Kolom
Beranda » Berita » Kisah Hidup Sayyid Ali Khamenei Sang Pemimpin yang Baru Pulang Kepada Kekasih-Nya

Kisah Hidup Sayyid Ali Khamenei Sang Pemimpin yang Baru Pulang Kepada Kekasih-Nya

Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Ali Khamenei (lahir 19 April 1939 di Masy-had, Iran) adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam politik dan pemikiran Islam kontemporer.

Sejak 1989, ia menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran (rahbar), memegang otoritas tertinggi atas arah ideologis negara, angkatan bersenjata, dan kebijakan strategis.

Selain perannya sebagai pemimpin religio-politik, ia dikenal sebagai intelektual, penulis, dan penerjemah yang aktif menafsirkan warisan pemikiran Islam klasik dan modern.

Ia lahir dalam keluarga ulama sederhana. Ayahnya, Sayyid Jawad Khamenei, adalah seorang alim Syiah yang membimbing pendidikan agama awalnya.

Sejak kecil ia mempelajari Al-Qur’an, bahasa Arab, dan dasar-dasar ilmu agama di lingkungan keluarga dan madrasah lokal.

96% Kota Depok Dikuasai Ekspedisi Swasta, Pos Negara Tergerus: Di Mana Strategi Negara?

Pada masa remaja ia memasuki ḥawzah ‘ilmiyyah di Mashhad, mempelajari tata bahasa Arab, logika, fikih dasar, usul al-fiqh, dan retorika.

Minatnya pada sastra klasik Persia dan puisi Arab tumbuh pada periode ini.

Pada akhir 1950-an, ia melanjutkan studi ke Qom, pusat utama studi teologi Syiah. Di sana ia mengikuti pelajaran sejumlah ulama besar, termasuk Ruhollah Khomeini, Ayatollah Hossein Borujerdi, dan Allameh Tabataba’i.

Ia mendalami fikih tingkat lanjut, usul al-fiqh, filsafat Islam, tafsir Al-Qur’an, dan teologi rasional. Interaksi dengan jaringan ulama Najaf turut memperkaya perspektifnya dalam fikih dan pemikiran politik Syiah.

Hubungannya dengan Imam Khomeini melampaui relasi akademik. Khomeini menjadi pembimbing spiritual dan politik yang membentuk visi perjuangan Khamenei sejak masa oposisi terhadap rezim Shah.

Catatan Cak AT: Ramadhan Bulan Jihad

Ia aktif menyebarkan gagasan revolusioner gurunya melalui ceramah dan jaringan aktivis religius, dan aktivitas ini membuatnya beberapa kali ditangkap dan dipenjara oleh aparat monarki Pahlavi.

Setelah Revolusi Iran 1979, kedekatan tersebut berlanjut dalam bentuk kepercayaan politik: ia diangkat ke posisi strategis seperti anggota Dewan Revolusi, wakil menteri pertahanan, dan imam Jumat Teheran.

Salah satu peristiwa paling dramatis dalam hidupnya terjadi pada 27 Juni 1981. Saat menyampaikan ceramah di Masjid Abuzar, Teheran, sebuah bom yang disembunyikan dalam alat perekam suara meledak di dekat podium.

Ledakan itu menyebabkan luka serius dan kerusakan permanen pada tangan kanannya. Serangan tersebut ditengarai dilakukan oleh anasir Mujahidin-e Khalq—kelompok politik kiri bersenjata yang menentang Republik Islam Iran.

Kelangsungan hidupnya setelah serangan ini meningkatkan reputasinya sebagai figur yang tabah dan penuh pengorbanan terhadap revolusi.

Ada Dua Tujuan Strategis Iran Lakukan Serangan Balik, Punitive Retaliation dan Deterrence

Beberapa bulan kemudian, pada tahun 1981, ia terpilih sebagai Presiden Iran dan menjabat hingga 1989. Masa kepresidenannya berlangsung di tengah perang Iran–Irak dan proses konsolidasi negara pascarevolusi.

Ketika Imam Khomeini wafat pada 3 Juni 1989, Republik Islam Iran menghadapi momen transisi kritis.

Sistem politik Iran didasarkan pada doktrin wilāyat al-faqīh — kepemimpinan ulama sebagai penjaga agama dan negara.

Tanggung jawab memilih pemimpin tertinggi berada pada Majelis Ahli Kepemimpinan (Assembly of Experts).

Pada 4 Juni 1989, sehari setelah wafatnya Khomeini, Majelis Ahli mengadakan sidang darurat. Pada saat itu Khamenei menjabat sebagai presiden dan dikenal sebagai tokoh revolusi yang dekat dengan Khomeini.

Awalnya ia sendiri menyatakan keraguan karena belum mencapai tingkat marja‘iyyah tradisional (otoritas hukum tertinggi dalam hierarki Syiah).

Namun, para anggota majelis menilai bahwa legitimasi revolusioner, pengalaman politik, dan kedekatannya dengan visi Khomeini menjadikannya kandidat paling tepat.

Majelis Ahli kemudian memilihnya sebagai Pemimpin Tertinggi sementara, dan setelah amandemen konstitusi tahun 1989 yang memperluas kriteria kepemimpinan dari marja‘iyyah ke kapasitas kepemimpinan dan keilmuan agama, posisinya diteguhkan secara permanen.

Sejak itu, Khamenei berperan sebagai walī al-faqīh, otoritas tertinggi dalam sistem politik Iran, dengan wewenang atas kebijakan strategis, militer, dan arah ideologis negara.

Di luar peran politik, ia memiliki minat mendalam pada kebudayaan, sastra, dan pemikiran Islam.

Sebagai pemikir Islam yang melampaui batas-batas mazhab, ia menerjemahkan karya-karya pemikir Muslim modern Sunni seperti Sayyid Qutb, dan dengan itu membantu memperkenalkan wacana kebangkitan Islam.

Ia juga menulis dan menyampaikan kajian tentang Muhammad Iqbal, menggambarkan penyair-filsuf tersebut sebagai arsitek kebangkitan spiritual umat.

Dalam pembacaannya, konsep khudi (ego/diri) menjadi fondasi pembaruan individu dan masyarakat, sementara tauhid dipahami sebagai energi moral bagi revitalisasi peradaban.

Di antara karya religius dan intelektualnya yang penting adalah طرح کلی اندیشه اسلامی در قرآن (Outline of Islamic Thought in the Qur’an), yang membahas tauhid sebagai fondasi masyarakat, keadilan sosial, dan tanggung jawab umat. Karya lain, دو امام مجاهد (Two Militant Imams), menelaah Imam Hasan dan Imam Husain sebagai teladan perjuangan di bidang akhlak dan spiritualitas.

Selain itu, kumpulan khutbah dan ceramah Ramadhan yang disampaikannya membahas tafsir tematik Al-Qur’an, etika spiritual, dan penyucian jiwa.

Pemikiran religius Khamenei menekankan tauhid sebagai prinsip peradaban, kesatuan spiritual dan keadilan sosial, tanggung jawab historis umat, serta pembentukan manusia beriman yang aktif secara sosial.

Pendekatannya memadukan tradisi teologi Syiah, spiritualitas Islam, dan kesadaran sosial-politik modern.

Dengan latar pendidikan ḥawzah yang mendalam, kedekatan intelektual dan spiritual dengan Imam Khomeini, pengalaman revolusioner yang keras, serta perhatian pada pemikir seperti Muhammad Iqbal, Ali Khamenei memadukan kepemimpinan religio-politik dengan refleksi intelektual yang bertujuan mengartikulasikan kebangkitan umat Islam melalui sintesis spiritualitas, kesadaran diri, dan tanggung jawab historis.

Inna Lil-Lahi wa inna ilay-Hi raji’un…(***)

Disusun oleh: Haidar Bagir/Pengusaha, Filantropis, Penulis, Dosen, dan Presiden Direktur Mizan Group

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom