RUZKA INDONESIA — Kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 menyisakan duka sekaligus pekerjaan besar, yakni memastikan setiap korban dapat teridentifikasi
secara tepat.
Di tengah situasi ini, proses identifikasi menjadi hal yang krusial. Untuk itu, di ruang forensik RS Bhayangkara Tk.1 R. Said Sukanto, upaya itu dijalankan dengan ketelitian tinggi, melibatkan Tim Odontologi Forensik dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia (UI).
Keterlibatan Tim Odontologi Forensik UI bukan sekadar respons darurat, melainkan kerja ilmiah yang menuntut presisi tinggi.
Tim yang terdiri atas para ahli, residen, dan mahasiswa ini bekerja bersama dengan tim Disaster Victim Identification (DVI) dan berbagai unsur kepolisian untuk melakukan pemeriksaan jenazah hingga pencocokan data.
Dalam situasi bencana massal, ketika kondisi korban sulit dikenali, gigi menjadi salah satu kunci yang paling diandalkan.
Menurut Ahli Odontologi Forensik FKG UI, drg. Nurtami Soedarsono, PhD, Sp.OF(K), pemeriksaan gigi termasuk dalam tiga metode identifikasi primer yang diakui secara internasional, bersama sidik jari dan DNA.
Ketiganya memiliki akurasi tinggi, namun gigi memiliki keunggulan tersendiri, yaitu daya tahannya terhadap kondisi ekstrem.
โGigi tetap bisa memberikan informasi bahkan ketika bagian tubuh lain mengalami kerusakan berat,โ jelas Nurtami dalam keterangan yang diterima, Kamis (30/04/2026).
Dalam kasus ini, seluruh jenazah yang diperiksa berhasil teridentifikasi melalui kombinasi data primer sidik jari dan data medis.
Detail kecil seperti keberadaan gigi tiruan akrilik pada salah satu korban juga turut memperkuat keakuratan identifikasiโmenunjukkan bagaimana setiap informasi, sekecil apa pun, memiliki arti besar.
Namun, di balik proses itu, keterbatasan data ante-mortem, khususnya rekam medis gigi menjadi tantangan besar. Tidak semua orang memiliki catatan perawatan gigi yang terdokumentasi dengan baik.
Akibatnya, proses identifikasi sering kali bergantung pada ingatan keluarga atau data tambahan yang tidak selalu lengkap.
Pencatatan Data Ante Mortem Dental Upaya pencatatan data ante mortem dental telah dilakukan sivitas akademika UI saat menjalankan program pengabdian masyarakat bersama PT Kereta Api pada Agustus 2024.
Program Studi Dokter Gigi Spesialis Odontologi Forensik FKG UI mendokumentasikan data gigi, para masinis, asisten masinis, dan crew KAI dari DAOP 1 Jakarta.
Dekan FKG UI, Prof. drg. Lisa Rinanda Amir, Ph.D., PBO, mengatakan bahwa langkah ini adalah bentuk kontribusi keilmuan UI kepada masyarakat. FKG UI berkomitmen untuk terus memperluas edukasi dan kesadaran publik mengenai pentingnya pencatatan rekam medis gigi secara rutin, tidak hanya untuk kepentingan kesehatan, tetapi juga sebagai bagian dari kesiapsiagaan dalam situasi darurat dan kebutuhan forensik di masa mendatang.
โKeterlibatan Tim Odontologi Forensik FKG UI dalam identifikasi korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur merupakan bentuk nyata pengabdian keilmuan kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk terus mendukung upaya identifikasi korban secara profesional, berbasis ilmu pengetahuan, serta menjunjung tinggi etika dan kemanusiaan,โ ungkap Prof. Lisa.
Komitmen ini menegaskan bahwa peran Odontologi Forensik tidak berhenti pada respons saat bencana, tetapi juga mencakup upaya preventif melalui penguatan sistem data dan literasi publik.
Peristiwa kecelakaan di Bekasi Timur menjadi pengingat bahwa kesiapan data ante mortem, termasuk rekam medis gigi, adalah bagian dari perlindungan kemanusiaan.
Melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, pemangku kepentingan, dan masyarakat, proses identifikasi di masa mendatang diharapkan dapat berlangsung lebih cepat dan akurat. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com




















Komentar