai, kertas-kertas tersebut kembali kepada pemiliknya. Sejenak ruangan dipenuhi keheningan sebelum akhirnya pecah oleh senyum dan tawa bahagia.
Banyak siswa yang tampak terharu membaca berbagai apresiasi dari teman-temannya. Beberapa di antara mereka bahkan mengatakan tidak menyangka bahwa orang lain memandang mereka secara positif.
Hal ini menunjukkan bahwa sering kali siswa kurang menyadari kekuatan diri mereka, dan kegiatan seperti Rolling Paper membantu membuka perspektif baru tentang diri mereka sendiri.
Baca juga: Tak Masuk Kuota KIP, Puluhan Siswa Dapat Bantuan Pendidikan dari Pemkab Majalengka
Sesi refleksi kembali digelar setelah semua siswa membaca hasil tulisan teman-temannya. Dari refleksi tersebut tampak bahwa kegiatan ini memberikan efek emosional yang kuat.
Siswa merasa dihargai, didukung, dan dipahami. Mereka menyadari bahwa kata-kata positif sekecil apa pun mampu memberikan motivasi dan membangun citra diri yang lebih baik.
Pelatihan “Pemetaan Potensi Kelompok” ini tidak hanya berhasil membangun kekompakan dan komunikasi antarsiswa, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk melihat kekuatan diri dan kekuatan orang lain.
Melalui pendekatan yang menyenangkan dan reflektif, kegiatan ini menanamkan nilai-nilai penting seperti empati, kolaborasi, dan apresiasi.
SMP Inklusi School of Human kembali menunjukkan komitmennya sebagai sekolah yang tidak hanya mendidik secara akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa agar tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, menghargai perbedaan, dan mampu bekerja sama dalam setiap situasi.
(***)

