RUZKA INDONESIA โ PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad ๏ทบ kembali menjadi momentum bagi kaum Muslim untuk mengingat dan meneladani kehidupan Rasulullah ๏ทบ.
Berbagai bentuk peringatan digelar oleh umat Islam. Namun, di balik peringatan tersebut, muncul pesan penting: kecintaan kepada Rasulullah ๏ทบ semestinya tidak berhenti pada seremonial, tetapi diwujudkan melalui ittibaโโmengikuti Rasulullah ๏ทบ secara menyeluruh.
Pesan tersebut disampaikan Ustadz Farhan Suchail dalam peringatan Maulid 1448 H yang berlangsung di Masjid Merah Baiturrahman, Jalan Tole Iskandar, Depok, Selasa (25/08/2026).
Menurutnya, mengikuti Rasulullah ๏ทบ tidak seharusnya dilakukan secara parsialโhanya mengambil ajaran yang dianggap mudah, ringan, atau menyenangkan, sementara ajaran yang terasa berat justru ditinggalkan.
Dalam penjelasannya, ittibaโ memiliki makna yang lebih mendalam daripada sekadar melakukan sesuatu yang pernah dilakukan Rasulullah ๏ทบ.
Setidaknya terdapat tiga unsur yang harus diperhatikan.
Pertama, ู ุซู ูุนูู โ mitslu fiโlihi, yaitu melakukan sebagaimana Rasulullah ๏ทบ melakukannya. Ada kesamaan dalam perbuatan.
Kedua, ุนูู ูุฌูู โ โalฤ wajhihi, yakni melakukannya dengan cara atau bentuk sebagaimana Rasulullah ๏ทบ melakukannya. Artinya, bukan hanya perbuatannya yang sama, tetapi juga memperhatikan tata cara dan bentuk pelaksanaannya.
Ketiga, ู ู ุฃุฌู ูุนูู โ min ajli fiโlihi, yaitu melakukannya karena dorongan untuk mengikuti perbuatan Rasulullah ๏ทบ.
Dengan demikian, kesamaan perbuatan semata belum tentu disebut ittibaโ.
Sebagai contoh, Rasulullah ๏ทบ terbiasa minum menggunakan tangan kanan. Ketika seorang Muslim juga minum menggunakan tangan kanan karena ingin mengikuti sunnah Rasulullah ๏ทบ, maka terdapat unsur ittibaโ.
Namun, apabila seseorang melakukan hal yang sama hanya karena kebiasaan sejak kecil, tanpa kesadaran untuk mengikuti Rasulullah ๏ทบ, maka kesamaan tersebut belum tentu merupakan ittibaโ.
Dari sini, ittibaโ dapat dipahami sebagai kesadaran untuk mengikuti Rasulullah ๏ทบ, bukan sekadar meniru apa yang beliau lakukan.
Dalam pembahasan lain, Ustadz Farhan juga menyinggung adanya perbedaan penafsiran dalam persoalan ketaatan kepada pemimpin. Ada pandangan yang menekankan kewajiban menaati pemimpin berdasarkan dalil-dalil tentang ketaatan kepada penguasa. Di sisi lain, terdapat pandangan yang memberikan batasan bahwa ketaatan kepada pemimpin tidak bersifat mutlak, melainkan terikat dengan ketundukan kepada syariat.
Sementara itu, Ustadz Agung Wisnu Wardhana mengangkat persoalan kemerdekaan dalam perspektif Islam.
Menurutnya, Islam datang membawa misi pembebasan dan kemerdekaan. Karena itu, perlu dipertanyakan kembali: apakah rakyat Indonesia hari ini benar-benar telah merasakan kemerdekaan secara hakiki?
Ia kemudian mengaitkannya dengan pengelolaan sumber daya alam, kebijakan ekonomi, korupsi, utang negara, serta persoalan kebakaran hutan.
Pengelolaan sumber daya alam nasional, menurutnya, perlu dikaji kembali karena kekayaan alam yang begitu besar belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh rakyat.
Ia juga menyoroti persoalan perizinan dan pengawasan yang rentan menjadi ruang terjadinya korupsi, serta besarnya utang pemerintah yang telah mencapai lebih dari Rp10.000 triliun.
Persoalan lingkungan turut menjadi sorotan. Ia menyebut adanya puluhan ribu titik kebakaran hutan di Kalimantan yang berada di wilayah konsesi.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: siapa yang menikmati manfaat dari kekayaan alam tersebut, dan siapa yang menanggung dampaknya?
Sebab, ketika kekayaan alam dikeruk dan dieksploitasi, sementara masyarakat di sekitarnya justru menghadapi berbagai persoalan sosial dan lingkungan, maka makna kemerdekaan perlu kembali dipertanyakan.
Sedangkan Ustadz Dede Wahyudi kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan posisi umat Islam dan kewajiban dakwah.
Menurutnya, umat Islam memiliki posisi penting dalam sejarah bangsa. Namun, dalam kondisi hari ini, umat justru menghadapi berbagai persoalan dan mengalami marginalisasi dalam banyak aspek kehidupan.
Karena itu, menurutnya, dakwah menjadi salah satu jalan penting untuk melakukan perubahan sekaligus mewujudkan ittibaโ kepada Rasulullah ๏ทบ.
Namun, dakwah tidak boleh dijalankan sekadar sebagai rutinitas.
Ia menggunakan sebuah metafora yang menarik: dakwah harus seperti pengantin baru.
Menurutnya, seorang pengantin baru menjalani kehidupan dengan energi dan antusiasme yang tinggi. Hal-hal sederhana terasa istimewa. Bangun pagi, pulang ke rumah, merencanakan masa depan, membangun rumah tangga, bahkan membicarakan hal-hal kecil, semuanya terasa memiliki makna.
Begitu pula dengan dakwah.
Seorang pengemban dakwah tidak boleh kehilangan semangat hanya karena terlalu lama berhadapan dengan rutinitas, konflik, kegagalan, perbedaan pendapat, kader yang mundur, atau masyarakat yang belum menunjukkan perubahan.
Karena itu, diperlukan โalways refreshโ.
Bukan sekadar memperbarui aktivitas dakwah, tetapi juga memperbarui cara memandang masa depan dakwah.
Seorang dai tidak cukup hanya bertanya, โApa yang harus kita lakukan hari ini?โ
Lebih jauh, ia perlu bertanya: โJika dakwah ini terus kita perjuangkan, masyarakat seperti apa yang ingin kita lihat lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan?โ
Kemampuan untuk mengimajinasikan dan memvisualisasikan masa depan dakwah inilah yang menurutnya penting untuk terus dijaga.
Sebab, seseorang yang terlalu lama berada dalam sebuah perjuangan dapat kehilangan rasa terhadap perjuangan itu sendiri. Bukan karena perjuangannya kehilangan makna, tetapi karena cara memandangnya sudah tidak lagi segar.
Seperti pasangan yang telah lama menikah, romantisme dapat memudar bukan selalu karena pasangannya berubah menjadi buruk, melainkan karena ia tidak lagi melihat pasangannya dengan pandangan seperti ketika pertama kali jatuh cinta.
Demikian pula dengan dakwah.
Mungkin bukan dakwahnya yang kehilangan keindahan. Bisa jadi, cara kita memandang dakwah yang kehilangan kesegarannya.
Karena itu, refresh bukan berarti meninggalkan jalan dakwah dan mencari jalan yang baru. Bisa jadi, yang diperlukan justru adalah melihat kembali jalan yang sama dengan perspektif yang baru.
Pada akhirnya, rangkaian pesan dalam peringatan Maulid 1448 H tersebut mengarah pada satu pertanyaan penting:
Sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah ๏ทบ benar-benar diwujudkan dalam kehidupan?
Sebab ittibaโ bukan hanya mengikuti sebagian ajaran yang mudah dan menyenangkan. Ia menuntut kesadaran untuk menjadikan Rasulullah ๏ทบ sebagai teladan.
Dan dakwah bukan sekadar aktivitas yang terus diulang dari hari ke hari.
Dakwah adalah perjalanan menuju perubahan.
Karena itu, semangatnya harus terus diperbarui, pandangannya harus terus disegarkan, dan masa depan yang ingin diwujudkan harus terus dibayangkan.
Dakwah akan terasa tua ketika kita hanya mengingat apa yang telah kita lalui.
Tetapi dakwah akan selalu terasa muda ketika kita masih mampu membayangkan apa yang belum kita capai. (***)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com












