RUZKA INDONESIA — Pagi itu, halaman SDN Andir 2, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat (Jabar) masih dipenuhi puing-puing bangunan. Rangka baja ringan yang bengkok dan genteng berserakan menjadi saksi ambruknya salah satu ruang sekolah yang baru berusia sekitar lima tahun.
Beruntung, peristiwa itu tidak menelan korban. Namun kekhawatiran justru membuncah setelahnya—terutama di benak para orang tua murid.
“Kalau kejadian pas jam pelajaran, saya tidak bisa membayangkan,” kata seorang wali murid, yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui di sekitar lokasi sekolah, Jumat (09/01/2026).
Kekhawatiran itu pula yang mendorong Komisi III DPRD Kabupaten Majalengka melakukan inspeksi mendadak ke sekolah tersebut.
Bangunan yang dibangun sekitar 2021 itu ambruk tanpa tanda-tanda kerusakan sebelumnya, memantik pertanyaan serius tentang mutu konstruksi fasilitas pendidikan yang dibiayai dari uang negara.
Ketua Komisi III DPRD Majalengka, Iing Misbahudin, menilai keruntuhan bangunan sekolah berusia muda itu sebagai peringatan keras. Secara teknis, bangunan seharusnya masih dalam kondisi layak.
“Ini bukan bangunan lama. Mestinya masih kuat. Tapi faktanya ambruk begitu saja, tanpa gejala sebelumnya,” ujar Iing di Gedung DPRD Majalengka, Jumat (09/01/2026).
Dari penelusuran awal, genteng yang digunakan disebut telah sesuai spesifikasi, yakni genteng Morando. Namun sorotan mengarah ke struktur rangka atap. Baja ringan pada kuda-kuda bangunan menjadi titik yang kini dipertanyakan kualitasnya.
Iing menyebut jarak antar rangka sekitar 80 sentimeter masih sesuai standar. Masalah muncul pada mutu baja ringan yang seharusnya memiliki ketebalan 0,75 milimeter.
“Di dokumen tertulis 0,75. Tapi ketika kami lihat dan pegang langsung, terlalu lentur,” katanya.
Di balik angka dan spesifikasi teknis, ada rasa cemas yang kini dirasakan guru dan murid. Sejumlah ruang belajar harus dikosongkan. Aktivitas belajar mengajar terpaksa diatur ulang, sementara siswa belajar di bawah bayang-bayang bangunan lain yang kini juga dipertanyakan keamanannya.
Seorang guru SDN Andir 2 mengatakan, sejak kejadian itu, rasa aman di sekolah tak lagi sama. “Anak-anak jadi sering bertanya, bangunan ini aman atau tidak,” ujarnya.
Temuan DPRD kian sensitif karena konsultan proyek pembangunan SDN Andir 2 juga menangani sekitar 10 sekolah lain di Majalengka. Namun, dari penelusuran awal, hanya SDN Andir 2 yang mengalami keruntuhan.
“Kalau konsultan dan tahun pembangunannya sama, kenapa hanya satu yang ambruk? Ini harus dibuka,” kata Iing.
Komisi III menilai persoalan ini menyangkut langsung penggunaan anggaran publik dan keselamatan warga sekolah. DPRD akan memanggil Dinas Pendidikan serta Inspektorat Daerah untuk membuka dokumen perencanaan, pengadaan, hingga pengawasan proyek.
“Ini uang rakyat, dan dampaknya langsung ke keselamatan anak-anak kita,” ujar Iing.
DPRD juga meminta agar puing bangunan tidak segera dibersihkan atau diperbaiki. Audit teknis dan forensik dinilai perlu dilakukan untuk memastikan penyebab ambruknya bangunan—apakah murni kesalahan teknis atau terdapat indikasi pelanggaran spesifikasi.
“Kami minta jangan disentuh dulu. Ini penting supaya jelas apa yang salah,” kata Iing.
Bagi para orang tua murid, audit itu bukan sekadar prosedur. Ini soal rasa aman menitipkan anak di sekolah. “Kami hanya ingin anak-anak belajar dengan tenang,” kata seorang wali murid lainnya.
Kekhawatiran itu kini menggantung, menunggu hasil audit. Di SDN Andir 2, bangunan yang runtuh bukan hanya menyisakan puing, tetapi juga pertanyaan besar tentang kualitas pembangunan sekolah dan tanggung jawab negara melindungi keselamatan anak-anak di ruang belajar. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyha@gmail.com


Komentar