RUZKA INDONESIA — Pernah merasa lelah secara batin? Bukan lelah karena pekerjaan, melainkan lelah karena hati yang terus bertanya-tanya: “Siapa sebenarnya yang mengatur hidup ini?” atau “Kepada siapa saya harus bersandar saat semua orang pergi?” Dulu, mungkin kita pernah terjebak dalam labirin logika yang rumit.
Mencoba memahami konsep tuhan yang katanya ada tiga, atau melihat orang-orang yang menggantungkan nasib pada pohon besar, jimat, dewa-dewa, hingga kekuatan bintang.
Rasanya seperti berjalan di dalam kabut—serba samar, penuh keraguan, dan tidak pernah benar-benar merasa “sampai”.
Namun, ketika hidayah itu menyentuh hati dan kita menyadari keesaan Allah, seketika itu juga pencarian panjang tersebut selesai. Rasanya seperti pulang ke rumah setelah perjalanan ribuan kilometer yang melelahkan.
Merdeka dari “Tuan-Tuan” yang Lemah
Salah satu kenikmatan terbesar dalam bertauhid adalah kemerdekaan batin. Bayangkan betapa sesaknya jika kita harus menyembah banyak hal.
Takut pada kekuatan ini, harus memberi sesajen pada itu, atau menggantungkan harapan pada manusia yang besok lusa bisa saja mengecewakan kita.
Saat kita berkata Laa ilaha illallah, kita sebenarnya sedang memproklamirkan kebebasan. Kita tidak lagi diperbudak oleh makhluk yang sama-sama lemah. Kita hanya punya satu “Majikan”, yaitu Allah Yang Maha Perkasa namun Maha Penyayang.
Dalam Al-Qur’an, Allah memberikan perumpamaan yang sangat logis:
”Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf: 39).
Logikanya sederhana: Lebih enak mengikuti satu pemimpin yang adil dan sayang, daripada harus patuh pada banyak pemimpin yang saling bertentangan. Itulah indahnya Tauhid. Fokus kita menjadi satu, tujuan kita menjadi jelas.
Selesainya Keraguan, Munculnya Ketenangan
Ada kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata saat kita bersujud dan tahu persis kepada siapa kita menyembah.
Tidak ada lagi pertanyaan “Apakah Tuhan saya sedang tidur?” atau “Apakah Tuhan saya butuh bantuan?”
Dalam Islam, Allah memperkenalkan diri-Nya dengan sangat terang benderang: Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia. (QS. Al-Ikhlas).
Kejelasan ini membawa ketenangan yang luar biasa. Kita tidak perlu lagi meraba-raba. Saat musibah datang, kita tahu itu atas izin-Nya. Saat nikmat menyapa, kita tahu itu dari kemurahan-Nya.
Hidup menjadi tidak sesak lagi karena kita punya sandaran yang “tidak mungkin ambruk”.
Menikmati “Manisnya” Iman
Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang Halaawatul Iman atau Manisnya Iman. Iman itu bukan cuma teori, tapi ada rasanya. Dan rasa itu sangat manis, lebih manis dari pujian manusia atau tumpukan harta.
Kenikmatan ini muncul ketika:
- Kita merasa dicintai oleh Sang Pencipta alam semesta.
- Kita merasa aman karena yakin tidak ada satu helai daun pun jatuh tanpa seizin-Nya.
- Kita merasa cukup dengan Allah sebagai penolong.
Inilah puncak kebahagiaan seorang manusia. Menyadari bahwa kita adalah hamba dari Tuhan yang Maha Rahman (Maha Pengasih). Perasaan dicintai oleh Allah adalah obat bagi segala luka hati dan jawaban atas segala kesepian.
Mari Menjaga Cahaya Ini
Jika hari ini Anda merasa bahagia karena telah memeluk Islam dan mengenal Tauhid, peluklah erat keyakinan itu. Jangan biarkan keraguan kecil atau godaan dunia meredupkannya. Bacalah lagi ayat-ayat-Nya, ajak hati Anda bicara dalam doa-doa di sepertiga malam.
Tauhid adalah hadiah terindah yang Allah berikan kepada kita. Ia adalah kompas yang membuat kita tidak akan pernah tersesat lagi di belantara dunia yang membingungkan ini.
Alhamdulillah atas nikmat Islam. Alhamdulillah atas nikmat Tauhid. (***)
Penulis: Bobby Sumantri/Pemimpin Perusahaan Ruzka Indonesia


Komentar