RUZKA INDONESIA — Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, terutama dalam cara guru mengajar dan siswa belajar.
Di era di mana siswa dikenal sebagai generasi digital native—generasi yang tumbuh bersama gawai, internet, dan teknologi interaktif—pendekatan pembelajaran konvensional berbasis ceramah dan teks saja sering kali kurang efektif.
Untuk menjawab tantangan ini, teknologi Augmented Reality (AR) hadir sebagai inovasi yang mampu mengubah materi yang semula sulit menjadi lebih mudah dipahami, lebih menarik, dan lebih bermakna.
Salah satu platform yang kini semakin populer di kalangan pendidik adalah Assemblr Edu, sebuah media pembelajaran berbasis 3D dan AR yang memungkinkan guru menciptakan pengalaman belajar yang lebih nyata, interaktif, dan kontekstual.
Hal ini menjadi topik utama dalam webinar bertajuk “Materi Susah Jadi Gampang: Cara Ajaib Bikin Murid Semangat Belajar Pakai Teknologi AR Assemblr Edu”.
Webinar ini dimoderatori Epong, seorang pendidik dan praktisi pembelajaran inovatif yang memiliki kepedulian tinggi terhadap transformasi pendidikan berbasis teknologi.
Dengan gaya moderasi yang hangat, reflektif, dan terstruktur, Epong berhasil memandu diskusi antara narasumber dan peserta webinar sehingga pembahasan tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif dan relevan bagi guru di lapangan.
Sesi pertama dibawakan Miokti Yessi, yang memperkenalkan Assemblr Edu sebagai platform pembelajaran berbasis 3D dan AR yang dapat membantu guru menyederhanakan konsep-konsep kompleks.
Dia menjelaskan bahwa Assemblr Edu bukan sekadar aplikasi visualisasi, melainkan ekosistem pembelajaran yang mendukung kreativitas guru dan keterlibatan aktif siswa.
Dengan fitur seperti pustaka objek 3D, mode presentasi AR, fitur kolaborasi, serta kemampuan mengunggah dan memodifikasi model sendiri, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih dinamis dan bermakna.
Miokti menekankan bahwa generasi digital native cenderung lebih mudah memahami informasi melalui visual, simulasi, dan pengalaman langsung dibandingkan dengan penjelasan abstrak di papan tulis.
Dengan Assemblr Edu, materi struktur organ manusia, bangun ruang matematika, hingga fenomena sains dapat divisualisasikan secara nyata dalam bentuk 3D dan AR.
Siswa tidak hanya membayangkan konsep, tetapi dapat melihat, memutar, memperbesar, dan berinteraksi dengan objek pembelajaran seolah-olah berada di dunia nyata. Hal inilah yang membuat pembelajaran terasa lebih mudah, menyenangkan, dan bermakna.
Pemateri kedua, Hendri, kemudian melanjutkan sesi dengan mengenalkan konsep paralaks dalam penerapan teknologi 3D dan AR menggunakan Assemblr Edu.
Paralaks adalah perubahan posisi atau sudut pandang suatu objek ketika dilihat dari perspektif yang berbeda. Konsep ini sangat penting dalam dunia visualisasi 3D dan AR karena memengaruhi bagaimana objek virtual terlihat realistis di ruang nyata.
Hendri menunjukkan bagaimana Assemblr Edu memanfaatkan prinsip paralaks untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih imersif.
Dalam demonstrasinya, ia memperlihatkan bagaimana siswa dapat mengamati model 3D dari berbagai sudut, berjalan mengelilingi objek AR, dan melihat detail yang tidak mungkin didapatkan hanya dari gambar dua dimensi di buku.
Misalnya, saat mempelajari rantai makanan, siswa dapat melihat sebuah ekosistem yang didalamnya menggambarkan rantai makanan dalam hutan dalam posisi tiga dimensi, dan mendapatkan perspektif yang lebih mendalam dibandingkan metode pembelajaran konvensional.
Sesi terakhir dibawakan Bahja, yang membahas tentang pembuatan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) berbasis AR menggunakan Assemblr Edu.
Dia menekankan bahwa LKPD di era digital tidak harus berbentuk lembar kerja cetak yang statis, tetapi dapat dirancang sebagai aktivitas interaktif yang mengintegrasikan teknologi AR.
Dengan LKPD berbasis AR, siswa tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga melakukan eksplorasi, observasi, dan eksperimen virtual.
Melalui webinar ini, semakin jelas bahwa teknologi AR seperti Assemblr Edu memiliki potensi besar dalam merevolusi pembelajaran di sekolah.
Dengan pendekatan yang tepat, AR dapat membantu guru menyederhanakan materi yang kompleks, meningkatkan motivasi belajar siswa, serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih inklusif dan menyenangkan.
Bagi generasi digital native, pembelajaran berbasis AR bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan agar mereka dapat belajar dengan cara yang sesuai dengan karakteristik dan gaya belajar mereka.
Sinergi antara moderator, pemateri, dan peserta dalam webinar ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan berbasis teknologi bukan hanya tentang alat, tetapi juga tentang perubahan mindset dalam mengajar dan belajar.
Dengan memanfaatkan Assemblr Edu secara kreatif dan pedagogis, materi yang semula terasa sulit kini dapat menjadi lebih mudah dipahami, lebih menarik, dan lebih bermakna bagi siswa. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar