RUZKA INDONESIA โ Hasil Survei Pusat Polling Indonesia (Puspoll Indonesia) yang dilaksanakan Mei 2026 menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tampak sangat kontras. Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo 64,8 persen, sementara publik tidak puas (51,1 persen) terhadap kinerja Wakil Presiden Gibran.
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Ea Unggul Jakarta M Jamiluddin Ritonga mengomentari hasil tersebut yang memperlihatkan publik menilai kinerja Presiden Prabowo ke arah positif, sementara kinerja Wakil Presiden Gibran dinilai ke arah negatif.
Menurut Jamil, hasil kontradiksi itu tampaknya mencerminkan penilaian masyarakat, termasuk di media sosial, terhadap kinerja Prabowo dan Gibran. Prabowo dinilai terus bekerja untuk memajukan Indonesia, sementara Gibran sering dipertanyakan apa yang dikerjakannya.
“Jadi, hasil temuan Puspoll Indonesia itu tampaknya mencerminkan realitas di masyatakat, termasuk di medsos. Hasil tersebut tentunya menjadi indikasi, kalau survei dilakukan dengan taat azas, hasilnya akan mencerminkan realitas yang diteliti. Temuan seperti itu tentunya layak digunakan untuk menjadi bahan evaluasi bagi Prabowo dan Gibran, terutama terkait kinerjanya sebagai Presiden dan Wakil Presiden,” ungkap Jamil kepada RUZKA INDONESIA, Ahad (28/06/2026).
Prabowo meskipun dinilai masih positif, terang Jamil, namun dibandingkan hasil survei sebelumnya justru menunjukkan penurunan. Penurunan kinerja itu berpeluang semakin besar bila Prabowo abai terhadap suara rakyat.
“Prabowo perlu lebih banyak mendengarkan suara rakyat, bukan bisikan ring satunya. Dengan begitu, kebijakan yang diambil benar-benar berdasarkan kehendak rakyat. Hal ini akan dapat mendongkrak kinerja Prabowo di mata publik,” tandas pengamat yang juga mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta ini.
Di sisi lain, bagi Gibran, hasil survei yang sebelumnya masih mengarah positif, sekarang justru lebih kuat ke negatif. Untuk mengembalikan ke positif tentulah tidak mudah.
“Gibran perlu mengubah kerjanya dari sangat teknis ke yang lebih strategis. Tugas-tugas kunjungan kerja yang hanya membagi buku, susu, atau sepeda sebaiknya ditanggalkan. Sebab, publik menilai tugas wakil presiden tidak seperti itu,” jelas Jamil.
Menurutnya, publik berharap dari Wakil Presiden keluar ide-ide inovatif untuk mensejahterakan rakyat. Ide-ide itu kemudian diimplementasikan ke berbagai kebijakan yang pro-rakyat.
“Wakil Presiden harus mengambil lebih banyak porsi pekerjaan yang strategis, bukan teknis. Kalau hal itu dapat dilakukan Wapres secara konsisten, ada kemungkinan kinerjanya yang negatif bisa secara perlahan beralih ke positif,” pungkas Jamil. (***/Jie)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com






Komentar