RUZKA INDONESIA — Sebagian publik di media sosial tengah ramai membahas temuan investigasi lanjutan dari kasus dugaan keracunan menu makan bergizi gratis (MBG) yang sempat dialami siswa di Pemalang, Jawa Tengah (Jateng).
Sebelumnya diketahui, siswa TK Pertiwi Kartika Sari di Kecamatan Ulujami, Pemalang dilaporkan mengalami gejala mual dan muntah usai mengonsumsi MBG di sekolahnya.
Buntut dari kasus ini, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pemalang Ulujami Bumirejo, telah dihentikan operasionalnya, sejak 12 Maret 2026 lalu.
โPenghentian sementara tersebut dilakukan selama proses investigasi guna memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut.
Kini, Badan Gizi Nasional (BGN) melalui akun Instagram resminya @sidakbgn, pada Selasa, 31 Maret 2026, membagikan hasil temuan investigasi atas kasus dugaan keracunan yang dialami siswa TK di Pemalang tersebut.
“Temuan investigasi terkait kejadian gangguan pencernaan siswa yang mendapat MBG dari SPPG Pemalang Ulujami Bumirejo,” demikian tertulis dalam postingan tersebut.
Lantas, apa saja poin-poin penting dari investigasi yang dilakukan oleh Satgas MBG terkait kasus tersebut? Begini katanya.
Soal Gejala Mual dan Muntah
Dalam insiden itu, BGN menyatakan siswa terdampak belum mengalami infeksi, namun indikasi kuat mengarah ke infeksi karena siswa terdampak mengalami demam.
“Artinya bakteri penyebab infeksi telah masuk ke dalam tubuh, namun belum berhasil berkembang biak dalam jumlah cukup sehingga terjadi infeksi di saluran pencernaan,” bebernya.
“Untuk itu, yang diobati hanya keluhan nyeri lambung dan muntah, serta mengganti cairan tubuh yang hilang akibat banyak muntah,” sambung BGN.
Menu MBG yang Bermasalah
Dalam penuturan BGN, terdapat menu berupa sandwich, telur ceplok, selada dan timun, es kuwut, serta keju slice.
Di antara menu-menu yang dibagikan SPPG di Pemalang tersebut, es kuwut dinilai menjadi penyebab utama kasus dugaan keracunan.
“Berdasarkan gejala siswa terdampak juga menunjukkan penyebab utamanya berasal dari air yang digunakan untuk menyiapkan es kuwut yang berbahan sirup marjan, melon, selasih, serutan buah melon, dan air,” papar BGN.
“Serta waktu menyerut buah melon terlalu dini sehingga jangka waktu pengolahan dan konsumsi terlalu jauh,” tambahnya.
Distribusi SPPG Dihentikan
Sebagai tindak lanjut kejadian tersebut, BGN telah menerbitkan surat pemberhentian distribusi sementara dari SPPG terkait ke pihak sekolah terdampak sejak 16 Maret 2026.
Selama pemberhentian operasional sementara, SPPG terkait juga diimbau wajib melakukan renovasi dan perbaikan.
Hingga berita ini terbit, belum ada keterangan lanjutan dari pihak BGN maupun pihak korban atas dugaan keracunan MBG di Pemalang tersebut. (***)
Jurnalis: Iwan Buche
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiasyah69@gmail.com


Komentar