RUZKA INDONESIA โ Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menilai tema Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026, โLansia Sehat dan Mandiri untuk Indonesia yang Berdayaโ, harus menjadi momentum untuk mempercepat berbagai kebijakan yang lebih berpihak kepada para lanjut usia. Menurutnya, meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia harus direspons bukan sebagai beban pembangunan, melainkan sebagai peluang untuk menghadirkan masyarakat yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkeadaban.
โLansia yang sehat, mandiri, produktif, dan bahagia adalah aset bangsa. Pengalaman, kebijaksanaan, serta keteladanan mereka merupakan modal sosial yang sangat berharga. Karena itu, negara harus semakin serius menyiapkan berbagai kebijakan agar para lansia dapat menjalani masa tua secara sehat, aktif, aman, dan bermartabat,โ ujar Fahira Idris kepada RUZKA INDONESIA di Jakarta, Jumat (29/05/2026).
Menurut Fahira Idris, kualitas sebuah bangsa tidak hanya diukur dari bagaimana negara membangun generasi mudanya, tetapi juga dari bagaimana negara memuliakan dan melindungi para lansianya. Oleh karena itu, Indonesia perlu mulai menyiapkan berbagai kebijakan yang lebih komprehensif seiring meningkatnya angka harapan hidup dan jumlah penduduk lanjut usia.
Untuk itu, Fahira Idris mengusulkan delapan kebijakan prioritas yang perlu didorong pemerintah. Pertama, memperkuat layanan kesehatan preventif dan promotif khusus lansia, karena layanan kesehatan lansia tidak boleh hanya berfokus pada pengobatan ketika sakit. Pemerintah perlu memperluas skrining kesehatan rutin, layanan geriatri, rehabilitasi, kesehatan mental, serta program pencegahan penyakit degeneratif hingga tingkat puskesmas dan posyandu lansia.
Kedua, memperluas jaminan perlindungan sosial bagi lansia rentan mengingat masih banyak lansia yang menghadapi kerentanan ekonomi akibat tidak memiliki pensiun maupun dukungan keluarga yang memadai. Karena itu, berbagai program bantuan sosial dan perlindungan sosial perlu semakin tepat sasaran dan berkelanjutan.
Ketiga, menghadirkan program lansia produktif dan berdaya, karena tidak semua lansia ingin berhenti berkarya. Pemerintah perlu menyediakan pelatihan, pendampingan usaha, akses pemasaran, hingga program kerja paruh waktu yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan lansia.
โTema tahun ini menegaskan bahwa menjadi lansia bukan berarti berhenti berkontribusi. Banyak lansia yang masih memiliki semangat, keterampilan, dan pengalaman yang sangat dibutuhkan masyarakat,โ kata Fahira Idris.
Keempat, mempercepat transformasi ruang publik yang ramah lansia. Fahira Idris menilai trotoar, taman kota, halte, stasiun, fasilitas kesehatan, pusat pelayanan publik, hingga kawasan permukiman harus dirancang lebih ramah terhadap kebutuhan lansia, termasuk aspek aksesibilitas, keamanan, dan kenyamanan.
Kelima, memperkuat literasi digital bagi lansia di mana transformasi digital yang berlangsung cepat, tidak boleh membuat lansia semakin terisolasi. Program literasi digital perlu diperluas agar lansia dapat mengakses layanan publik, layanan kesehatan, informasi, dan komunikasi secara lebih mudah dan aman.
Keenam, memperkuat dukungan bagi keluarga yang merawat lansia sekaligus mengingatkan bahwa keluarga tetap menjadi sistem pendukung utama bagi para lansia. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengembangkan berbagai program edukasi, pendampingan, dan layanan dukungan bagi keluarga yang merawat anggota keluarganya yang lanjut usia.
Ketujuh, membangun kebijakan daerah yang ramah lansia. Khusus kepada pemerintah daerah, Fahira Idris mendorong lahirnya program โKota dan Kabupaten Ramah Lansiaโ yang diwujudkan melalui penyediaan layanan kesehatan keliling, posyandu lansia yang aktif, ruang publik ramah lansia, layanan administrasi yang mudah diakses, hingga integrasi data lansia untuk memastikan pelayanan yang lebih tepat sasaran.
Kedelapan, menyusun peta jalan nasional menghadapi masyarakat menua (ageing society). Indonesia perlu memiliki strategi jangka panjang menghadapi perubahan struktur demografi agar berbagai sektor seperti kesehatan, ketenagakerjaan, perumahan, transportasi, hingga perlindunga sosial siap menghadapi peningkatan jumlah penduduk lansia di masa depan.
Fahira Idris mengungkapkan bahwa membangun Indonesia yang berdaya tidak hanya berarti menyiapkan generasi muda yang unggul, tetapi juga memastikan para lansia dapat menikmati masa tua yang sehat, mandiri, produktif, dan bermartabat.
โSetiap dari kita berharap dapat menua dengan sehat, bahagia, dan tetap memiliki makna dalam kehidupan. Karena itu, memuliakan lansia sesungguhnya adalah investasi kemanusiaan yang suatu saat akan kembali kepada kita semua,โ pungkas Fahira Idris. (***/Jie)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com




Komentar