RUZKA INDONESIA – Akses masyarakat terhadap pangan sehat masih terkendala harga, keterbatasan pilihan bahan makanan, dan minimnya informasi gizi. Kondisi ini membuat banyak keluarga Indonesia menentukan konsumsi berdasarkan kemampuan ekonomi, bukan kebutuhan gizi.
Hal itu menjadi sorotan dalam proyek MyINDAH Diet, kolaborasi Indonesia-Australia yang dipimpin Associate Professor University of Queensland, Dr. Risti Permani.
“Pilihan makanan yang dibuat masyarakat setiap hari tidak hanya ditentukan oleh preferensi individu, tetapi juga dipengaruhi oleh harga pangan, akses informasi, kondisi lingkungan, dan kebijakan publik,” ujar Risti, Rabu (2/7/2026).
Pemerintah telah menjalankan program prioritas pangan dan gizi, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berpotensi menyerap anggaran ratusan triliun rupiah pada 2026. Namun studi Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dalam proyek MyINDAH Diet menyebut keberhasilan tidak hanya ditentukan dari sisi produksi.
Dari sisi konsumen, akses pola makan sehat dipengaruhi harga pangan, keberagaman pilihan, kualitas distribusi, dan informasi gizi. CIPS menilai kebijakan pangan dan gizi masih berjalan sektoral. Kementerian dan lembaga menggunakan indikator berbeda sehingga arah kebijakan belum sepenuhnya sama, yaitu meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan sehat.
“Fokus kebijakan masih banyak diarahkan pada peningkatan produksi komoditas tertentu. Padahal perbaikan kualitas konsumsi juga butuh diversifikasi pangan, inovasi pertanian, dan penguatan infrastruktur pascapanen,” kata Peneliti Senior CIPS, Jimmy Daniel Berlianto.
Dorong Pendekatan Systems Thinking
Konsorsium MyINDAH Diet menilai persoalan pangan dan gizi perlu diselesaikan dengan pendekatan systems thinking. Pendekatan ini mengaitkan produksi, distribusi, keterjangkauan, hingga konsumsi dalam satu kerangka sistem.
CIPS merekomendasikan penguatan koordinasi lintas sektor melalui indikator keberhasilan bersama. Salah satunya Biaya Makan Sehat (Cost of Healthy Diet) untuk mengukur keterjangkauan pangan bergizi.
“Ketika setiap sektor bekerja dengan target berbeda, dampak kebijakan jadi kurang optimal. Persoalan pangan dan gizi butuh desain dan implementasi kebijakan yang selaras,” ujar Jimmy.
Luncurkan Aplikasi MyINDAH Diet
Sebagai bagian dari proyek yang diinisiasi KONEKSI bersama sembilan organisasi multidisipliner RI-Australia, konsorsium juga meluncurkan aplikasi MyINDAH Diet. Aplikasi ini menyediakan informasi gizi, pilihan menu sehat, dan data pangan yang mudah dipahami sesuai kebutuhan sehari-hari.
“Dengan tata kelola yang lebih terintegrasi, kebijakan dapat dirancang lebih efektif menjawab kebutuhan masyarakat di berbagai daerah,” pungkas Jimmy. *** Editor: Yoyok Bepe, Email: yoyokbp@gmail.com






Komentar