Kolom
Beranda » Berita » Ada Dua Tujuan Strategis Iran Lakukan Serangan Balik, Punitive Retaliation dan Deterrence

Ada Dua Tujuan Strategis Iran Lakukan Serangan Balik, Punitive Retaliation dan Deterrence

Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS), Dr. Selamat Ginting. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Jika serangan awal Israel–Amerika Serikat (AS) disebut sebagai aksi pre-emptive untuk melumpuhkan infrastruktur militer dan nuklir Iran, maka respons Teheran adalah pesan yang jauh lebih keras: tidak ada lagi perang bayangan. Inilah konfrontasi langsung antarnegara.

Pertanyaannya bukan lagi siapa memulai, melainkan seberapa jauh spiral balas-membalas ini akan bergerak?

Iran tidak hanya membalas Israel, tetapi juga menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Teluk seperti Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Pilihan target ini tidak acak.

Ada dua tujuan strategis:

Pertama, hukuman langsung (punitive retaliation). Iran ingin menunjukkan bahwa serangan terhadap Teheran tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi. Dengan menembakkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS, Iran berusaha memulihkan kredibilitas militernya di hadapan publik domestik dan sekutu regional.

Catatan Cak AT: 147 Lawan 1

Kedua, membangun kembali daya tangkal (deterrence). Selama ini konflik Iran–Israel berlangsung dalam bentuk perang proksi dan operasi rahasia. Serangan langsung Israel–AS ke wilayah Iran meruntuhkan “aturan tak tertulis” tersebut. Jika Iran tidak membalas secara signifikan, maka ia akan dipersepsikan lemah. Hal itu berbahaya bagi rezim maupun posisi geopolitiknya.

Dilema Kredibilitas

Bagi Israel, serangan balasan Iran bukan hanya soal kerusakan fisik. Sistem pertahanan udara seperti Iron Dome dan sistem berlapis lainnya memang mampu mengintersepsi banyak proyektil. Pesan strategisnya jelas: Israel kini menghadapi ancaman rudal langsung dari negara besar, bukan lagi sekadar kelompok non-negara.

Dalam jangka pendek, Israel mungkin tetap unggul secara teknologi dan intelijen. Namun dalam jangka menengah, perang terbuka dengan Iran akan memaksa Israel menghadapi kemungkinan serangan simultan dari berbagai arah. Termasuk potensi keterlibatan aktor-aktor pro-Iran di kawasan.

Serangan ke pangkalan AS di Teluk menempatkan Washington pada posisi sulit. Jika membalas secara lebih keras, eskalasi bisa berubah menjadi perang regional. Jika tidak, kredibilitasnya sebagai pelindung sekutu akan dipertanyakan.

Catatan Cak AT: Halal Maunya Trump

Di sinilah dilema klasik kebijakan luar negeri Amerika muncul: antara menjaga stabilitas global atau terjebak dalam perang baru di Timur Tengah. Keterlibatan militer langsung terhadap Iran berisiko memicu konflik yang jauh lebih luas, termasuk gangguan jalur energi global.

Ancaman Regional

Negara-negara Teluk berada dalam posisi paling rentan. Mereka menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, tetapi juga bertetangga secara geografis dan ekonomi dengan Iran. Serangan rudal yang mengguncang kota-kota di Teluk menunjukkan bahwa konflik ini dapat dengan cepat melampaui batas bilateral dan berubah menjadi ancaman regional.

Dampaknya tidak hanya keamanan, tetapi juga ekonomi. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz berpotensi mengganggu distribusi energi global. Kenaikan harga minyak dan volatilitas pasar adalah konsekuensi langsung yang sudah mulai terasa.

Semua pihak masih tampak berhitung. Serangan Iran, meski keras, masih berada dalam pola terukur—menunjukkan kemampuan tanpa langsung melumpuhkan lawan secara total. Israel dan AS pun tampaknya berhati-hati untuk tidak melampaui titik yang akan memicu mobilisasi penuh.

Haram Mengirimkan Tentara di Bawah Komando Negara Kafir Penjajah

Namun risiko salah hitung (miscalculation) sangat tinggi. Satu serangan yang menimbulkan korban besar di pihak militer AS atau sipil Israel bisa memicu respons yang tak lagi terkendali.

Konflik ini menunjukkan satu hal: arsitektur keamanan Timur Tengah semakin rapuh. Ketika jalur diplomasi macet dan kepercayaan runtuh, bahasa yang dipakai adalah rudal.

Ironisnya, semua pihak memahami bahwa perang terbuka akan membawa kerugian besar. Namun masing-masing juga merasa tidak bisa mundur tanpa kehilangan muka dan posisi tawar.

Dunia kini menyaksikan bukan sekadar balas-membalas serangan, melainkan ujian atas apakah rasionalitas geopolitik masih bisa mengalahkan dorongan eskalasi. Jika tidak, Timur Tengah akan memasuki fase paling berbahaya sejak konflik-konflik besar sebelumnya—dan dampaknya tidak akan berhenti di kawasan, tetapi mengguncang tatanan global. (***)

Penulis: Dr. Selamat Ginting/Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom